Tanjung Balai yang Rusuh, Provokatornya Tidur Nyenyak di Jakarta

616 total, 1 today

Saya rasa kejadian yang terjadi di Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara. Adalah pelajaran untuk kita bersama. Terlihat jelas sekali kalau memang ada pihak – pihak yang sangat menginginkan perpecahan dan kekacauan di Indonesia.  Pelaku provokasi yang terungkap menurut data dari kepolisian adalah seorang warga Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang berinisial AT (41). Dan berikut yang dia tulis di akun Facebook Pribadinya.

 “Tanjung Balai Medan Rusuh 30 Juli 2016!! 6 Vihara dibakar buat Saudara Muslimku mari rapatkan barisan… Kita buat tragedi 98 terulang kembali Allahu Akbar”.

Dalam analisa saya, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi, tapi setelah melihat beberapa aksi dan reaksi yang terjadi di forum – forum diskusi yang ada. Saya berpendapat, kemungkinan pelaku provokasi tersebut memang sudah wara – wiri dan banyak berteman dengan kaum – kaum pengujar kebencian di media sosial. Dari kata – kata yang digunakan dalam status tersebut, memang sedang banyak beredar pada akun – akun pengujar kebencian terhadap pemerintah belakangan ini. Ujaran kebencian dan fitnah sering sekali mereka identikkan dengan kritik terhadap pemerintah.

Cara – cara yang menggunakan informasi yang tanpa koherelasi dan mencocok – cocokkan secara terpaksa banyak sekali digunakan sehingga terkesan benar, padahal kenyataannya salah dan tidak ada hubungannya sama sekali. Dalam kelompok – kelompok diskusi yang ada, ujaran semacam status yang digunakan oleh provokator tersebut memang sudah menjadi hal yang biasa. Kenapa saya bilang biasa, karena memang sudah sering digunakan. Semakin sering digunakan, menjadi semakin biasa, dan orang – orang tersebut menjadi terbiasa untuk menggunakan kata – kata itu dalam keseharian pemikirannya, tanpa memahami kalau pada beberapa orang, kata – kata tersebut bisa membawa petaka.

Provokatornya akan segera tidur nyenyak setelah membuat status mengenai kebencian tersebut, dan setiap bulan menerima sejumlah uang, karena banyaknya dukungan yang bisa digunakan untuk mendatangkan iklan atau pesanan atau endorse dari pihak tertentu. Sedangkan yang menerima provokasi akan berdarah – darah menganggap sebagai diri pembela atau pahlawan atas dasar provokasi tersebut. inilah yang sering saya khawatirkan tentang banyaknya informasi berbau kebencian atas golongan yang makin marak di media sosial belakangan ini.

Media sosial sangat – sangat rentan dengan infomasi yang berbahaya. Ada banyak pengguna yang sangat rendah pemahamannya tentang mana informasi yang benar dan mana yang merupakan informasi hoax. Lihat saja forum – forum diskusi yang beredar dan saya khususkan untuk masyarakat Bali. Banyak sekali yang membela orang – orang yang membawa isu – isu rasial yang berbahaya dan ramai peminat. Dari 10 posting yang ada, 8 diantaranya adalah isu – isu tentang SARA, dan anehnya, ada banyak yang menanggapi.

Yang lebih aneh lagi, sudah jelas – jelas seorang tokoh sedang gencar – gencarnya menjual isu rasial sebagai bahan mencari dukungan politik untuk jabatannya, malah banyak kaum pembela yang mati – matian membela. Saya sangat heran mengenai logika yang digunakan oleh kaum – kaum pembela kebencian semacam ini. Kenapa mereka sangat bangga dengan rasa benci yang mereka punya, padahal motif dari pengujar kebencian tersebut hanya mencari simpati dan dukungan untuk digunakan sebagai pencarian atas uang atau jabatan semata. Ketika dibongkar pun, kaum ini hanya akan membantah dengan logika keliru yang mereka yakini, atau istillahnya logically falacious.

Dalam setiap informasi, kita memang diharuskan untuk mencari kebenaran akan informasi tersebut, entah itu melalui perbandingan, atau mencari pada sumber – sumber yang bisa dipercaya. Atau istilah lainnya cek dan ricek  atau klarifikasi informasi. Agar tidak menjadi fitnah karena menyebarkan informasi yang tidak benar. Minimnya minat baca dari pengguna media sosial juga menjadi salah satu penyebab akan penyebaran informasi yang tidak benar, hanya dengan membaca judul sebuah berita, kebanyakan orang akan langsung menyimpulkan isinya, kemudian berlanjut dengan komentar yang panjang lebar dari pengguna media sosial yang lain yang bahkan semua komentar tersebut keluar jauh dari poin pembicaraan yang ada dalam berita tersebut.

