Tidurnya Menteri Susi

460 total, 1 today

Karena mengantuk maka dia tidur, itu adalah hal yang sangat manusiawi sekali. Setiap manusia yang ada di muka bumi ini ketika mengantuk pasti akan tertidur. Waktu dan tempat bukanlah sebuah masalah untuk perkara yang namanya tidur. Bahkan, sering kita dengar orang tertidur ketika mengendarai motor atau mobil yang berujung pada kecelakaan atau kematian di jalan raya. Semua jenis orang tidur tentu sering kita dengar dalam keseharian kita. Tapi tidak kemudian menjadi hal yang luar biasa.

Belakangan tidur menjadi sebuah fenomena. Mungkin karena tidur itu dilakukan oleh seorang sekelas Menteri. Apalagi tempat tidurnya yang bukan tempat biasa, sebuah kursi di sebuah bandara. Semua orang yang pernah bepergian jauh apalagi bepergian ke beberapa tempat berbeda dalam waktu yang terbatas, tentu terbiasa untuk tidur di bandara, terutama di kursi bandara. Jika kursinya penuh, maka lantai-lah yang menjadi pilihan untuk tertidur dengan berbantalkan tas. Ini adalah hal yang biasa dan sangat manusiawi sekali.

Pertanyaan terbesarnya adalah kenapa belakangan tidur justru menjadi seolah sesuatu yang berbeda. Menjadi sesuatu yang luar biasa, hingga menjadi viral. Apakah karena dilakukan oleh seorang menteri? Atau apakah karena dilakukan diatas kursi bandara? Bukankan semua itu adalah hal yang biasa? Bukankan banyak orang pernah melakukan hal yang sama?

Saya mencoba mencerna tidurnya ibu menteri di atas kursi bandara ini sebagai sebuah simbol. Simbol bahwa ada menteri yang bekerja sampai kelelahan untuk bangsanya. Simbol bahwa tidak semua pejabat apalagi sekelas menteri yang mementingkan dirinya sendiri. Tidur adalah cerminan manusia, dan di negara kita jumlah pejabat yang benar – benar manusia sudah sangat minim keberadaannya.

Kebanyakan pejabat malah berlaku bukan seperti manusia. Tanpa hati. Bahkan tega mengkhianati kepercayaan rakyat yang sudah memilihnya dengan perilaku koruptif, penuh pencitraan. Antara prilaku dan perkataan sudah tidak sejalan, bahkan banyak yang mencitrakan diri sebagai orang yang sangat agamis tapi tidak tanggung – tanggung korupsinya.

Masyarakat sekarang terlihat sangat merindukan simbol – simbol seperti Menteri Susi ini. Simbol kesederhanaan dan apa adanya.

Negeri ini seperti sudah kehilangan figur – figur pejabat yang merakyat. Figur pejabat yang bisa menjadi seperti rakyat dan berlaku seperti rakyat pada umumnya. Disadari atau tidak, siapapun itu, seorang pejabat adalah rakyat yang kebetulan menjadi pejabat. Selepas jabatan itu, mereka akan kembali menjadi rakyat. Rakyat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan rakyat lainnya di negara ini.

Keseharian kita sudah sangat dipenuhi dengan pemberitaan akan tingkah polah pejabat yang aneh – aneh. Ada pejabat agamis yang berteriak anti korupsi malah korupsi. Ada pejabat yang sampai mengiklankan katakan tidak pada(hal) korupsi. Ada macam – macam tingkah polah pejabat yang tiada hentinya menimbulkan persepsi negatif atas sebuah jabatan. Puncaknya pada ketidakpercayaan masyarakat terhadap pejabat.

Mungkin beberapa kalangan menilai foto Menteri Susi yang sedang tertidur tersebut sebagai sebuah pencitraan. Tapi apapun itu, tindakan seorang pejabat publik akan tetap dinilai dari dua sisi yang berbeda. Ada yang pro dan ada yang kontra. Tapi saya berpikir begini, adakah orang yang bisa akting tertidur? Apalagi sampai tertidur pulas.

Terlepas dari semua itu, hasil nyata-lah yang berbicara. Bukankah seorang pejabat berprestasi seharusnya memang meninggalkan warisan yang bermanfaat untuk banyak orang agar bisa dikenang. Saya rasa warisan ini-lah yang nantinya akan berbicara banyak tentang apa yang sudah dilakukan oleh seorang pejabat. Sejarah akan mencatat apapun yang dilakukan oleh pejabat tersebut selama masa jabatannya. Sekarang tinggal pejabatnya itu sendiri, mau meninggalkan sejarah yang baik apa yang buruk. Itu saja.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Please follow and like us:

17 COMMENTS

LEAVE A REPLY

20 + 8 =