SBY dan Paradoks “In Crucial Thing Unity”

Saya sedikit prihatin ketika menyimak tulisan SBY di situs ini: http://politik.rmol.co/read/2016/11/28/270209/Pulihkan-Kedamaian-Dan-Persatuan-Kita-

Kok bisa seorang SBY berpikiran sedemikian rupa. Saya sebagai masyarakat justru berpikir tulisan ini seharusnya dikeluarkan sebelumnya. Tulisan SBY ini salah timing, seharusnya tulisan inilah yang dibacakan ketika pidato “lebaran kuda” kemarin. SBY adalah seorang politisi yang memang sangat pantas mendapatkan julukan bhagawan pencitraan. Tapi sayang seribu sayang, citra yang dimainkan belumlah inovatif, kalau kita gunakan bahasa sekarang ini, citra yang dimainkan nggak kekinian.

Saya akan mencoba menganalisa tulisan SBY dengan pendekatan historis yang dalam setiap pidato selalu ia banggakan dengan ungkapan “di era kepresidenan saya”.

Dua nasehat bijak yang dikeluarkan SBY yang dikatakan sangat relevan untuk situasi Indonesia saat ini. Yang pertama “in crucial thing unity”, dan yang kedua “there will always be a solution to any problem”. Menurut saya nasehat ini sangat – sangat baik, tapi ada satu nasehat lagi yang dilupakan, nasehat yang berbahasa Indonesia dari Tan Malaka yaitu “Tuan Rumah tak kan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”.

Analogi apa yang bisa digunakan untuk mau berunding dengan orang yang memimpin ormas anti Pancasila? Analogi apa yang bisa digunakan untuk bisa berdialog dengan orang yang hendak mendirikan khilafah di dalam negeri Indonesia yang berbhineka ini?

Ada satu lagi nasehat yang seharusnya kita ingat bersama, nasehat yang juga dari Tan Malaka “Air berkumpul dengan air, Minyak berkumpul dengan minyak, Setiap orang berkumpul dengan jenis dan wataknya”.

Mengalirkan isu Pak Ahok ke wilayah SARA, kebhinekaan dan NKRI dengan segala dramatisasinya yang menurut SBY menjadi kontraproduktif, adalah kalimat yang sangat – sangat tepat. Isu ini memang seharusnya menjadi isu pada masalah hukum saja, tanpa harus disertakan pada isu SARA dan yang lainnya.

Tapi ingat, sejak awal, sebelum ada kasus yang dihadapi oleh Ahok, sudah ada isu penolakan terhadap gubernur kafir, atau tolak gubernur non Muslim yang dihembuskan oleh FPI dan teman – temannya, dan telah ada upaya untuk menjadikan ini sebuah gerakan yang dinamakan Majelis Tinggi Jakarta Bersyariah. Dalam majelis ini ada Habib Rizieq dan yang lainnya. Majelis ini pernah mengadakan konvensi calon gubernur muslim yang kemudian gagal mendapatkan calon yang bisa didukung.

Isu pilgub Jakarta memang sejak awal telah dibawa kepada isu Agama yang bermuatan SARA oleh Habib Rizieq dari FPI dan teman – temannya. Kita kemudian tahu kalau FPI telah menyatakan dukungannya ke salah satu pasangan calon yaitu Agus-Sylvi. Kita semua juga tahu kalau Agus Yudhoyono adalah anak dari SBY sendiri. Lalu dimana posisi SBY ketika isu – isu SARA ini dihembuskan oleh FPI yang mendukung Agus-Sylvi?

Dalam pembahasan isu makar yang dituliskan oleh SBY, saya melihat ada salah persepsi tentang gerakan yang dikatakan akan melakukan makar terhadap Indonesia. Penghubungan dengan Isu Dewan Jendral pada september 1965 dalam pandangan saya hanyalah dalih untuk menyatakan bahwa ada gerakan yang sedang bertolak belakang dengan kondisi yang ada saat ini. Kemudian SBY menyinggung masalah “gerakan cabut mandat SBY” di era kepresidenannya dulu, dimana kalau bisa saya simpulkan, dia memilih mendiamkan isu tersebut dengan tetap bekerja, sehingga isu tersebut cepat berlalu.

