Tudingan Antek Asing Hanya Jargon Politik Kuno dan Kurang Update

548 total, 1 today

Jargon yang menyertakan kata “Antek Asing” sering kali kita dengar untuk mendeskreditkan seseorang atau suatu golongan tertentu, terutama ketika musim pemilihan, baik itu Pilkada maupun Pilpres. Saya masih belum tahu kapan munculnya kata “antek asing” ini. Tapi sangat sering sekali saya dengar dan digunakan oleh orang – orang yang mengaku paham dan mengetahui tentang teori – teori konspirasi tingkat tinggi, yang bahkan ketinggiannya sering kali tidak bisa di ukur dalam takaran keilmuan. Yang saya maksudkan dengan takaran keilmuan disini adalah takaran bukti, fakta dan data.

Mari kita telaah arti kata “antek asing” ini secara arti kata. Dalam KBBI, arti kata “antek” adalah orang (negara) yang diperalat atau dijadikan pengikut orang (negara) lain; kaki tangan; budak. Sedangkan “asing” memiliki arti datang dari luar (negeri, daerah, lingkungan). Jadi bisa saya simpulkan kalau “antek asing” berarti orang yang diperalat atau dijadikan budak oleh luar negeri. Berarti kata antek asing disini mengandung tuduhan bahwa oknum atau pihak tertentu adalah pengkhianat negara. Tuduhan yang sangat keji kalau dinilai dari arti kata tersebut.

Di Indonesia, saling tuduh menuduh dan saling claim sesuatu sudah menjadi sesuatu yang umum dan lumrah, terutama di kalangan politisi. Entah kenapa itu tidak dilaporkan, karena tuduhan tanpa bukti apalagi dilakukan di depan umum, sangat – sangat bisa diperkarakan di pengadilan. Dalam pandangan saya, politisi berperkara di pengadilan hanya akan membuat semua tambah gaduh, seperti membuang – buang waktu saja, jadi lebih baik didiamkan. Toh juga nanti akan hilang dengan sendirinya.

Biasanya yang terjadi dalam dunia politik di Indonesia adalah gosip lawan gosip, isu lawan isu. Jarang sekali ada politisi yang bertanding pada ajang Pilkada yang beradu rencana kerja. Sejauh pengamatan saya, adu rencana dan kinerja adalah senjata yang sangat ampuh untuk bisa digunakan untuk memenangkan persaingan dalam Pilkada. Lalu kenapa itu tidak digunakan? Karena adu rencana kerja sulit di lakukan, untuk berencana, seseorang harus paham betul duduk persoalannya, mengerti regulasinya, dan mengerti cara mewujudkannya. Daripada pusing memikirkan sebuah rencana, lebih mudah dan lebih cepat beradu dalam dunia politik dengan ide khayal sejenis “antek asing” ini.

Kebanyakan dari kita justru lebih tertarik dengan jargon – jargon manis yang terpapar dalam pikiran dan khayalan kita. kita agak sulit untuk tertarik pada hal – hal nyata, itulah kenapa kita sering sekali termakan janji – janji manis dan rayuan para calon pemimpin kepala daerah. Misalnya begini, saat orang berbicara “antek asing”, bawah sadar kita akan terbawa pada derita masa penjajahan dengan segala kesulitannya. Kita terbawa pada bayangan akan semua orang yang dulu menjadi mata – mata atau bekerja untuk kepentingan kelanggengan kekuasaan penjajah, kita tidak akan mau ada orang seperti itu di negara kita ini. Tapi dalam kenyataan, wujudnya seperti apa? Hal seperti ini tidak ada wujudnya, dan hanya bercokol pada alam khayal kita saja, saya tekankan, hanya ada dalam alam khayal kita dan tidak nyata. Hal – hal seperti inilah yang banyak membodohi kita dan membawa kita ke arah pikiran yang sesat.

Sudahlah… hentikan semua jargon kuno sejenis “antek asing” ini. Kita semua tahu kalau kita sudah berada dalam dunia yang hampir tidak memiliki batasan. Keluarkan saja rencana dan apa yang bisa dilakukan untuk kepentingan daerah daripada hanya menelurkan jargon kuno yang kurang update. Kekinian sedikit lah, belajar lebih banyak untuk mengenal masalah – masalah di daerah, ajukan rencana dan rancangan yang bisa dilakukan, dan biarkan masyarakat yang menilai, mana yang masuk akal dan mana yang tidak.

Semakin banyak jargon kuno yang anda keluarkan, semakin kelihatan kalau anda adalah calon yang kurang update dengan masalah kekinian dan cara berfikir orang dimasa sekarang. Semakin anda menganggap masyarakat adalah orang yang mudah dibodohi, maka anda sendiri akan semakin terlihat bodoh di mata masyarakat. Kalau ingin terlihat pintar, buat rencana, jelaskan realisasinya, dan biar masyarakat yang menilai.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

2 × 1 =