Entah salahnya dimana, tapi saya sangat – sangat menekankan kepada semua pengguna sosial media untuk jangan sekali – sekali mau dibodohi dengan percaya pada ujaran kebencian yang berbau SARA, entah itu dari tokoh siapapun, atau dari manapun ujaran itu berasal. Ujaran kebencian sangat – sangat berbahaya dan ada banyak oknum yang bersembunyi dibalik akun – akun di media sosial yang menginginkan perpecahan terhadap bangsa kita.

Mari kita bersama – sama meningkatkan minat baca kita dan menambah pengetahuan untuk tidak mudah dibodohi oleh informasi – informasi tidak benar yang beredar di media sosial, yang tendensinya menuju pada perpecahan dan kebencian akan golongan masyarakat tertentu.

Hidup kita akan sangat – sangat indah jika kita semua bisa hidup berdampingan secara damai, saling asah asih asuh bersama. Bukankan ini yang ditanamkan oleh leluhur dan tetua kita di masa lalu, dan memang layak untuk kita sebagai generasi muda melanjutkan pesan – pesan kedamaian warisan budaya dari leluhur kita.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :

18 COMMENTS

  1. Ehm? Selalu rakyat(pengguna medsos) yg hrs menerima tekanan, mengapa tdk pernah menekankan pd penyelenggara negara,apakah mereka tlh memberikan rasa aman dan nyaman kpd warganya, bandingkan saja mana yg kita rasakan lbh nyaman skrg atau jaman orba?
    Tentu jwabanya akan zaman orba kan? Mengapa begitu?! Find urself mas bro!

    • Peredaran informasi yang banyak berupa informasi yang salah tempatnya di media sosial pak, pemerintah telah mengeluarkan UU ITE, tapi kenapa media hoax semakin banyak beredar? apakah penegak hukumnya yang salah? atau pemerintah yang salah? atau kita nya yang memang sangat mudah termakan dengan isu SARA dan isu hoax? mungkin sebaiknya kita cerminkan disini pak.

    • Intlegensia tiap individu kan beda mas bro, makanya sy tekankan disini pentingnya penyelenggara negara hrs ada,dan tegas istilah mayoritas dan minoritas setogyanya tak ada! Kita adalah WARGA NEGARA INDONESIA. Klo itu bs diterapkan sy jamin rasa aman dan nyaman itu akan datang dgn sendirinya!

    • itulah gunanya media pengimbang pak, agar informasi yang beredar menjadi berimbang. saat sekelompok orang menghembuskan isu kebencian, sekelompok orang lain mengeluarkan penjelasan untuk meluruskan. kalaupun hanya mengandalkan aparat atau pihak pemerintah tanpa peran serta masyarakat, saya rasa sulit sekali untuk membendung di era kebebasan informasi seperti sekarang ini. dan saya harap kedepannya ada lebih banyak dari kita yang tidak berjualan isu ras atau kebencian lagi.

    • saya jelaskan ya pak, pengguna medsos ada banyak ragamnya pak, ada penulis seperti saya, dan menulis blog, ada pembuat status, ada komentator, dan dalam dunia twitter ada pemberi kultwit namanya pak, itu semua adalah media pengimbang dari media yang sama yang digunakan dalam media sosial. karena informasi hoax atau ujaran kebencian itu bererdarnya di media sosial. oke sampai disni paham pak? dan siapakah pengguna medsos itu? ya pasti itu adalah masyarakat kan pak.

    • makanya saya tekankan kepada semua pengguna medsos atau masyarakat itu sendiri, untuk meningkatkan minat baca agar bisa mengklarifikasi atau mengecek kebenaran dari sebuah informasi yang ada, agar informasi yang mengandung ujaran kebencian atau kebohongan atau hoax tidak banyak beredar.

    • kalaupun pembenarannya ada pada intelegensia masyarakat yang berbeda, yang memiliki intelegensia yang baik yang menuliskan klarifikasi berdasarkan hasil perbandingan infromasinya pak.

