Tuntut Poros Maritim, SBY Sedang Mencoba Menjadi Komedian?

1,201 total, 1 today

Ada trend baru kalangan politisi Indonesia, yaitu trend fallback plan menjadi komedian. Saya jadi teringat lelucon yang dilontarkan Ahok ketika hadir pada acara Mata Najwa dan diminta untuk standup komedi. Pada acara tersebut Ahok nyeletuk dan bilang “Kalau gagal jadi Gubernur, mungkin saya bakalan jadi standup komedian”. Dulu saya menganggap itu hanya lelucon yang dilontarkan Ahok secara spontan, tapi belakangan saya melihat lelucon itu sedang menjadi trend di kalangan politisi, bahkan beberapa politisi mulai meniru gaya Ahok.

Mulai dari Muhammad Syafi’i dari partai Gerindra dengan doa berbau komedi pada sidang MPR/DPR 2016 lalu, bahkan politisi sekelas SBY juga mulai mengikuti trend ini. Awalnya saya berfikir SBY akan melanjutkan pembuatan album yang dulu dia jalani semasa menjadi Presiden, tapi menjadi aneh ketika masa jabatannya berakhir malah pembuatan albumnya juga berakhir. Bukankah analoginya sekarang jadi lebih banyak waktu dan lebih produktif untuk menelurkan album. Mungkin karena Album SBY kalah sama satu lagunya Hendropriyono makanya produksi albumnya dihentikan. Belakangan saya mulai mengerti kenapa pembuatan albumnya terhenti. Ternyata SBY sedang mencoba menjadi komedian.

Tuntutan SBY yang disampaikan melalui Waketum Partai Demokrat Syarief Hasan adalah dasar kenapa saya mengatakan kalau SBY sedang mencoba menjadi komedian. Berikut kutipan beritanya.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Syarief Hasan, mengatakan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berharap keseriusan pemerintah soal visi poros maritim dunia agar benar-benar bisa terwujud. Demokrat berharap visi itu bukan sekadar retorika. Menurut anggota Komisi I ini, SBY berharap visi itu terwujud karena pembangunan harus dilakukan dengan konsep pembangunan berkelanjutan dan pembangunan yang berkelanjutan sudah digagas sejak masa Pemerintahan SBY.

 “Apa yang diresmikan Jokowi tahun kemarin, itu kan sebenarnya bagian dari yang sudah dilakukan Pak SBY, ya kan. Kalau bisa ini ditingkatkan lagi, kan lebih bagus,” ujar Syarief.

Selain terkait kemaritiman, SBY juga berharap keberlanjutan pembangunan infrastruktur, sehingga bisa dirasakan dampak positifnya oleh masyarakat. “Seperti yang pernah kami lakukan dulu. Tapi yang paling mendasar itu adalah rakyat banyak. Jangan sampai kemiskinan ini tidak bisa diatasi, pengangguran jangan sampai naik lagi,” kata Syarief.

Ada yang melihat sisi kelucuannya? Kalau belum, berikut saya jelaskan.

SBY berharap keseriusan pemerintah soal visi poros maritim dunia agar benar – benar terwujud, ini kan lucu. Apakah SBY tidak pernah baca tipi dan nonton koran? Lalu kenapa berita tentang pemberantasan mafia kelautan yang dilakukan oleh pemerintah melaui Menteri Kelautan dan Perikanan tidak pernah sampai ke telinga SBY. Atau jangan – jangan dia lupa kalau sekarang pemerintah sudah tidak takut dengan mafia kelautan, tidak seperti retorika yang sangat prihatin pada jaman pemerintahan SBY.

Kalau masalah pemberantasan mafia kelautan tidak terdengar oleh SBY, maka sangat wajar kalau dia tidak pernah mendengar tentang perbaikan kinerja pelabuhan termasuk perbaikan pada masalah dwelling time yang sekarang bahkan jauh lebih baik dari yang pernah ada. Pada jaman pemerintahan SBY, buruknya kinerja pelabuhan dan maraknya mafia pelabuhan terkesan ada pembiaran. Ada yang pernah dengar visi SBY mengenai perbaikan kinerja pelabuhan? Pelabuhan dan Perikanan bahkan tidak diperhatikan, sekarang SBY mau kritik masalah kemaritiman, ini kan lucu namanya. 10 tahun bahkan tanpa retorika, apalagi kinerja. Sekarang malah merasa pantas memberi kritik.

Jangan – jangan SBY tidak tinggal di Indonesia, dan baru kembali ke Indonesia kemarin sore. Sehingga tidak pernah tahu perkembangan dunia kemaritiman Indonesia.

Berbicara tentang konsep pembangunan berkelanjutan yang digagas SBY, mungkin sebaiknya Jokowi berterima kasih terhadap SBY, karena gagasannya yang sangat brilian, tapi apakah pembangunan cukup dengan gagasan? Coba lihat konsep dan gagasan proyek Hambalang, sungguh sangat mulia. Di tangan pemerintahan SBY semua konsep dan gagasan mulia tersebut berubah menjadi rumah hantu. Kalau kita sebutkan satu – satu konsep dan gagasan pemerintahan SBY, semua layak diacungi jempol. Tapi realisasinya, nol alias kosong, alias penuh keprihatinan.

Tidak bisa dipungkiri kalau Jokowi memang melanjutkan proyek infrastruktur yang mangkrak di tangan SBY. Kalau klaim apa yang diresmikan oleh Jokowi adalah Kelanjutan dari apa yang dilakukan oleh SBY, sama saja dengan analogi kalau sekarang saya memiliki rumah yang saya bangun dasarnya saja, dan saya mangkrakkan selama 10 tahun, kemudian anda datang dan membangun rumah tersebut selama 2 tahun dan selesai, kemudian anda resmikan. Lalu saya ikut klaim kalau anda hanya melanjutkan pembangunan yang saya lakukan, bukankah ini lucu namanya. Atau lebih layak saya sebut sebagai licik yang penuh kelucuan, pantas lah kita sedikit tertawa atas klaim ini.

Semakin lama, strategi politik Partai Demokrat semakin terlihat lucu. Statement yang dikeluarkan mulai dari Ketua Dewan Pembina, Ketua Umum Partai, sampai kepada Juru Bicara Partai, sangat lucu. Ehhh, saya lupa kalau itu semua dijabat oleh orang yang sama. Semakin lucu kan? Karena kelucuan demi kelucuan ini saya berasumsi kalau SBY sudah mempersiapkan fallback plan kalau nanti dia sudah tidak menjadi politisi lagi, mungkin dia akan menjadi seorang komedian.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih..

Mari Berbagi :

6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

eleven − eight =