Eggi Sudjana Yang Bukan Siapa-Siapa

Eggi Sudjana memang terkenal sebagai aktivis yang garang dan sering mengumbar ancaman kepada siapapun lawan politiknya. Berulang kali dia menyerukan boikot, hingga pernah mengancam akan mengkudeta presiden terpilih Jokowi-JK pada tahun 2014 lalu. Membaca statemennya yang begitu garang, saya mencoba menelusuri jejak Eggi Sudjana di dunia digital. Dunia dimana riwayat seseorang terekam dengan baik.

Menurut saya, keliru jika kita melihat Eggi Sudjana sebagai seorang aktivis. Setiap langkah yang diambilnya lebih menyiratkan dia sebagai politisi dibandingkan aktivis. Tapi, ada satu sisi yang menarik dari seorang Eggi Sudjana. Dia adalah sosok yang pantang menyerah, meskipun berkali-kali gagal. Sungguh sosok yang tabah dalam menghadapi cobaan politik Indonesia yang begitu kejam.

Eggy Sudjana tercatat sebagai anggota kehormatan Partai Bulan Bintang (PBB) dan sebagai salah satu pendiri PBB, bersama dengan Yusril Ihza Mahendra. Kedudukan yang begitu mentereng dalam partai yang mengklaim dirinya sebagai penerus Masyumi ini. Tapi, kilau kedudukan ternyata tidak mampu mengantarkannya menuju Senayan. Pada tahun 1999, ketika dia mencoba maju sebagai calon anggota DPR RI dari PBB, Eggi Sudjana gagal membius calon pemilihnya dan gagal menjadi anggota DPR.

Pada tahun 2000, Eggi Sujana kembali mencoba peruntungannya dengan maju menjadi calon ketua umum PBB, partai yang ikut didirikannya. Dia bersaing dengan Yusril Ihza Mahendra ketika itu. Dilihat dari sisi manapun popularitas Yuzril memang jauh dibandingkan dengan Eggi Sudjana. Tapi, bukanlah Eggi namanya kalau tidak berani menghadapi Yuzril. Dan terbukti, Eggi kalah dari Yuzril ketika itu.

Perjuangan Eggi tidaklah cukup sampai disana, pada tahun 2004, Eggi Sudjana kembali mencoba melaju sebagai calon anggota DPR RI dengan berpindah ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP), namun sayang, keberuntungan belum juga membawa Eggi Sudjana melaju ke senayan ketika itu. Eggi menemukan kegagalan untuk kesekian kali.

Jangan kira Eggi akan berhenti sampai disini. Anda salah ketika mengira Eggi akan menerima begitu saja kegagalannya. Tidak ada kata takluk pada kegagalan dalam kamus seorang Eggi Sudjana. Pada tahun 2006, Eggi mendeklarasikan dirinya sebagai salah satu calon ketua umum PPP. Lagi-lagi Eggi menemukan hal yang sama seperti sebelumnya, sebuah kekalahan. Eggi dikalahkan oleh Suryadharma Ali ketika itu. Sungguh sebuah kenyataan pahit yang harus ditelah Eggi untuk kesekian kali.

Lelah dengan perjuangannya yang tak kunjung menemui keberhasilan dalam partai. Eggi kemudian berubah haluan dengan dalih tidak tertarik lagi menjadi anggota DPR lantaran citra lembaga ini sudah terpuruk di masyarakat. Sebab inilah pada tahun 2009, dengan semangat yang tak pernah pudar, Eggi kembali mencalonkan diri menjadi calon anggota DPD RI. Pesona Eggi yang garang ternyata tidak juga mampu membius warga Jawa Barat. Eggi kembali harus menelan pil pahit kegagalan. Kegagalan yang datang lagi dan lagi.

Semangat pengabdian Eggi Sudjana memang tidak pernah surut. Pada tahun 2010 dia mencoba turut serta dalam pemilihan ketua KPK. Hanya saja, Eggi kembali harus kecewa. Lantaran Eggi tidak berhasil lolos seleksi.

Merasa setiap kegagalannya tidak cukup. Eggi Sudjana mencoba melengkapinya dengan gagal maju sebagai calon indenpen pada Pemilihan Gubernur Jawa barat di tahun 2013. Kegagalan Eggi ada di tahap verifikasi KPU Jawa Barat disebabkan dia hanya mampu menyerahkan 100.000 lembar fotokopi KTP dari 1,5 juta yang menjadi syarat minimum untuk maju sebagai calon independen.

Dari barat pindah ke timur. Gagal di jawa barat, Eggi kemudian pindah ke Jawa Timur. Di tahun yang sama Eggi maju sebagai calon Independen pada pemilihan Gubernur Jawa Timur. Disini Eggi menemui secerca harapan akan sebuah keberhasilan. Dia berhasil melalui tahap verifikasi dan maju sebagai Cagub Jawa Timur.

Ada satu kejadian dramatis ketika Eggi Sudjana maju sebagai Cagub Jawa Timur tahun 2013 lalu. Dia dan Timsesnya menyelenggarakan acara istihgotsah di Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Acara ini sendiri menargetkan pengumpulan massa sebanyak 4.000 orang. Tapi, yang datang hanya 30 orang. Dari 4.000 undangan yang disebar Timsesnya, hanya sekitar 30 orang yang hadir sejak pagi. Dan menjelang siang satu per satu dari mereka meninggalkan lokasi hingga menyisakan 20 orang saja.

Pemilihan Gubernur Jawa Timur berakhir dengan menyisakan kenyataan pahit untuk Eggi Sudjana. Perolehan suaranya berada dalam posisi paling bontot ketika itu, posisi paling sedikit diantara calon lainnya. Dan Eggi pun, untuk kesekian kalinya menemukan kegagalan.

Tahun 2015 lalu Eggi Sudjana berhasil menjadi Ketua Umum Partai Pemersatu Bangsa (PPB). Dia dikukuhkan sebagai Ketua Umum PPB periode 2015-2020.  PPB adalah partai yang didirikan tahun 2001 oleh Soenarko dan Tommy Soeharto.  Meskipun telah berumur 15 tahun, partai ini belum pernah sekalipun lolos verifikasi untuk menjadi peserta Pemilu. Dengan modal sebagai ketua partai ini, Eggi akan mencoba kembali berkarir di dunia politik dengan maju sebagai Cagub Jawa Barat tahun 2018 nanti. Akankah Eggi berhasil atau melengkapi sederet kegagalannya? Kita saksikan saja di tahun 2018 nanti.

Sekian panjang perjuangan Eggi untuk menjadi siapa-siapa, tapi kenyataan memang berkata berbeda. Eggi tetap menjadi bukan siapa-siapa dalam kancah perpolitikan tanah air. Meskipun Eggi kenyang dalam dunia keorganisasian dan politik, semua kegagalannya justru menunjukkan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa.

Kopi sik, jak Samsu katih…

Please follow and like us:

1 COMMENT

  1. Dewi fortuna belum berpihak pada bapak Eggi Sudjana. Tapi jangan menyerah, masih ada kesempatan yang bisa membawa bapak ke “Kampung Harapan”

LEAVE A REPLY

five + fourteen =