SBY mungkin lupa, kalau di Indonesia ini pernah ada upaya dari kelompok radikal yang menggunakan foto dirinya sebagai sasaran untuk latihan menembak. Dalam pidatonya tersebut juga SBY menyinggung soal “ada target SBY tidak dilantik”. SBY juga mengungkapkan “Berdasarkan laporan intelijen, ada upaya yang sistematis menggagalkan kelangsungan pemerintahan yang demokratis ini”. saya jadi bertanya pada diri saya sendiri, bukankah gerakan yang dilakukan oleh kelompok ini termasuk gerakan makar?

Upaya untuk menggagalkan kelangsungan pemerintahan adalah gerakan makar, upaya untuk membunuh presiden juga adalah gerakan makar, ada satu lagi, upaya untuk menurunkan presiden juga adalah gerakan makar. Semua terpampang jelas dan terang benderang. Kalau kemudian ini semua dibantah oleh SBY melalui tulisannya, saya rasa kita harus kembali mengingat upaya – upaya seperti pengeboman dan yang sejenisnya yang dilakukan oleh organisasi radikal pada masa 10 tahun pemerintahan SBY, agar kemudian SBY ingat kembali, kalau selama masih ada organisasi radikal di negeri ini, upaya makar tidak akan pernah berhenti.

Perihal membangun dan mendapatkan solusi terbaik dengan berbagai pihak yang dilakukan oleh Jokowi yang menurut SBY perlu dilanjutkan, dengan tidak hanya mengejar kuantitas tapi juga kualitas. Jangan hanya dengan pihak yang nyata – nyata ada di “belakang” Presiden, tapi seharusnya juga mencakup mereka yang dinilai berseberangan. Penjelasan dari tulisan SBY ini kembali lagi sangat – sangat tepat.

Tapi kita harus ingat juga tentang 10 tahun masa pemerintahan SBY dimana toleransi yang menjadi isu kala itu. Ketika ada desakan pembubaran Ahmadiyah, apakah SBY merangkul semua pihak?. Yang dilakukan oleh SBY adalah menerbitkan SKB Tiga Menteri yang pada intinya membatasi Ahmadiyah. Pada era SBY juga terbit PBM tentang Peranan Kepala Daerah dalam mengelola kehidupan agama, yang salah satunya memuat tata cara pendirian rumah ibadah. Apakah disini SBY sudah merangkul semua pihak? Atau hanya pihak tertentu saja?

Untuk informasi kita bersama, PBM inilah yang menjadi sandungan bagi jemaat Kristiani untuk mendirikan tempat ibadah. SBY melempar tanggung jawab mengatasi urusan agama dengan dalih urusan agama telah dilimpahkan melalui PBM, padahal urusan agama bukanlah urusan yang didesentralisasikan pada paket kebijakan otonomi daerah.

Pada era SBY juga terbit 342 perda diskriminatif atas nama agama dan moralitas yang dikeluarkan pemerintah daerah. Komnas Perempuan mencatat, terdapat 342 kebijakan diskriminatif dan berlandasakan syariah, padahal SBY memiliki kuasa untuk melakukan pengawasan, dan pembatalan perda-perda tersebut. Apakah disini juga SBY telah merangkul semua pihak?

Sebagai penutup, Marilah kita menahan diri untuk tidak bertindak salah dan melampaui batas, sehingga justru akan mengancam kedamaian, keamanan dan ketertiban sosial di negeri ini. Marilah kita jaga persaudaraan dan kerukunan kita, seberat apapun tantangan yang kita hadapi. Kalimat ini saya tujukan untuk kita semua, termasuk untuk SBY sendiri.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY

18 + 8 =