Waspada! Kompor Rakyat Sedang Berjalan Menebar Provokasi

Eskalasi tekanan terhadap gerakan Tolak Reklamasi sedang meninggi, tekanan dari segala penjuru sedang memojokkan gerakan ini. Segala cara dilakukan untuk membuat seolah – olah gerakan ini adalah gerakan anti kemajuan, gerakan makar, dan fitnah – fitnah sejenis yang dihembuskan untuk membuat gerakan terlihat buruk.

Saya menduga ada sejenis kompor rakyat yang sedang menebar fitnah. Kenapa saya sebut kompor rakyat, karena memang tugasnya untuk membuat situasi memanas. Cuaca yang sejuk dan damai, ketika dimasuki kompor akan berubah menjadi panas. Lalu siapa kompor rakyat ini? Mereka adalah kelompok bayaran yang memang ahli dalam memecah belah sebuah gerakan. Mari kita telaah satu per satu…

Pertama, penjeratan dengan pasal karet.

Wayan Gendo dijerat dengan pasal karet yang ada di UU ITE, yang katanya karena telah melecehkan marga Batak. Padahal kalau kita lihat, secara aspek hukum, twit yang ditulis Gendo bukanlah bermaksud untuk melecehkan, tapi twit yang berbau satir dan tidak spesifik menyebutkan pihak tertentu. Itu lumrah dalam dunia perpolitikan di Indonesia.

Dalam pandangan saya aspek hukum yang menyatakan harus ada niat jahat dari pelaku tidak terpenuhi. Bahasa satir itu bahasa humor yang menyindir, bisa berupa plesetan bisa juga berupa bahasa yang lain. Satir itu menyindir, kalau tidak mau disindir, jangan berpolitik. Gitu aja kok repot, pakai acara lapor polisi, pakai pasal karet pula. Sangat terlihat ketidak dewasaan pelapor untuk masuk dunia politik, terlihat seperti anak alay tapi memaksakan diri untuk berpolitik.

I Gusti Putu Darma Wijaya juga dijerat dengan pasal karet karena tudingan menghina Lambang Negara, saya sudah jelaskan juga sebelumnya kalau aspek hukum yang menyatakan harus ada niat jahat dari pelaku juga tidak terpenuhi.

Yang aneh dari penangkapan I Gusti Putu Darma Wijaya, adalah dilakukan pada saat hari raya Galungan. Kenapa harus hari raya Galungan, Bukan hari lain? apakah I Gusti Putu Darma Wijaya punya niat untuk melarikan diri untuk menghindari penangkapan? Apakah ini adalah kejahatan terorisme?. Dalam pandangan saya, pemilihan hari Galungan untuk melakukan penangkapan memiliki maksud tertentu, apa maksudnya, silahkan di terjemahkan masing – masing.

Kedua, Cerita Investigasi Fiktif dari Akun Bayangan

 Dimulai dari chirpstory yang berjudul “Dua Sahabat Dibalik Konflik Teluk Benoa” yang mengisahkan seolah – olah ada konspirasi terselubung dibalik gerakan Bali Tolak Reklamasi. Cerita investigasi fiktif ini dihembuskan oleh akun @forum_medsos di media twitter.

Link untuk chirpstory masih bisa disimak disini: http://chirpstory.com/li/325028

Akun – akun bayangan di forum – forum facebook juga bermunculan dengan berbagai isu yang mendiskreditkan gerakan ini, termasuk isu adanya tunggangan dari orang – orang yang dulu berebut proyek yang sekarang malah ikut tergabung dalam gerakan tolak reklamasi ini, bahkan ada juga isu – isu yang mencoba menggiring gerakan ini menuju gerakan politik dengan membawa persaingan antara tokoh tertentu dengan tokoh politik lainnya.

Yang terbaru adalah kisah yang dihembuskan oleh akun @triomacan2005 yang entah memiliki hubungan apa dengan akun @triomacan2000 yang menjadi legenda di kalangan pengguna twitter karena sering menebar fitnah dan hoax. Chirpstory yang berjudul “Barter kasus SARA dengan BENDERA” yang seolah – olah menyiratkan ada konspirasi tukar kasus SARA dengan Bendera. Kesan investigatif dan fiktif sangat kental sekali dibalik cerita yang disajikan oleh akun ini.

Link untuk chirpstory bisa diakses disini : http://chirpstory.com/li/328337

Ketiga, Isu Anarkis, Separatis, Bali Merdeka dan Fitnah sejenis

Pertama dihembuskan oleh Ruhut Sitompul yang menyatakan kalau aksi demo dengan pembakaran ban yang terjadi beberapa waktu lalu adalah skenario kerusuhan yang gagal, yang entah darimana informasi ini berasal hingga pernyataan dari Ruhut bisa demikian.

