Melali ke Rumah Coklat (Bali Chocolate)

Dalam perjalanan yang ujungnya jauh ke daerah karangasem (sekitar 2 jam perjalanan). Saya sudah sedikit berharap akan sesuatu yang bagus yang ditawarkan. Semacam museum coklat, atau berbagai jenis coklat yang ada di bali. Kebetulan saya adalah penggemar coklat, dalam hal kegemaran, coklat adalah hal kedua yang saya gemari setelah kopi.

Dalam bayangan saya, rumah coklat itu adalah sejenis rumah yang menawarkan segala jenis produk coklat. Setidaknya ada display/tampilan yang bisa mencerahkan ketidaktahuan saya mengenai berbagai jenis coklat yang ada di indonesia, atau bahkan dunia. Misalnya kopi, kedai kopi, umumnya adalah tempat untuk menikmati kopi, pada beberapa tempat, dijelaskan tentang berbagai produk kopi yang ada di indonesia, ketika kita tertarik, kita bisa memesan dan mencicipi rasanya beserta cara menikmatinya. Dari berkunjung ke sebuah kedai kopi, saya bisa mendapat tambahan pengetahuan mengenai kopi. Tapi, ini tidak saya dapatkan ketika berkunjung ke kedai coklat.

Tarif masuk di awal sebesar 10 ribu, per kendaraan, di pintu masuk kita membayar lagi 10 ribu per orang dengan gratis produk sejenis sabun, tapi tidak dijelaskan itu sabun apa dan kegunaannya untuk apa, hingga kemudian saya mencoba mencari di internet, katanya konon itu adalah sabun yang terbuat dari coklat, saya sebut konon, karena tidak ada petunjuk dalam kemasan atau penjelasan dari petugas yang memberikan saya sabun tersebut, ujungnya ya sabun tersebut terlupakan dan entah sekarang berada dimana.

Yang saya lihat pada rumah coklat ini, hanya obyek foto selfie, dan pemandangan laut saja. Ada beberapa bangunan dengan jenis arsitektur unik dari bambu, tapi saya tidak menemukan petugas atau siapa atau apa yang bisa menjelaskan keunikan tersebut selain sebagai background foto selfie saja. kebanyakan yang datang juga hanya untuk foto selfie, biar terlihat pernah kesana saja, tanpa membawa pengetahuan baru. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan selain foto cekrek upload saja. Mungkin karena obyek wisata ini masih belum tuntas perancangannya, karena beberapa bangunan terlihat belum selesai pengerjaannya.

Saya bukan penggemar publikasi diri melalui photo atau selfie ria di media sosial, karena ini saya berpendapat beda dari kebanyakan testimoni yang ada. Untuk penggemar publikasi diri, atau selfie, saya rasa tempat ini menyediakan background dan posisi yang unik untuk menambah kekurangan penampilan kita ketika berfoto.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

twelve − 4 =