Generasi dalam tempurung (Kam-Se-U-Pay), itukah Bali Kini?

Saya disini berbicara sebagai salah satu yang menikmati social media sebagai bahan mencari informasi mengenai hal – hal yang terjadi di sekitar lingkungan saya. Belakangan kecenderungan generasi muda Bali lebih banyak termakan isu seolah – olah ada yang hendak menguasai Bali. Mungkin tidak semua generasi muda Bali yang termakan oleh isu seperti ini, tapi menurut intensitas komentar dan post yang ada di beberapa forum di social media menunjukkan kecenderungan lebih banyak yang termakan isu murahan seperti ini.

Ketakutan adalah salah satu bentuk penyakit yang dikeluarkan oleh pikiran manusia, dogma adalah ramuan utama untuk memunculkan rasa kepemilikan dari ketakutan tersebut. Takut akan neraka membuat orang berbondong – bondong memeluk agama dan ajaran spiritualis yang berlebihan. Menurut saya ini tidak ada salahnya, justru ini akan membentuk hal positif untuk masyarakat, karena masyarakat yang memeluk agama cenderung mengarah kepada ketertiban dan kebaikan. Ini akan menjadi masalah ketika ada dogma bahwa pemeluk agama A “lebih baik” daripada agama B. hanya perlu sedikit tambahan bumbu dengan membubuhkan “hanya pemeluk agama A yang bisa masuk sorga yang lain pasti masuk neraka”, maka ketakutan itu akan berubah menjadi fanatis dan terjadilah perpecahan di masyarakat. Arah dari dogma yang seperti ini hanyalah untuk sebuah dukungan yang diperlukan untuk seorang diberi label pemimpin karena dia bisa membela kaumnya yang memiliki ketakutan yang sama.

Ada satu kesimpulan yang perlu saya tekankan mengenai apa yang saya baca di social media, generasi muda bali memiliki ketakutan yang sama yaitu ada kelompok yang ingin menguasai bali dan ketakutan akan punahnya budaya bali dan tanah – tanah di bali dikuasai oleh kelompok pendatang. Ini adalah bahasa yang sering menjadi dasar untuk pembahasan oleh politisi dengan tujuan menggalang dukungan untuk kemudian dia akan menjadi pemimpin karena terlihat berjuang untuk mengatasi ketakutan anggota kelompoknya yang disini saya sebut sebagai anggota kelompok dalam tempurung alias anggota kelompok “sing taen pesu” kalau dibahasakan dengan bahasa bali, dan kalau secara kekinian saya sebut dengan generasi “kamseupay” alias kampungan sekali udik dan payah. Kenapa saya sebut demikian, saya akan jelaskan.

Arus perpindahan penduduk dari luar Bali adalah hal yang biasa, di semua tempat itu juga terjadi. Contohnya ada banyak, dari jawa ke Jakarta, dari Indonesia ke Malaysia atau Singapura, dari Meksiko ke Amerika dan banyak contoh perpindahan penduduk lainnya. Tidak lantas setiap arus perpindahan penduduk disebut dengan proses penguasaan. Kenapa arus perpindahan penduduk ini terjadi, karena motif ekonomi, dimana lebih banyak tersedianya lapangan kerja dan upah yang relatif lebih besar dari daerah asal. Arus perpindahan penduduk yang banyak menandakan kalau ekonomi di daerah tujuan lebih baik daripada daerah asal. Orang tidak akan mau pindah ke daerah lain kalau kehidupannya lebih buruk atau tidak ada harapan buat hidup sama sekali.

Lihat saja Jakarta, hanya orang lemah yang bilang kalau pendatang yang menguasai jakarta, penyakit kemalasan warga asli untuk bekerja dan ikut berpartisipasi dalam pembangunan-lah yang menyebabkan justru penduduk pendatang yang lebih maju daripada penduduk asli. Warga Jakarta lebih banyak terlena karena menikmati uang hasil penjualan tanah warisan leluhur mereka hingga lupa kalau mereka sudah tidak punya lahan lagi setelah habis dijual. Mereka semua lupa kalau orang datang ke Jakarta untuk memperbaiki perekonomian dan cenderung lebih giat bekerja dan berusaha. ini tidak akan terjadi kalau nilai jual masyarakat Jakarta lebih baik dari pendatang, baik dari skill individu maupun kemampuan masing – masing.

