Gagal Paham Soal Self-fulfilling Prophecy Oleh Kaum Titik… Titik…

Bukan kaum titik… titik… namanya kalau tidak reaksioner pada setiap hal, bahkan pada hal yang belum mereka pahami sepenuhnya. Ada beberapa orang, bahkan orang yang menurut saya cukup terpelajar yang menghubungkan antara self-fulfilling prophecy dengan alam akhirat dalam Islam, menurut saya ini salah logika, atau gagal paham. Kenapa saya katakan demikian, mari kita bahas.

Istilah self-fulfilling prophecy dimunculkan pada tahun 1948 oleh seorang sosiolog bernama Robert Merton untuk menggambarkan definisi yang salah dari sebuah situasi yang mempengaruhi prilaku setiap orang sehingga definisi awal yang salah tadi menjadi kenyataan. Secara singkat self-fulfilling prophecy bisa didefinisikan sebagai prediksi yang salah tetapi menjadi benar karena tindakan seseorang.

Dalam penelitian yang dilakukan Robert Rosenthal and Lenore Jacobson pada tahun 1968, Mereka memberikan tes kepada anak SD dan mengatakan pada guru bahwa beberapa anak luar biasa pintar (meskipun sebenarnya mereka average).  Peneliti kemudian datang kembali pada akhir ajaran sekolah dan kembali memberi tes pada pada anak2 tadi. Dan hasilnya? Anak-anak yang dikatakan pintar tadi mendapatkan nilai yang jauh lebih baik dari anak-anak lain.

Dalam kehidupan kita sehari – hari, kalau kita berpikir tentang hal-hal baik akan terjadi sepanjang hari, maka hari itu akan berjalan dengan baik. Apakah berarti hari itu tidak ada masalah? Bisa jadi ada masalah, tapi cara menghadapinya berbeda. Begitu pula jika membayangkan hari itu akan buruk, terjadilah hal-hal buruk sepanjang hari. Inilah salah satu contoh dari self-fulfilling prophecy.

Setelah paham dengan definisi dan pengertian dari self-fulfilling prophecy diatas, mari kita coba telaah apa yang terjadi di masyarakat kita dan kita hubungkan dengan pidato dari Megawati pada Ultah PDIP.

Kondisi yang paling masuk akal untuk menggambarkan situasi dalam self-fulfilling prophecy di tengah masyarakat kita adalah situasi “pengkafiran” setiap orang yang berbeda pandangan dengan orang lainnya yang marak belakangan ini.

Secara logika, kalau seseorang dikatakan “kafir” maka secara ajaran agama otomatis orang tersebut akan masuk neraka. Tapi apakah seseorang tersebut bisa “auto kafir” hanya karena pakaian? Apakah orang juga bisa dikatakan “auto kafir” hanya karena mengucapkan selamat pada hari raya agama lain?  Logikanya, dengan berada pada posisi “auto kafir” maka otomatis orang tersebut akan berada pada posisi “auto neraka”. Apakah karena berbeda agama lalu orang bisa dikatakan sebagai “kafir” dan masuk neraka?

Setiap orang yang menggunakan “daster” di definisikan sebagai seorang “agamais” yang berhak atas surga dan berhak menyalahkan atau mengkafirkan orang lain dan menentukan orang tersebut akan masuk neraka. Situasi ini kemudian berkembang hingga memunculkan ketidakpercayaan sebagian masyarakat pada pemimpin keagamaan yang sesungguhnya, yang memiliki track record yang baik dan memang belajar agama secara mendalam selama bertahun – tahun, hanya karena tidak menggunakan “daster”. Selanjutnya yang terjadi adalah maraknya muncul orang – orang agamais dadakan yang menggunakan “daster” dan sudah berani claim surga dan neraka atau istilah lainnya telah memiliki “kavling atas surga” padahal secara track record dan keilmuan masih belum memahami agama secara benar.

Situasi mengenakan “daster” sama dengan “agamais”, “agamais” sama dengan “masuk surga” yang kemudian disimpulkan dengan menggunakan “daster” sama dengan “masuk surga” dan merasa berhak mengkafirkan orang lain. Situasi inilah yang digambarkan dengan self-fulfilling prophecy.

Saya rasa orang yang paham ilmu agamanya masing – masing tahu akan kebenaran surga dan neraka menurut agama mereka. Tidak ada seorang-pun yang berhak menjustifikasi siapa yang masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka kecuali hanya Tuhan. Kita semua paham akan ini. Tapi yang berkembang dimasyarakat adalah maraknya istilah “auto surga” oleh sebagian orang yang merasa paling tahu dan paling benar dalam beragama. Kondisi inilah yang menurut saya sedang disinggung oleh Megawati dengan istilah menjadi self-fulfilling prophecy dalam pidatonya.

Jika kemudian istilah self-fulfilling prophecy ini dihubungkan dengan ketidakpercayaan akan adanya akhirat, saya rasa memang terjadi salah logika dalam memahami istilah ini.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

3 COMMENTS

  1. Sebenarnya bukan daster itu Pakde,lebih tepatnya burqah(utk perempuan dan gamis untuk laki laki) kalau disini bicara masalh agamis lho ya????? (klo daster buat tidur….he.he.he…).
    Tulisan yang bagus!!!!

  2. Kalau kita mau bicara jujur, sebenarnya para petinggi mereka itu “layak” kita sebut preman. Agama dibawa sebagai kedok, supaya mereka bisa mengelabui dan menggerakkan orang banyak untuk mendukung aksi mereka tanpa banyak tanya, karena mereka tahu kelemahan banyak orang, banyak orang sebenarnya tidak paham betul ajaran agamanya sendiri dan tidak sedikit yang hanya ikut2an. Jadi mereka yang dianggap pemimpin ngomong apapun meskipun salah, pengikutnya (walau hati kecilnya tidak setuju) takut untuk mengemukakannya, menanyakan apalagi membantah (takut dosa, takut masuk neraka, takut dikira bodoh). Setelah mereka mempunyai banyak massa, merekapun mulai berbisnis, mulai dari bisnis keamanan, sampai kepada bisnis pengerahan massa untuk tujuan politik pihak mana saja yang bersedia memakai jasa mereka. Kalau seandainya pernah sesekali melihat “aksi sosial kemanusiaan” yg mereka lakukan, itu tidak lebih cuma upaya pencitraan kepada pengikutnya, supaya mereka kelihatan benar2 berada di jalan yg suci, baik, tulus menolong, dan tujuan sebenarnya adalah menghindari jangan sampai timbul kecurigaan atau tanda tanya besar dari para pengikutnya, alhasil para pengikutnya menjadi semakin mantap dan yakin berada di jalan yang benar.

LEAVE A REPLY

four × three =