Degradasi Makna Agama Dalam Pergaulan di Media Sosial

Media sosial indonesia itu lucu, karena setiap menit orang tidak pernah lepas dari membicarakan tentang agama dan beragam ketakutan mereka akan ancaman atas perubahan dan kemajuan. Mereka berfikir satu – satunya jalan yang bisa menyelamatkan mereka atas ketakutannya adalah dengan berlindung dibalik agama. Tapi apa benar agama bisa menyelamatkan kita semua?

Kebetulan pagi ini saya bertemu dengan seorang teman yang sehari – harinya menekuni dunia spiritualitas, umurnya juga bisa dibilang sepuh, karena sudah memasuki angka 70-an. Menurut dia, agama itu adalah jalan menuju cahaya, jalan menuju sebuah pencerahan, dan berlakunya individu. Jalan pencerahan yang dia alami sangat berbeda dengan jalan pencerahan dari orang lainnya, bahkan dari gurunya sendiri.

Logikanya begini, jika ada sebuah kitab suci, isi dari kita suci tersebut akan berbeda pemahaman dari satu orang dan yang lainnya, tergantung kemampuan setiap orang menganalisa dan menginterpretasi tiap – tiap kalimat yang ada dalam kitab suci tersebut. Hasil interpretasi dari tiap – tiap kalimat tersebutlah yang sekarang populer dengan istilah tafsir.

Seseorang yang sering bergulat dengan filsafat akan berbeda memahami sebuah kalimat dengan seorang yang sehari – harinya hanya bergelut dengan cangkul dan gergaji. Saya tidak bilang mana yang lebih baik, karena bisa saja satu sama lain memiliki kelebihan pemahaman masing – masing.

Dari penjelasan di atas, saya mencoba kembali menanyakan yang mana yang benar dari semua interpretasi atau penafsiran atas kitab suci tersebut.

Teman saya menjelaskan, dalam beragama tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang paling salah, bahkan kita harus melepaskan ikatan benar dan salah, karena cara beragama satu dan lainnya sangat berbeda tergantung dari dasar pemikiran masing – masing orang tersebut. Kalau dalam bahasa populernya, itulah yang disebut dengan hakekat. Setiap orang memiliki hakekatnya masing – masing yang tidak akan pernah bisa disamakan satu sama lainnya.

Seorang petani akan menggunakan ajaran agama tersebut dalam kesehariannya sebagai petani dan akan mencapai pencerannya kelak dengan jalan bertani, seorang buruh juga demikian adanya, bahkan seorang pejabat juga berbeda jalan pencapaian pencerahannya atas agama itu sendiri. Bahkan orang gila sendiripun punya interpretasi tersendiri atas agama dan kehidupan ini.

Lalu apakah ada ahli agama?

Sudut pandang yang digunakan untuk menentukan seorang ahli agama ini sudah salah kaprah sejak awal. Yang namanya ahli agama ya kita semua yang membaca dan mempelajari kitab suci tersebut. Kita semua yang mengimplementasikan ajaran agama tersebut dalam kehidupan sehari – hari adalah seorang ahli agama, karena kita yang tahu penerapan dari tiap – tiap ajaran agama dalam keseharian kita.

Mungkin kesulitan menterjemahkan kalimat yang digunakan dalam kitab suci yang membuat perubahan seperti sekarang ini. Bahasa yang digunakan dalam setiap kitab suci adalah bahasa asing, yang memerlukan seorang penterjemah yang fasih dalam bahasa tersebut. Lalu seiring berjalannya waktu, si penterjemah inilah yang sering digunakan sebagai pemuka agama, padahal belum tentu si penterjemah bisa memaknai isi dari ajaran agama tersebut.

Terlebih lagi sekarang, dimana popularitas-lah yang menentukan keahlian seseorang, semakin populer orang tersebut dalam masyarakat, maka semakin ahli dia dipandang. Ini juga menjelaskan kenapa seorang artis bisa tiba – tiba jadi pembicara atau bisa dikatakan sebagai pemuka agama, tanpa pernah melalui proses menuju keahlian agama itu sendiri, istilah yang lebih kerennya disini adalah, pemuka agama karbitan. Lalu untuk lebih meyakinkan keahliannya, digunakanlah pakaian dan aksesoris lainnya yang berbau keagamaan, hingga orang bisa lebih percaya bahwa dia adalah ahli dalam agama.

Media sosial kemudian membawa perubahan yang lebih masif, dimana setiap orang bebas menterjemahkan isi dari kitab suci sesuai dengan kepentingan masing – masing. Yang berkepentingan dengan perdagangan akan menggunakan terjemahan kitab suci untuk melariskan dagangannya, yang berpolitik juga begitu, akan menggunakan terjemahan dari kitab suci tersebut untuk memuluskan dukungan terhadapnya menuju pada panggung politik, dan profesi lainnya juga sering menggunakan terjemahan kitab suci tersebut untuk kepentingannya masing – masing.

Dalam pembicaraan maupun diskusi tentang keagamaan yang dilakukan di media sosial selalu diiringi oleh perdebatan menuju kemenangan atau menuju pada satu titik siapa yang paling benar. Pada pembahasan awal sudah dijelaskan kalau tujuan diskusi keagamaan itu memahami hakekat, bukan mencari siapa yang benar atau salah. Tidak jarang diskusi tersebut berujung pada perseteruan, hingga pada pencarian sekutu yang seagama untuk kemudian menyerang agama lainnya.

Semakin semua ini berkembang, kita tahu ujungnya hanyalah permusuhan satu sama lain.

Tapi ada satu hal yang positif dari semua ini, kita jadi tahu kalau saat ini sedang banyak orang yang fanatik akan agama, bahkan banyak dari mereka yang sangat mudah untuk dibuat marah karena agamanya. Atau istilah kerennya, sengol bacok agama. Sedikit saja agamanya di senggol maka dia akan datang bawa golok untuk siap – siap ngebacok kamu dengan segala cara.

Dari sini juga kita bisa paham kalau orang – orang yang fanatik akan keagamaan menjadi sangat mudah digiring menuju pada posisi tertentu. Tinggal membentuk persepsinya saja melalui pemimpin keagamaan tadi, maka semua akan mengikuti.

Mengharapkan sebuah kecerdasan beragama sama seperti mengharapkan lapindo untuk bisa kembali seperti dahulu kala, sudah sangat tidak mungkin, kecuali menata kembali puing – puing keberagaman yang tersisa saat ini menjadi indah kembali. Sudah terlalu banyak yang berbicara agama, sudah terlalu banyak yang fanatik akan agama, sudah terlalu banyak yang merasa ahli dalam beragama, tanpa sadar kalau kita semua memiliki hakekat kita masing – masing, dan mencari jalan kita masing – masing dalam lautan keberagaman yang sejatinya telah ditanamkan sejak awal oleh para sepuh dan leluhur kita dahulu.

Ahhhh… nyiup kopi malu jak roko katih….

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

nineteen + thirteen =