Belajar Menjadi Manusia

Sebulan belakangan ini saya tengah disibukkan dengan pekerjaan yang menyita hampir 90% waktu yang saya miliki. Kesempatan untuk ngopi bahkan tidur sekalipun sangat minim. Sampai kemarin, saya seperti orang buta yang duduk di warung kopi langganan saya. Perkembangannya pembicaraan disana begitu cepat. Saya harus meraba – raba ulang arah pembicaraan mereka.

Sebulan sebelumnya, pembicaraan masih berkisar pada perkembangan situasi politik di Jakarta, Ahok, Jokowi, FPI dan yang sejenisnya. Sekarang pembicaraan berubah menuju perkembangan sekte yang ada dalam Hindhu Bali. Kebetulan salah satu yang suka nongkrong di warung kopi tersebut tengah tertarik dengan Hare Khrisna, salah satu sekte yang tengah berkembang di Bali saat ini.

Semua memang sepakat kalau Bhagavad Gita adalah acuan yang paling pas untuk mempelajari Veda saat ini, karena Bhagavad Gita adalah rangkuman yang termudah untuk dipelajari. Kita semua paham kalau Bhagavad Gita diturunkan oleh Khrisna. Bukan berarti kita harus menjadi pengikut sekte Hare Khrisna, karena Bhagavad Gita diturunkan untuk seluruh umat. Kata kuncinya adalah seluruh umat manusia.

Dari sinilah topik pembicaraan sektarian ini berkembang menjadi pembicaraan akan superioritas antara sekte satu dan lainnya, ditambah lagi dengan beberapa orang yang memang tengah menekuni beberapa perguruan spiritual yang sedang berkembang saat ini.

Dari hanya manggut – manggut, saya berpikir, ada satu hal yang mereka semua lupakan. Mereka lupa kalau mereka semua adalah manusia. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadi superior diantara manusia lainnya kalau mereka semua terlahir sama, sebagai manusia.

Menurut saya inilah kunci yang banyak dari kita lupakan belakangan ini. Pengaruh dan propaganda sektarian yang sedang gencar dalam bentuk berbagai aliran maupun sekte di Bali membentuk pengikutnya berpikiran eksklusif, atau berpikiran lebih istimewa daripada pengikut sekte lainnya. Padahal kalau kita mencoba untuk lebih waras, kita tidaklah lebih istimewa satu dan lainnya hanya karena kita mengikuti sekte atau aliran tertentu.

Kita semua terlahir sebagai manusia, dan akan tumbuh dan berkembang sebagai manusia, menuju akhir atau kematian kita akan tetap sebagai manusia. Yang membedakan kita satu dan lainnya adalah prilaku dan pemikiran kita sebagai manusia.

Disadari atau tidak, pola pikir eksklusif yang ditanamkan oleh masing – masing sekte atau aliran yang ada di Bali justru akan menjauhkan masing – masing pengikutnya dari akar budaya Bali yang telah ditanamkan oleh tetua kita semenjak dahulu. Bali menganut paham terbuka, itulah kenapa hampir semua jenis manusia bisa diterima di Bali semenjak dahulu, dari akar inilah muncul kesan orang Bali itu jujur dan ramah.

Mungkin ada yang masih ingat dengan bait “eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin” – jangan pernah mengira dirimu pintar, biarkan orang lain yang menilai. Bait ini dalam pandangan saya adalah nasehat dari tetua kita untuk berpikiran terbuka. Kita semenjak dahulu diajarkan untuk rendah diri dan terbuka akan sekian banyak pemikiran yang berkembang di dunia ini. Kita tidak diharuskan untuk menerima, tapi kita diajarkan untuk menghormati dan mencoba memahami kalau di dunia ini terdiri dari berbagai macam manusia dengan berbagai macam pemikiran yang berbeda. Perbedaan ini adalah kekayaan, dan tidak ada satupun pemikiran yang lebih diantara pemikiran lainnya.

Kalau kita coba telaah lebih jauh, oleh tetua kita di Bali, kita diajarkan untuk tetap sadar kalau kita manusia. Hanya manusia biasa. Semua keterbatasan sebagai manusia berlaku untuk kita semua. Apapun yang kita pelajari, sejauh apapun kita belajar, sebanyak apapun ilmu yang kita pelajari, kita akan tetap sebagai manusia, yang berubah hanyalah cara kita berpikir mengenai berbagai macam hal di dunia ini.

Semakin banyak kita bertemu orang – orang yang berbeda, semakin terbuka pandangan kita akan hidup dan kehidupan di dunia ini sebagai manusia, semakin bijaksana kita memandang berbagai hal di dunia ini, maka semakin sadarlah kita pada diri kita yang hanya seorang manusia dengan segala keterbatasan kita. Inilah inti nasehat “eda ngaden awak bisa” yang diajarkan oleh tetua kita.

Silahkan masing – masing dari kita mengikuti sekte atau aliran apapun yang kita anggap sesuai dengan pemahaman kita akan kehidupan spiritual kita, tidak ada salahnya kita mempelajari itu semua, tapi tetaplah sadar kalau kita semua hanya manusia dengan segala keterbatasan kita sebagai manusia.

Kita percaya akan kelahiran kembali, tapi kehidupan kita berjalan bukan pada saat kelahiran kembali tersebut. Kehidupan kita berjalan pada saat ini, pada saat yang sekarang ini. Yang paling layak kita lakukan saat ini adalah memanusiakan manusia, menghargai segala perbedaan pemikiran setiap manusia tanpa merasa lebih dari manusia lainnya. Niscaya kita akan seutuhnya menjadi manusia, Karena manusia yang seutuhnya sangat sulit kita temui saat ini.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

12 − six =