Tumpek Kandang Ajang Pamer Kaum Materialistis

1,869 total, 1 today

Rahinan tumpek kandang yang di peringati umat Hindhu di Bali pada hari sabtu kemarin membuat saya berfikir kalau sisi materialisme masyarakat Bali memang sedang berada pada tingkat yang menurut saya memprihatinkan. Saya tidak sedang membicarakan tentang memuliakan hewan atau moral dan yang sejenisnya. Saya sedang membicarakan pola berfikir hedonis atau pola berfikir materialis yang sedang merebak di Bali.

Kita semua memang sangat dianjurkan untuk tidak hanya mencintai sesama manusia, melainkan, kita juga harus mencintai hewan dan tumbuhan. Kita diwajibkan untuk menghormati keberadaan mereka. Karena itu tetua kita di Bali menyepakati untuk memberikan satu hari dari 210 hari sebagai hari untuk memuliakan hewan dan tumbuhan.

Kalau kita simak bersama, foto yang beredar di media sosial, rata – rata perayaan tumpek kandang di dominasi oleh upacara yang dilakukan untuk anjing peliharaan yang sepengetahuan saya memang diperjual belikan dan harganya lumayan.

Dalam pandangan saya, yang terlihat disini adalah unjuk kemampuan dari tiap – tiap orang. seolah – olah menunjukkan bahwa mereka mampu untuk melakukan itu semua, mereka mampu untuk membeli hewan peliharaan mahal, dan membiayai upacara dengan biaya yang setara upacara terhadap manusia.

Pertanyaan saya begini, kalau upacara terhadap hewan sebegitu besar, seberapa besarkah upacara yang akan dilakukan terhadap manusia?

Saya meyakini kalau upacara yang dilakukan akan lebih besar lagi. Kapankah kita bisa berpikir kembali tentang kondisi yang melilit Hindhu Bali saat ini. Kondisi dimana kita sedang berusaha memikirkan beratnya biaya upakara hingga ada yang berhutang untuk menjalankan sebuah upakara. Kapankah kita bisa memutus rantai “ngadep tanah meli banten” yang banyak kita khawatirkan.

Saya sangat ingat dengan obrolan saya dengan seorang teman yang mengatakan bahwa, tradisi upakara Bali jaman dahulu dimulai dari kesederhanaan, kejujuran, dan keikhlasan atas dasar rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi. Semua dimulai dengan menggunakan hal – hal sederhana yang bisa digunakan, kemudian dibentuk sedemikian rupa menggunakan kemampuan kesenian yang mereka miliki. Kesederhanaan dengan keikhlasan tanpa mengurangi makna dasar dari upakara tersebut.

Lambat laun, tradisi upakara yang sejak awal sederhana membesar hingga kini. Terjadi banyak penambahan, tanpa ada upaya penyederhanaan. Contohnya seperti upakara terhadap hewan peliharaan yang terjadi saat ini, kalau dahulu satu upakara untuk seluruh hewan, sekarang berubah menjadi satu upakara untuk satu hewan, dan nilai materi dari upakaranya juga setara dengan nilai materi upakara untuk manusia. Ujungnya kita semua ketahui, kondisi beratnya biaya upakara yang dirasa oleh masyarakat Bali saat ini.

Semua sah – sah saja di mata saya, seberapa besarpun dan apapun bentuk upakara yang akan dihaturkan setiap orang tidak ada masalah menurut saya, selama itu dilakukan dengan tulus dan ikhlas. tapi hendaknya kita berpikir kembali tentang usaha kita bersama untuk mempertahankan tradisi dan budaya kita ditengah gempuran materialisme yang sedang melanda pola pikir masyarakat kita.

Mari kita kembali kepada tradisi Bali yang sederhana namun penuh makna. Diperlukan niat yang baik dari kita semua untuk mendukung gerakan menyederhanakan upakara agar budaya Hindhu Bali yang kita jalankan selama berabad – abad bisa bertahan ditengah gempuran materialisme yang melanda pola pikir masyarakat kita saat ini.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

43 COMMENTS

  1. sesuai kemampuan saja,, kalo mampu ya silahkan,, yang menjadikan hal ini menjadi hal yang besar jangan sampai dibilang sirik,, jalani hal yg kita mampu saja, karena itu urusan pribadi pada tuhan,manusia dan alam,,, salam damai

  2. Stopp marah iri dengki ngopak ulian gambar d duur. Yen nu mmedih…ccok natab banten tumpek kandang…pang mekandang bin sisi beburone. Beda kuluk jak manuse tuah d premane gen….dan kadang…i manuse lebian ken beburon tingkahne

  3. Hindu itu fleksibel.. berkembang sesuai perkembangan zaman. Pakaian ke pura pun terus berubah dari zaman nenek moyang sampe sekarang. Ini hanya opini pribadi aja sih… Maaf kalau salah.

  4. Gumi be mbading kuluk meudeng trus nak maturan sing meudeng,, pidan kuluk ngateh manusa ke abyan jni mbading manusa ngateh kuluk jlan2,, tanpa sadar ubuhan dadi raje,,kikikik

LEAVE A REPLY

7 + 12 =