Apakah arus perpindahan penduduk ini berbahaya, menurut saya tidak. Selama warga asli masih berusaha dan bekerja untuk meningkatkan kualitas diri masing – masing. Percayalah kalau kemampuan nilai jual warga asli lebih tinggi maka warga pendatang juga ogah untuk bertahan karena mereka tidak akan mendapatkan jatah lapangan pekerjaan, bagaimana mereka hidup kalau pekerjaan tidak ada. Kenapa warga pendatang cenderung lebih banyak, karena mereka masih diperlukan di masyarakat. Kemampuan mereka masih berguna untuk memecahkan masalah – masalah yang ada di masyarakat yang tidak dimiliki oleh warga asli. Inilah realita dari arus penduduk dan semua memang nyata adanya. Coba saja lihat, ada berapa orang Bali yang mejadi pemimpin perusahaan? Hotel yang berdiri di Bali, Budaya yang kenal orang Bali, seluk beluk pariwisata juga yang menguasai orang Bali, lalu kenapa justru orang luar yang menguasai pariwisata Bali? Ini lebih kepada skill dan nilai jual individu masyarakat yang kurang mampu bersaing, dan sekarang kalian takut akan penduduk pendatang? Salah siapa? Salah kalian sendiri yang tidak mau belajar dan berusaha.

Kalian yang takut akan penguasaan oleh orang luar hanyalah orang malas yang tidak mau berusaha untuk memperbaiki kualitas diri kalian dan kalian menganggap kalau si A atau si B jadi pemimpin akan bisa merubah hidup kalian? GET A LIFE… siapapun pemimpin itu tidak akan bisa merubah keadaan kita, pemimpin di pemerintahan dipelukan untuk mengatur berjalannya pemerintahan yang bersih dan baik dan mengakomodir hak – hak kita. Contoh kita bayar pajak, pemimpin di daerah akan mengelola uang pajak kita untuk dikembalikan kepada kita dalam bentuk infrastruktur, jalan raya, kemudahan ketersediaan pangan, dan fluktuasi ekonomi yang stabil dan yang sejenisnya. Inilah kenapa dipelukan pemimpin daerah dengan track record yang baik, karena bisa diyakini kalau pengelolaan keuangan di daerah akan baik dan hak – hak rakyat akan dikembalikan kepada rakyat. Hidup kalian tidak akan berubah, kalian akan tetap bekerja dan belajar setiap hari, terima faktanya saja. Jadi kalau kalian menganggap arus penduduk akan berubah karena si A jadi pemimpin, mungkin kalian harus bangun dari mimpi kalian. Selama kalian tidak mau merubah kualitas diri kalian dan hanya hidup menghabiskan uang orang tua kalian, saya rasa sampai kapanpun kalian akan sama, dan kalian akan dengan mudahnya termakan isu yang sama.

Kata – kata berjuang demi Bali ini selalu mengusik saya, dan ini di dengung – dengungkan seolah – olah orang tersebut adalah yang berjasa untuk Bali. Harus saya tekankan disini, yang berjuang demi Bali itu adalah saya, anda, kami, kita sekalian yang berada di setiap centimeter tanah Bali, karena kita yang menyapu halaman, kita yang memupuk dan menyirami tanaman, dan kita yang mencari uang untuk kelangsungan hidup keluarga dan kita yang membayar pajak untuk membiayai kelangsungan pembangunan, bukan dia sang politisi. Jadi kalau menganggap dia adalah pejuang Bali, saya rasa kalian harus bercermin dan melihat setiap riak kecil yang kalian lakukan demi tanah Bali. Pejuang Bali yang sebenarnya adalah kita sebagai generasi muda yang masih bekerja dan berusaha untuk mengembangkan diri untuk keterlangsungan hidup Bali. Dan kalian yang hanya mengungkung diri kalian dalam tempurung akan tetap menjadi generasi “kamseupay” yang hanya mudah dibodohi oleh isu yang dimainkan oleh sang politisi.

Marilah kita belajar, membaca, bekerja dan mengembangkan potensi diri kita masing – masing untuk keterlangsungan hidup kita tanpa ketakutan oleh isu – isu murahan yang di hembuskan oleh sang politisi. Masa depan negeri ini ada di tangan kita sebagai generasi muda, dan kita harus mampu bersaing dan memenangkan setiap kompetisi hingga kita bisa menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih….

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

8 − seven =