Solidaritas Untuk Ahok – Perdebatan Ideologi yang Terulang

343 total, 1 today

Beberapa orang mencoba mengkerdilkan aksi solidaritas untuk Ahok hanya semata pada tuntutan pembebasan Ahok. Mereka menganggap aksi solidaritas ini sebagai gerakan ketidakpuasan pendukung Ahok atas vonis dua tahun penjara yang dijatuhkan Hakim atas kasus penistaan agama yang disangkakan pada Ahok. Saya katakan orang – orang yang berkata demikian adalah orang – orang yang gagal paham.

Gerakan solidaritas ini bukanlah gerakan kerdil yang terbatas hanya pada Ahok semata. Ahok adalah simbol dari pejabat yang bersih, berintegritas dan bebas korupsi yang sangat jarang muncul di negara kita. Mungkin ada banyak pejabat seperti Ahok di daerah, tapi yang mampu mencuri perhatian publik hanyalah Ahok, sebab itulah Ahok muncul sebagai simbol.

Gerakan ini adalah cermin kemuakan masyarakat kita dengan retorika pejabat kotor yang memenuhi ruang publik dengan beragam kasus korupsi dan minim prestasi. Gerakan ini adalah wujud perlawanan dari masyarakat yang menginginkan pejabat yang bersih, bebas korupsi dan berintegritas terhadap pejabat yang menggunakan cara – cara kotor untuk meraih kekuasaan. Gerakan ini adalah penegasan bahwa rasionalitas masih dominan di atas identitas untuk menjadi komoditas politik di negara kita.

Membaca gerakan ini dari sudut pandang pertentangan antara pendukung Ahok dan bukan Ahok, hanya akan menggiring opini pada dua massa yang seolah berhadapan. Menurut saya pandangan ini keliru, karena saya melihat masyarakat kita tidak sedang berhadapan. Saya melihat masyarakat yang tergabung dalam gerakan ini sebagai masyarakat yang mencoba untuk mengimbangi suara yang memenuhi ruang publik, termasuk suara penuh kebencian atas nama agama yang riuh selama ini.

Ada politisi yang menyatakan bahwa demokrasi itu bukan hanya ribut di media sosial sambil ngopi di mall dalam ruangan ber AC, melainkan demokrasi itu di jalanan, di lapangan, di ruang nyata. Gerakan inilah tanggapan dari pernyataan politisi tersebut. Suara dari gerakan ini bukan hanya di media sosial, melainkan sudah mewujudkan diri di ruang nyata.

Ketika kemudian terjadi pembubaran dan intimidasi di lapangan, ini bukanlah bentuk pertentangan, ini merupakan bentuk provokasi untuk mengarahkan gerakan ini untuk keluar dari jalur damai untuk ditegaskan menjadi gerakan dengan prilaku anarkis yang meresahkan seperti yang mereka pertontonkan selama ini. Lihat saja berbagai bentuk nyinyir dan hoax yang mereka sebarkan di media sosial. Semua tujuannya sama, untuk memprovokasi dan mendiskreditkan gerakan ini.

Melihat gerakan ini diidentikkan dengan kebhinekaan, saya rasa ini adalah pandangan berdasarkan pluralitas peserta gerakan. Secara kasat mata memang kepesertaan dari masing – masing gerakan inilah yang membedakan satu sama lain, gerakan satunya mengakomodir tuntutan satu golongan dengan membawa satu identitas, sedangkan gerakan ini mengakomodir berbagai macam golongan dan identitas menjadi satu suara.

Pluralisme adalah cermin kebhinekaan yang merupakan semangat dari Pancasila. Negara kita telah banyak melalui perdebatan tentang ideologi, bahkan sampai terjadinya pemberontakan yang memakan banyak korban oleh kelompok – kelompok yang ingin mengganti Pancasila. Terbukti hingga kini Pancasila masih tetap menjadi ideologi yang paling sesuai untuk bangsa kita. Ketika beberapa pihak mencoba mengulang perdebatan ideologi antara agama dengan Pancasila seperti yang terjadi di masa lalu, maka gerakan ini menjadi satu penegasan bahwa masyarakat masih dominan berpihak pada Pancasila. Masyarakat tidak menginginkan negara ini hanya berdasar pada satu agama. Masyarakat masih menginginkan Pancasila sebagai dasar negara.

Di sisi lain, gerakan ini menunjukkan kalau kaum yang selama ini menggunakan agama sebagai komoditas politik tidaklah dominan. Mereka terlihat dominan dan menguasai ruang publik hanya karena kita diam. Suara mereka terdengar lantang hanya karena tidak ada suara lain sebagai penyeimbang. Gerakan ini sebagai bukti bahwa mereka hanyalah minoritas di negara ini. Mereka hanya segelintir orang, yang mengatasnamakan mayoritas. Mereka tidak mewakili Indonesia secara umum.

Kita semua memang harus bersuara, kita harus menunjukkan bahwa Indonesia masih berdasarkan Pancasila dan menghormati perbedaan, Indonesia bukanlah negara Intoleran. Kita harus menunjukkan bahwa rasionalitas masih dominan sebagai komoditas politik, agar para politisi di negara ini tahu bahwa masyarakat tidak bisa dirangkul dengan menjual identitas, masyarakat hanya bisa dirangkul dengan rasionalitas, dengan bukti dan program kerja. Dengan demikian kita berharap melalui gerakan ini bangsa kita bisa lebih baik dan lebih maju kedepannya.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

10 + 13 =