Sukla dan Halal, pemaksaan persamaan atas nama persaingan.

TOTAL : 602 ( TODAY : 1)

Pagi ini saya duduk di warung kopi langgganan, memesan secangkir kopi dan menyalakan sebatang rokok. Ada seorang teman yang datang sambil bercanda dalam bahasa bali “melahang nyiup kopi, sube maan label sukla ape sing”. Sambil senyum saya bertanya, apa sih maksudnya. Dia menceritakan kalau sedang kekinian soal warung – warung dengan label sukla, bahkan mungkin ada sertifikatnya. Hmmmm… saya bergumam dalam hati, ini namanya pemaksaan dalam persaingan. Mari kita telaah bersama.

Menurut Mpu Jaya Prema Ananda, Sukla adalah istilah budaya dalam masyarakat Bali dengan pengertian makanan atau persembahan yang suci. Kalau merujuk pada ajaran agama, makanan atau apa pun yang disebut sukla adalah hal-hal yang akan dipersembahkan kepada Tuhan, baik melalui dewa dewi (Istadewata) maupun persembahan kepada leluhur. Setelah dihaturkan jadilah makanan itu prasadamyang di dalam bahasa Bali dipakai kata lungsuran atau paridan. Inilah yang akan kita makan, bukan memakan yang masih sukla.

Kalau boleh saya simpulkan, istilah suka disini berhubungan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya bukan mengenai layak atau tidaknya makanan itu dimakan untuk menjaga kesucian manusia itu sendiri. Dari penjelasan diatas makanan yang baik, bersih dan sehat belum tentu bisa disebut sukla karena penentu sukla atau tidaknya makanan tersebut adalah apakah makanan tersebut telah dihaturkan atau tidaknya kepada Tuhan bukan dari bahan apa terbuatnya makanan tersebut. Sampai disini kira – kira sudah paham ya.

Menurut H. Sunhadji Rofi’i, Ketua LPPOM MUI, Dalam ajaran Islam, semua jenis makanan dan minuman pada dasarnya adalah halal, kecuali hanya beberapa saja yang diharamkan. Yang haram itupun menjadi halal bila dalam keadaan darurat. Sebaliknya, yang halal pun bisa menjadi haram bila dikonsumsi melampaui batas. Pengertian halal dan haram ini sesungguhnya bukan hanya menyangkut kepada masalah makanan dan minuman saja, tetapi juga menyangkut perbuatan. Jadi ada perbuatan yang dihalalkan, ada pula perbuatan yang diharamkan. Pengertian makanan dan minuman yang halal meliputi: Halal secara zatnya, Halal cara memprosesnya, Halal cara memperolehnya, dan, Minuman yang tidak halal

Dari penjelasan itu saya bisa simpulkan kalau halal adalah ungkapan yang ditujukan pada bahan dan pengolahan makanan. Sampai disini bisa paham ya?

Sudah jelas disini perbedaaan antara sukla dan halal, sukla merujuk kepada nilai spiritual, sedangkan halal merujuk kepada bahan dan cara pengolahan. Kedua istilah ini tidak sama dan tidak bisa di sama – sama kan. Kalaupun dijadikan sebuah perbandingan tidak akan menemukan hal yang bisa menjadi bahan perbandingan karena memang rujukan dari kedua istilah itu sangatlah berbeda. Apalagi untuk disertifikasi sukla, atas dasar apa bisa dilakukan sertifikasi, karena sukla memang merujuk kepada spiritualitas.

Saya disini tidak dalam posisi untuk antipati pada hal ini, saya dalam posisi untuk membuat kita semua belajar lebih cerdas untuk memilah dan memilih nilai dari sebuah propaganda, apalagi propaganda yang menyebarkan persaingan tidak jelas atau propaganda persaingan atas nama agama, karena menurut saya agama adalah pencarian nilai – nilai keTuhanan bukan sebuah kompetisi untuk menentukan pemenang. Agama adalah nilai spiritualitas yang tidak bisa diukur.

Marilah kita sama – sama menjaga diri kita untuk bisa lebih positif memilah dan memilih setiap informasi yang ada di hadapan kita, tidak serta merta kita menerima mentah – mentah sebuah informasi tanpa perbandingan dan refrensi yang baik.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Reff:
http://mpujayaprema.com/index.php/baca-posting/656/Makanan-Sehat-dan-Sukla

Pengertian Halal dan Haram Menurut Ajaran Islam

Mari Berbagi :