Setelah Raja Majapahit, akankah muncul Permaisuri Majapahit?

1,741 total, 1 today

Budaya dan kearifan lokal memang harus terus bersama – sama kita jaga agar tidak punah dan terhapus dari catatan sejarah. Saya melihat beberapa pemimpin daerah sedang berjuang untuk kembali menegakkan kejayaan masa lalu dengan kembali membangun puing – puing sejarah yang telah hancur. Tapi dalam pemahaman saya, ini keliru adanya. Membangun kejayaan masa lalu sebaiknya dengan membangun nilai – nilai keleluhuran yang bisa bermanfaat untuk dikembangkan di masa kini dengan keadaan tradisi dan budaya yang ada di masa kini.

Satu contoh yang saya rasa memang patut ditiru oleh pemimpin daerah adalah Bupati Purwakarta,  Dedi Mulyadi. Beliau merombak setiap sudut purwakarta kembali menjadi purwakarta seperti sedia kala dengan segala tradisi dan nilai – nilai yang diturunkan oleh leluhurnya, tanpa meninggalkan konsep modernitas tradisi dan budaya masa kini. Menegakkan tradisi leluhur bukan berarti harus kembali menjalani keadaan seperti masa lalu. Tolak ukur yang digunakan hanya kearifan leluhur yang kemudian di implementasikan dalam keadaan sekarang ini. Beliau tidak merubah kembali Purwakarta menjadi Wanayasa yang notabene adalah cikal bakal dari berdirinya purwakarta sebagai kabupaten. Beliau tidak juga mendeklarasikan dirinya sebagai Raja Wanayasa, beliau tetap menjadi Bupati Dedi Mulyadi dengan nilai – nilai leluhur Purwakarta di jaman modern ini.

Fenomena Raja dan kerajaan di masa lalu memang sering memabukkan para pemimpin yang seolah – olah merasa bisa membawa negeri ini kedalam kejayaan masa lalu tanpa ingin memahami lebih dalam warisan ajaran dari leluhur dan sendi – sendi tradisi yang harus dijaga agar budaya itu tetap terjaga. Contoh saja fenomena Raja Majapahit yang hingga sekarang masih tidak jelas apa yang hendak dibawakan dan kenapa harus menjadi majapahit? Kalau hendak menjadi pemimpin tetaplah menjadi pemimpin dengan konsep kepemimpinan modern tapi dengan nilai – nilai keluhuran majapahit yang memang harus tetap ada, karena itu adalah akar dari budaya yang melekat kepada diri kita. Sekali lagi saya tekankan, ambillah nilai dari tradisi dan budaya majapahit tanpa harus mencatut nama majapahit apalagi mendeklarasikan diri sebagai raja.

Sangat berlebihan dan saya rasa cenderung lebay ketika ada oknum yang hendak kembali mendirikan kerajaan majapahit apalagi claim kalau si A atu si B adalah keturunan raja. Kalau ditilik dari keadaan sekarang Raja itu dinilai dari sikap, bukan hanya sebutan. Lihat saja Klewang, si Raja Begal. Kenapa dia disebut raja, karena pengikutnya mengakui sikap si Klewang memang paling sadis diantara semua begal. Saya rasa klewang tidak membuat claim atas dirinya sebagai raja, dia hanya diangkat sebagai raja oleh kelompok begal sebagai pengakuan. Sampai disini paham ya.

Mari kita lihat kutipan berita berikut ini:

Pesan Ni Putu Eka Wiryastuti Saat Meresmikan Candi Leluhur Majapahit

 Bupati Tabanan Bali, Ni Putu Eka Wiryastuti, meresmikan Candi Leluhur Majapahit yang dibangun di Desa Sumber Tanggul, Kecamatan Mojosari,Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, Minggu (19/6/2016) kemarin.

Ia berharap, pembangunan candi tersebut dapat memantik rasa peduli masyarakat terhadap sejarah dan menginspirasi para pemimpin saat ini untuk bisa mengembalikan kejayaan nusantara.

