Tarian Bikini di Jembrana Tidak Melanggar Aturan Moral

Beberapa hari ini media sosial tengah diramaikan dengan video tarian bikini yang ada di kabupaten Jembrana, Negara. Tarian bikini tersebut terselenggara dalam acara kontes modifikasi otomotif yang menjadi rangkaian perayaan HUT kota Negara yang ke 121 dan HUT RI yang ke 71. Poin yang saya tekankan disini adalah, tarian bikini tersebut ada pada acara modifikasi otomotif.

Tarian bikini adalah hal yang sudah sangat lumrah ada pada setiap ajang kontestasi modifikasi otomotif, atau acara yang berhubungan dengan otomotif lainnya, termasuk pada setiap acara kumpul – kumpul ala pecinta moge atau motor gede. Penyelenggaraannya pun seringkali diadakan di tempat terbuka, sejenis lapangan atau alun – alun yang bisa menampung banyak orang. Jika sekarang acara seperti ini menimbulkan polemik, saya melihat masalahnya ada pada penyelenggaranya, yaitu Pemkab Jembrana. Kalau acara yang sama memang telah ada sebelumnya, tentu tidak menjadi masalah dan tidak ada yang meributkan, karena penyelenggaranya adalah pihak klub motor atau pihak luar dari pemerintahan.

Tapi begini, tarian bikini ini mengingatkan saya pada tarian joged bumbung yang juga menampilkan liukan yang serupa, hanya saja pakaiannya yang berbeda. Coba bandingkan antara video tarian bikini dan tarian joged bumbung, gerakannya pun hampir mirip. Hanya balutan tarian dan pakaiannya yang berbeda. Sambutan penonton sama ketika kedua penari tersebut meliak liuk, banyak yang senang dan banyak yang tertawa.

Perbedaan dari tarian bikini dan joged bumbung terletak pada penontonnya, kalau tarian bikini yang ada di jembrana tersebut di tonton oleh rata – rata orang dewasa, saya tidak melihat ada anak – anak di sekitaran situ. Sedangkan joged bumbung ditonton oleh banyak sekali anak – anak. Kalau dalih anak – anak yang digunakan untuk menyalahkan keerotisan tarian bikini, sebaiknya kita kembali bercermin kenapa joged bumbung erotis yang banyak disaksikan oleh anak – anak malah kita biarkan.

Kalau sebagian orang melihat tarian bikini ini telah melanggar aturan moral, mungkin kita semua sebaiknya melihat ke joged bumbung yang juga menurut saya telah melanggar aturan moral. Lalu kenapa keduanya mendapat perlakuan yang berbeda, tanya ke masing – masing pribadi anda. Atau apakah hanya joged bumbung yang diperbolehkan mempertontonkan gerakan erotis?

Ada satu hal yang mungkin kurang dipahami oleh kita bersama, tarian bikini tidak sama dengan tarian striptease, kalau ini dihubung – hubungkan, saya rasa persepsi kita akan terbentuk berbeda. Karena striptease adalah tarian yang tidak mengenakan pakaian sama sekali. Semua pertunjukan mulai dari joged bumbung, tarian bikini, dan striptease menampilkan tarian yang erotis, hanya saja pakaiannya yang berbeda. Perlakuan masyarakat terhadap masing – masing tarian tersebut juga sangat berbeda.

Mungkin lain kali, Pemkab Jembrana sebaiknya mempertunjukkan joged bumbung dengan gerakan erotis, toh gerakannya sama, hanya pakaiannya saja yang beda. Dan yang terpenting adalah Pemkab justru tidak akan menuai komentar negatif di media sosial. Malah katanya joged bumbung dengan gerakan erotis adalah pelestarian budaya.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY

fifteen + fifteen =