    • mari kita beranalogi ya pak. apakah peran pemerintah dalam hal ini?. sebagai pembuat regulasi dan menjaga agar berjalannya regulasi itu dengan baik di masyarakat. negara telah hadir dengan UU ITE nya, sekarang, bagaimana caranya agar UU ITE itu berjalan dengan baik? dengan setiap polisi mengecek pada satu – satu akun facebook atau medsos lain? saya rasa ini solusi yang mustahil bisa diterapkan pak. disinilah diperlukan peran serta masyarakat untuk melaporkan dan tidak ikut menyebarkan. sampai disini paham pak? dalam kasus ujaran kebencian ini, ada beberapa yang sudah ditangkap, termasuk ongen yang menghina presiden, tapi toh ujungnya bebas juga karena peran dari yusril, lalu apakah penyelenggara negara tidak berjalan?

    • dalam kacamata saya, semua berjalan dengan baik, hanya saja, yang harus diatasi itu terlalu banyak, oleh sebab itu kita sebagai masyarakat yang peduli, sebaiknya ikut menyuarakan atau melaporkan, atau menjadi pengimbang.

    • saya cukup paham arah pembicaraan ini pak, keinginan pak sendiri adalah dengan menghapus semua infromasi hoax tersebut dan dilakukan oleh pemerintah, tapi apakah bisa infromasi itu dibatasi dengan cara – cara orba? sekarang ini sudah tidak bisa lagi dilakukan cara – cara seperti itu pak. ada aturan dan perundangan yang berlaku dan itu menyeluruh kepada setiap warga negara indonesia. yang jelas – jelas melanggar aturan sudah banyak sekali yang di block, dan kebanyakan atas dasar laporan masyarakat, termasuk yang heboh belakangan adalah manjanik yang mempropagandakan dukungannya terhadap isis. tapi media lain masih banyak yang memang sangat susah untuk dibuktikan secara hukum. kalaupun pemerintah mau diktator dan menerapkan cara orba, saya rasa pemerintah salah dalam hal ini.

    • Anda maunya cari aman berdiri dizona aman,uu ite baru pak! Yg sy maksd gmn cara penyelenggara memberi rasa aman di mata rakyatnya, kan sdh ada contoh di zaman orla gerakkan yg mengancam keutuhan nkri tumpas dii contohnya, orba jg gitu pki bubar sampai ke akar”nya( kontoversi) dan tindakan preventif, yaa taulah pak ada wacana rasial saja sdh diciduk,seorang BrAM yg cuman seorang penulis dipenjara, tapi di zaman reformasi apa yg terjadi, lht fbi,seorang teroris contoh bomb Bali l di elu”kan apa g aneh?!

    • Bukan ditaktor, ingat kita negeri majemuk ,keutuhan NKRI harga mati! Mengapa hrs malu mengadopsi cara” tetangga! Jiran frekwensi kerusuhan rasial tergolong kecil, yg republik singapura, tengok mas bro! Jgn mau menang sendiri!

    • nah inilah beda paham kita pak, di negeri malaysia dan singapura, justru ada banyak sekali yang menulis dan mengimbangi seperti saya pak, coba saja lihat media independen online di malaysia, singapura apalagi pak. saya pernah tinggal disana pak. regulasinya bagus, dan masyarakatnya perduli. maksud saya perduli seperti ini pak. ketika ada sebuah isu atau akun yang menyebar kebencian, masyarakatnya tidak tinggal diam dan menyalahkan pemerintah, tapi berpartisipasi dan berperan aktif untuk melaporkan dan turut serta memberikan bukti – bukti yang ada. kalau tidak ada respon dari pemerintah atau aparatur negaranya ya masyarakatnya yang bertindak dengan mebuat pengimbang dari isu tersebut. inilah yang saya maksud dengan masyarakat yang cerdas dan lebih banyak membaca pak.

  2. sdh lama terdengar tegakan2 ….( #red hukum agama tertentu)… Itu bagian dari MAKAR

    smoga TNI dan POLRI bisa menegakkan keamanan dan mem berantas gerakan2 yg nyata dilapangan ber orasi ttg hal tsb

    • kalau ada bukti – bukti yang ditemukan, bisa segera di screenshot dan upload di media sosial pak. kita bisa turut membantu pelaporannya, biar ditindak. tanpa peran serta masyarakat, akan jadi susah mencegah yang seprti ini pak.

LEAVE A REPLY

20 − eight =