Tangisan Deddy Tangisan Buaya?

665 total, 1 today

Ada yang aneh dengan seorang Deddy Mizwar, kenapa setiap membahas masalah yang berhubungan dengan Ahok selalu yang dijual adalah tangisannya. Kita masih ingat ketika membahas tentang reklamasi Teluk Jakarta bersama Walhi, Deddy Mizwar menjual tangisannya. Tangisan yang menyiratkan ketidakmampuan untuk berbuat apa – apa, padahal kita semua tahu kalau Deddy Mizwar adalah wakil gubernur Jawa Barat dan Bogor Barat adalah wilayah kekuasaannya.

Mungkin Deddy Mizwar lupa kalau tugasnya sebagai wakil gubernur adalah membantu gubernur dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, juga melakukan upaya pengembangan dan pelestarian sosial budaya dan lingkungan hidup. Mungkin juga Deddy lupa kalau setiap daerah di Indonesia memiliki hak otonom untuk mengelola daerahnya.

Secara logika, seharusnya Deddy tidak menjual tangisan, tapi berupaya menjual program atau aturan hingga tidak mengorbankan lingkungan di wilayahnya, yang saya yakin tidak akan  bisa selesai dengan tangisan, tapi melalui upaya politik dan manajemen anggaran. Inilah yang namanya kinerja seorang pejabat daerah, diperhitungkan dari kemampuannya melakukan upaya politik untuk meloloskan program – programnya dan melakukan manajemen anggaran di daerahnya untuk memajukan daerah.

Deddy kembali menangis di depan Gedung Sate ketika berorasi dihadapan massa yang meminta kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok diselesaikan dengan seadil – adilnya. Pertanyaannya, kenapa harus menangis? Mungkin karena yang dihadapi adalah Ahok makanya Deddy merasa tidak bisa berbuat apapun selain menangis.

Tapi begini, mengenai tangis menangis, saya jadi teringat dengan teman saya. Teman yang sedari dulu menyandang label playboy kelas kakap, dia selalu lolos dari ancaman maut ketika kelakuannya ketahuan oleh istrinya. Bahkan ketika tertangkap basah-pun dia selalu selamat dari ancaman maut sang istri. Saya sering heran dengan kelakuan teman saya ini, sampai pada suatu hari saya menanyakan padanya.

Menurut teman saya, kunci keselamatannya ada pada tangisan. Setiap laki – laki harus bisa menangis meskipun dalam hati tertawa. Ketika dalam keadaan terdesak jurus tangisan-lah yang dia gunakan untuk membodohi istrinya. Dengan tangisan tersebut dia seolah – olah tidak bisa berbuat apa – apa. Dengan tangisan itu dia membuat istrinya percaya kalau dia dikalahkan oleh sesuatu yang diluar kemampuannya untuk dikendalikan. Teman saya menamakan tangisan ini sebagai tangisan buaya.

Dalam pandangan saya, kedua cerita ini benar – benar mirip. Tidak ada hal yang tidak bisa diselesaikan dengan memanfaatkan kemampuan kita sendiri. Tapi untuk orang – orang tertentu, lebih mudah untuk menjual tangisan daripada menjual kinerja dan kemampuan.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

18 − 7 =