Bali punya musuh?

Ada seorang tokoh yang sering berpidato secara berkobar – kobar tentang tantangan bali kedepannya dan dia sering mendengungkan soal musuh – musuh bali. Waktu mendengar pidato ini saya berfikir, yang dimaksud dengan musuh bali itu apa atau siapa ya? Ini kok kesannya kita dalam suasana perang, semacam pertempuran melawan belanda atau jepang atau apa… tapi ah ya sudahlah, mungkin bapak itu sedang panik karena kurang piknik.

Perihal pendatang atau yang menurut bapak itu adalah orang luar bali, menurut saya dia kurang membaca babad atau sejarah terbentuknya kerajaan – kerajaan dibali dan jawa. Yang tercatat dalam sejarah bali dimulai dari kerajaan singamandawa sekitar tahun 882M rajanya adalah orang luar bali, hingga nama para Rsi yang datang dan mendirikan tatanan yang ada sekarang di bali mulai dari Rsi Markandeya hingga Mpu Kuturan adalah orang luar bali. Jadi kalau sekarang bapak itu membicarakan orang bali dan luar bali, sepertinya bapak sudah telat ribuan tahun lamanya, dalam beberapa babad juga tercantum kalau baliaga adalah akulturasi atau penyatuan antara orang bali dan orang aga yang merupakan pengikut dari Rsi Markandeya, jadi dinilai dari sejarah yang dia maksudkan dengan orang bali itu yang mana ya? Atau kalau pertanyaannya saya balik, yang bapak ini maksudkan dengan orang luar bali itu yang mana ya?

Berbicara soal trah atau warih, kalau kita baca dalam buku – buku sejarah mengenai invasi Gajah Mada ke bali dengan membawa serta wangsa arya yang kemudian menguasai wilayah-wilayah di bali. sebagian besar kerajaan di bali pada waktu itu dipimpin oleh wangsa arya yang memang dibawa oleh Gajah Mada dari luar bali. Bapak itu sering mengagung – agungkan warihnya dan menyandang gelar kerajaan yang secara sejarah adalah orang luar bali. jadi kalau dia mempermasalahkan orang bali dan orang luar bali, sepertinya dia memang harusnya bercermin.

Menurut analisis saya, pada jaman sejarah bali kuno trah atau warih itu penting karena pada jaman itu tidak ada pemilihan langsung atau proses demokrasi untuk memilih raja, ketika seorang raja meninggal dunia maka otomatis kerajaan akan diwariskan kepada keturunannya kecuali ada pemberontakan atau yang dalam istilah kerennya sekarang disebut dengan revolusi. Tanpa mengikuti trah ini kerajaan akan selalu dilanda pertumpahan darah untuk perebutan kekuasaan ketika seorang raja meninggal. Sistem pemerintahan pada jaman itu hanya mengenal kata pemberontakan dan perebutan kekuasaan dan untuk meminimalisir itu maka diberlakukan trah untuk pewarisan kerajaan, dan kesetiaan abdi kerajaan ketika itu masih sangat tinggi, semua abdi kerajaan akan tunduk pada raja dan keturunannya.

Jaman sekarang sistem kerajaan sudah tidak relevan lagi penerapannya di masyarakat yang sudah terbilang lebih modern cara berfikirnya, dan kalaupun masih ngotot untuk diberlakukan atas nama pelestarian budaya, sebaiknya menurut saya melestarikan budaya itu dengan cara – cara yang lebih berbudaya, tidak dengan cara – cara yang cenderung memecah belah apalagi cenderung membentuk permusuhan. Trah raja – raja yang sudah berlaku sejak dulu di bali lebih kepada penghormatan, lihat saja raja Ubud, Karangasem, Tabanan, Pamecutan dan raja lainnya, mereka tidak segetol bapak ini untuk menonjolkan sisi kerajaannya, mereka lebih getol untuk mempertahankan warisan budaya leluhur dengan berjuang pada sisi – sisi keahlian mereka tanpa harus pidato yang berkobar – kobar atau muncul di semua media masa.

Kita semua memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dimana, tapi kita bisa memilih untuk menjadi apa dan untuk siapa kita bekerja dan berjuang. Kita bisa memilih berjuang dengan cara – cara yang berbudaya yang memang semua tempat di negeri kita ini mempunyai ciri khas. Tapi budaya kita tidak mengenal adanya permusuhan dan penanaman kebencian, budaya kita adalah budaya welas asih dan budaya persatuan. Jadi mari kita sama – sama memupuk persatuan dan kesatuan kita sebagai satu tanah air, tanah air Indonesia.

Ahhhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

five × one =