Kemudian muncul tuduhan Forbali sebagai aksi separatis karena ada akun @banaspati2001 yang merupakan akun kloningan entah siapa, yang menyuarakan pancasila telah mati dengan memasang foto yang sekarang tengah diselidiki, karena pemilik foto tersebut telah memberikan klarifikasi kalau itu bukan akun twitternya, dan foto yang terpasang pada akun banaspati2001 tersebut diambil dari akunnya.

Kemudian ada Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin yang menggunakan kemampuan cocoklogi tingkat tinggi yang menghubung – hubungkan satu akun bayangan dengan akun bayangan yang lainnya yang seolah – olah menyiratkan gerakan Tolak Reklamasi menginginkan kemerdekaan Bali dan menilai gerakan Tolak Reklamasi sebagai gerakan separatis. Berikut rangkuman ilmu cocoklogi tingkat tinggi dari seorang anggota DPR RI.

Untuk diketahui, Kapolda Bali menduga adanya kerterkaitan antara pernyataan akun twitter @banaspati2001 dan @bali_merdeka dengan  aksi penurunan bendera merah putih oleh Forbali yang diteruskan dengan aksi pembakaran ban di 12 titik wisata dan keramaian.

 Benang merah tersebut terlihat saat aktivis Forbali, Putu Gent berkali-kali menyuarakan pesan bernada separatisme di akun facebooknya. Pada tanggal 12 Agustus, Putu menulis “Salam BTR…… hari kemerdekaan tapi Bali konden merdeka…. kibarkan bendera Forbali”. Sementara di Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu, dia menulis “Bali belum merdeka karena FORBALI masih memperjuangkan Kemerdekaan Bali”.

 Sentimen senada juga disuarakan aktivis Forbali lainnya seperti, Hadi Joban yang pada 12 Juli menulis status Facebook “Merdeka dari NKRI harga mati!”.

 Pernyataan aktivis lainnya, Indra Jaya pada tanggal 10 Agustus, kembali melalui Facebook, membuat benang merah yang samar menjadi semakin terlihat jelas “Rakyat Bali akan terus melawan sampai Bali Merdeka!”.

 TB Hasanuddin merasa aktivitas-aktivitas tersebut membuktikan bahwa UU ITE harus diberlakukan secara tegas. Selain itu, Indonesia sudah waktunya memiliki badan cyber sendiri.

 “Tegakan UU ITE secara tegas dan terapkan tanpa pilih bulu” demikian politisi PDIP ini.

 Adakah anggota DPR RI yang terhormat tersebut pernah berfikir untuk sedikit melakukan pengecekan atau verifikasi apakah akun tersebut asli atau hanya akun bayangan atau akun kloningan?

Keempat, Pelintir Twit dari Rudolf Dethu

Pernyataan ini keluar dari Mantan Aktivis 98 yang hendak menangkap Ahok tapi gagal dan berkali – kali hendak membuktikan keterkaitan Ahok dengan kasus sumber waras tapi sampai kini gagal, Eggie Sujana. Twit yang ditulis oleh Rudolf Dethu yang memang tidak bermaksud menyinggung siapapun tersebut dipelintir sedemikian rupa seolah – olah gerakan Tolak Reklamasi sedang menghina agama tertentu dan anti demokrasi.

Tudingan yang tanpa dasar dan memang sedang diplintir oleh Eggie Sujana dengan maksud tertentu, silahkan disimpulkan tujuannya apa.

***

Gambaran fitnah, putarbalikkan fakta dan isu yang sangat kental berbau provokasi terdapat dalam beberapa cara yang saya jelaskan diatas. Sangat tersirat ada maksud provokasi dalam setiap cara yang diterapkan, tujuan provokasi adalah menciptakan suasana yang tidak kondusif, setelah itu akan ada langkah selanjutnya yang dipersiapkan untuk membenturkan gerakan ini ke pihak pemerintah maupun aparat yang sudah tentu tidak akan menguntungkan kedua belah pihak.

Kita semua dituntut untuk waspada akan hal ini, gerakan ini adalah gerakan rakyat, oleh karena itu ada banyak provokator yang menyamar sebagai rakyat untuk bisa seolah – olah menjadi bagian dari gerakan ini dengan tujuan untuk menyusup dan menggunakan cara – cara licik untuk memanipulasi gerakan ini.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

seventeen − 8 =