Maklumilah Anies Baswedan

Anies Baswedan kembali menjadi perbicangan yang hangat di media sosial. Pidatonya yang menyebutkan istilah pribumi dan non pribumi kembali memancing perdebatan. Seperti biasa, perdebatan yang paling riuh ada di media sosial yang merupakan ruang untuk semua bebas pendapat. Bukan media sosial namanya kalau tanpa bully dan meme. Yang tidak kalah menarik adalah analisa dari para ahli yang juga beragam.

Karena pidato ini, banyak yang mulai menduga arah kebijakan Anies kedepannya. Ada yang menganalisa bahwa arah kebijakan Jakarta akan menuju pengelompokan identitas. Ada pula yang mengaitkan pidato ini dengan Pilkada serentak tahun 2018 dan Pilpres tahun 2019. Bahkan ada analisa yang menyebutkan Anies sebagai kandidat potensial mendampingi Prabowo di 2019. Semua analisa ini sah-sah saja, boleh dipercaya, boleh juga tidak. Namanya juga analisa.

Beberapa orang bahkan mencoba membawa pidato ini ke ranah hukum karena dianggap melanggar Instruksi Presiden (Inpres) No. 26 tahun 2008 dimana disebutkan bahwa Istilah pribumi dan non pribumi dilarang untuk digunakan oleh pejabat negara dalam penyelenggaraan kebijakan dan  pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan. Tapi, apakah pidato Anies tersebut bisa dikategorikan sebagai kebijakan?

Diantara semua komentar cerdas tersebut, ada satu yang mereka lupakan. Mereka lupa bahwa jabatan Gubernur ini baru pertama kali disandang oleh Anies Baswedan. Bisa dibilang bahwa Anies Baswedan adalah Gubernur yang baru akan belajar. Belajar pun belum, Anies baru akan belajar. Jadi, harap dimaklumi saja statemen dalam pidato Anies tersebut.

Sebagai Gubernur yang baru akan belajar, Anies belum paham untuk mentransisikan dirinya dari seorang politisi menjadi seorang pejabat. Mungkin dampak Pilkada Jakarta terlalu mendalam pada diri Anies Baswedan hingga sekarang terjadi bias posisi antara politisi dan pejabat. Atau, mungkin juga Anies belum tahu cara untuk bersikap sebagai pejabat, mengingat sebelumnya dia belumlah dinyatakan lulus karena tidak mampu untuk menyelesaikan jabatannya sebagai Menteri.

Sebagai politisi, Anies memang perlu untuk memetakan pendukungnya. Anies masih terbawa suasana Pilkada dimana istilah pribumi dan non pribumi ini sering sekali dilontarkan untuk menggaet dukungan. Saking seringnya, mungkin istilah ini dianggap sebagai sebuah kewajaran untuk di ucapkan dalam pidatonya sebagai seorang pejabat. Tapi, Anies lupa bahwa dia sendiri tidaklah tergolong pribumi sebagaimana arti sebenarnya dari istilah ini. Dia termasuk non pribumi. Jadi, sekali lagi mohon dimaklumi karena mungkin Anies sedang lupa karena saking senangnya bisa menjabat.

Menilai latar belakang Anies Baswedan yang menjunjung tinggi etika dan kesantunan, saya rasa Anies memang harus berterima kasih kepada para pemilihnya. Tanpa para pemilihnya, Anies tidak akan bisa menduduki jabatan Gubernur seperti sekarang ini. Jadi, Anies harus tegas menyatakan terima kasih ini secara tersirat melalui pidatonya. Agar tidak berkembang opini bahwa Anies sebagai kacang yang lupa dengan kulitnya. Ini adalah bagian dari politik etis atau politik balas budi.

Tapi, sekali lagi Anies lupa bahwa sekarang ini dia sedang berbicara tidak hanya kepada pendukungnya. Dia berbicara pada seluruh warga Jakarta, bahkan Indonesia. Jadi, apapun yang dia katakan akan dinilai dari berbagai sudut pandang, bukan hanya dari sudut pandang pendukungnya. Jadi, saya harap ini dimaklumi.

Mungkin Anies mengira akan menuai sorak sorai dengan menggunakan istilah pribumi dan non pribumi, sebagaimana dia menuai sorak sorai pendukungnya ketika Pilkada lalu. Anies tentu tidak menyangka akan adanya kontroversi atas pidatonya. Mungkin jika Anies tahu, Anies akan mengganti istilah pribumi dan non pribumi ini menjadi semisal lokal dan naturalisasi, atau agar lebih santun dan beretika, Anies akan menggunakan istilah pendukung sini dan pendukung sebelah. Atau… kalaupun Anies mau mencoba, sekali-sekali gunakanlah kalimat yang lebih berwibawa semisal Anies lover atau Anies fans club. Begitu.

Kopi sik, jak Samsu katih.

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

five × three =