Tabanan, Lumbung beras Bali kini anti hujan

925 total, 1 today

Melintas di jalan By Pass Ir. Soekarno yang dulu bernama By Pass Kediri – Pesiapan, kita disuguhkan dengan Patung Adipura Kencana yang sejarah berdirinya merupakan simbol bahwa Tabanan pada era kepemimpinan Bupati I Ketut Sundria pernah meraih prestasi berskala nasional dalam bidang kebersihan yang berupa Trophy Adipura, bahkan beruturut – turut hingga meraih Trophy Adipura Kencana.  Saya masih ingat ketika itu Tabanan masih menggunakan slogan Tabanan yang BALI (Bersih, Aman, Lestari, Indah). Slogan ini terpampang hampir di setiap pelosok Kabupaten Tabanan.

Sebelum dipimpin oleh I Ketut Sundria, Tabanan memiliki julukan sebagai ‘Daerah Lumbung Beras Pulau Dewata’. julukan ini muncul ketika Tabanan dipimpin oleh perwira TNI asal Purwokerto, Jawa Tengah sebagai Bupati Tabanan pada tahun 1979-1989 bernama Soegianto. Beliau sukses mengukir prestasi dalam bidang pertanian hingga Tabanan menyandang gelar tersebut. Dalam masa pemerintahan beliau juga GOR Debes didirikan. Kalau sekarang orang masih berkelakar tentang siap – siap dipimpin oleh pemimpin non Hindhu dan non Pribumi Bali, mungkin kita semua harus melihat kembali ke tahun 80an karena Tabanan pernah dipimpin oleh non Hindhu dan non Pribumi selama 10 tahun lamanya dengan prestasi yang sangat baik.

Akhir 2010 lalu saya agak sedikit terkejut membaca berita yang mengatakan kalau Kantor Bupati Tabanan tergenang banjir, karena diguyur hujan lebat. Padahal pada tahun yang sama, pemerintah Provinsi Bali menetapkan Kabupaten Tabanan menjadi proyek percontohan untuk penataan perkotaan berbasis lingkungan hidup yang dananya bersumber dari rancangan APBD Bali 2011 dengan anggaran sebesar Rp2 miliar.

Mungkin tahun ini pertama kali terdengar kata Banjir di Tabanan setelah tahun – tahun sebelumnya memang menjadi langganan Trophy Adipura.

Banjir yang melanda Tabanan di tahun 2010 melingkupi, Kantor Bupati Tabanan dan perkantoran di sekitarnya, Perumahan Taman Sekar di Kecamatan Kediri, jalan raya utama seperti di Jalan Pahlawan. Kantor-kantor pemerintahan, kantor Bank Sinar, RS Tabanan, Mapolres Tabanan, kantor DPRD Tabanan di Jalan Gatot Subroto. Sementara pemandangan mirip air terjun terlihat di bawah jembatan saluran air Desa Sanggulan yang tak jauh dari Kantor DPRD Tabanan.

Pada tahun 2012 lalu terjadi bencana tanah longsor Di Desa Karya Sari, Kecamatan Pupuan, Tabanan dengan 1 orang korban meninggal dunia.

Pada tahun 2013 juga terjadi tanah longsor di jalan yang menghubungkan Desa Jelantik dan Desa Apuan di Kabupaten Tabanan, Bali. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini hanya saja jalan yang biasa digunakan warga Banjar Kalibukbuk, Desa Jelantik, dan Desa Apuan setiap hari untuk menjual hasil kebunnya ke sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Tabanan menjadi terputus dan harus memutar sejauh 3 kilometer.

Pada tahun 2014, Tiga kecamatan di Tabanan yakni Baturiti, Penebel dan Marga diterjang longsor yang tersebar di 8, merenggut satu korban jiwa, dua luka-luka.

Pada tahun 2016 juga terjadi beberapa bencana tanah longsor dan pohon roboh di daerah Pupuan dan Penebel Tabanan. Tapi tidak menimbulkan korban jiwa.

Pada tahun 2016 ini , banjir juga terjadi lagi di depan BRSU Tabanan, banjir yang terjadi akibat meluapnya got yang berada di sebelah barat Rumah Sakit Umum Tabanan. Tinggi permukaan air sekitar 30 cm. setiap hujan deras air selalu meluap karena gorong-gorong yang kecil akibat tersumbat sampah yang dibuang senaknya.

‎Banjir juga terjadi di depan Perumahan Griya Loka Banjar Penyalin, Kerambitan, banjir setinggi lutut orang dewasa. Hingga bulan juni ini, sudah beberapa kali banjir terjadi di daerah ini, setiap turun hujan lebat, daerah ini akan terjadi banjir.

Luapan air semenjak di bangunya Perumahan Griya Loka karena saluran kecil. Di samping saluran kecil, banyak juga ada pasir dan koral bekas bangunan yang mengakibatkan meluapnya air, ungkap salah seorang warga yang engan menyebutkan namanya.

Bencana banjir dan tanah longsor adalah hal yang tidak bisa diduga, tapi seluruh wilayah rawan banjir dan bencana sudah dipetakan oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan telah diserahkan kepada BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) hanya saja Dalam praktik, peta risiko bencana bahkan peta rawan bencana belum dijadikan pedoman dalam penyusunan tata ruang. Tata ruang yang disusun tidak berjalan seperti yang diharapkan karena ada kekuatan eksternal seperti politik lokal dan desakan ekonomi sehingga daerah rawan bencana tetap dijadikan permukiman tanpa ada upaya mitigasi. Sebenarnya korban bencana bisa diminimalisir jika kontrol tata ruang dan pembangunan daerah bisa menerapkan aspek kebencanaan dengan menerapkan regulasi dan kontrol yang baik terhadap kontraktor dan pengembang.

Kita semua tentunya sangat berbahagia jika Tabanan kembali meraih Trophy Adipura. Kita semua juga berharap Tabanan menjadi daerah yang Bersih, Aman, Lestari dan Indah. Tabanan pernah menjadi lumbung berasnya Bali yang seharusnya berbahagia ketika turunnya hujan, tapi sekarang malah bersedih dan was – was ketika musim penghujan, karena setiap turunnya hujan akan terjadi bencana di Tabanan, entah itu bencana ringan ataupun bencana yang sampai menimbulkan korban jiwa.

Kita semua tahu kalau ini tidak bisa hanya diwujudkan oleh Pemerintah Daerah saja, disamping kita yang menjaga kebersihan lingkungan, kita juga berharap agar pembangunan dan tata kota di Tabanan bisa diatur dengan baik dan regulasinya juga bisa ditegakkan dengan baik.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

LEAVE A REPLY

four × four =