 “Dengan diresmikannya Candi Leluhur Majapahit ini, semoga bisa menjadi inspirasi para pemimpin dan masyarakat, serta membangun rasa kepedulian terhadap sejarah dan belajar dari pengalaman pemimpin-pemimpin yang lalu untuk mengembalikan kejayaan Nusantara Indonesia. Misalnya belajar dari tokoh Gajah Mada yang kala itu merupakan seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit, melalui sumpah palapa berhasil menyatukan Nusantara, inilah yang dapat menjadi Inspirasi para pemimpin saat ini,” kata Eka dalam keterangan yang diterima, Senin (20/6/2016).

 “Awal mula munculnya kerajaan Majapahit itu di Mojokerto, dan kebetulan saya keturunan kerajaan Majapahit. Untuk itu, secara ikatan batin saya wajib memberikan bukti pengabdian kepada leluhur Majapahit sebagai wujud rasa cinta kasih dan penghormatan saya kepada leluhur. Karena tanpa mereka, kita tidak ada dan tanpa mereka bangsa inipun tidak ada,” ujar Eka mengungkapkan alasan kepeduliannya.

 Candi leluhur Majapahit, terletak di dalam Pura Sasana Bina Yoga, mulai dibangun sejak 7 Januari 2016. Pada peresmian Candi leluhur Majapahit tersebut dilangsungkan Upacara Pemelaspasan. Candi disebutkan bisa dijadikan rumah ibadah bagi umat Hindu yang berada di Desa Mojosari tersebut.

 “Dengan adanya candi ini, besar harapan kami kepada pemimpin dan calon pemimpin masa depan Indonesia mendapatkan tuntunan untuk menjadikan bangsa ini lebih baik dan bisa mengembalikan kejayaan nusantara dengan mengedepankan spiritual sebagai pondasi kuat untuk membangun,” ujarnya.

 Sumber : tribunnews.com

Mari kita kupas per statement yang dikeluarkan oleh Ibu Eka dari berita diatas.

“Dengan diresmikannya Candi Leluhur Majapahit ini, semoga bisa menjadi inspirasi para pemimpin dan masyarakat, serta membangun rasa kepedulian terhadap sejarah dan belajar dari pengalaman pemimpin-pemimpin yang lalu untuk mengembalikan kejayaan Nusantara Indonesia…….

Ibu Eka mungkin sudah lupa kalau Beliau memiliki daerah yang Pimpin yang bernama Tabanan. Kalau Mojokerto mendirikan Candi Majapahit yang notabene di claim sebagai daerah tempat munculnya kerajaan Majapahit saya rasa wajar sebagai pengingat kalau Mojokerto pernah melahirkan kerajaan yang dahulu menguasai Nusantara. Tapi kalau di Tabanan di bangun Patung Soekarno, apakah wajar? Karena dinilai dari kajian dan buku manapun, Soekarno tidak pernah menorehkan sejarah secara langsung di Tabanan. Singaraja adalah Daerah asal dari Ibunda Bung Karno, wajar kalau disana didirikan patungnya. Tapi di Tabanan? Saya rasa perlu sedikit kajian tentang sejarah dan kebudayaan untuk hal ini.

Torehan sejarah oleh tokoh – tokoh besar sangat banyak di tabanan. Mulai dari Sagung Wah, Ketut Mario, Ngurah Rai, dan banyak lagi kalau dikaji dari buku – buku sejarah. Meskipun Ibu Eka Berkelit menggunakan aturan dan undang – undang, saya disini tidak membicarakan undang – undang karena saya tau tidak ada diatur mengenai keharusan untuk menghargai kearifan lokal dalam tata kelola apbd. Yang saya mau bicarakan disini ya kepada Ibu yang sekarang menjadi Ibu di Tabanan ya hargai sedikitlah perjuangan tokoh – tokoh masa lalu yang telah susah payah membangun Tabanan. Minim sekali refrensi sejarah dan monument sejarah yang mengingatkan betapa besarnya tokoh – tokoh masa lalu yang lahir di Tabanan.

“Awal mula munculnya kerajaan Majapahit itu di Mojokerto, dan kebetulan saya keturunan kerajaan Majapahit…..

 Statement ini yang membuat saya seperti Jim Carey dalam The Mask, mulut saya menganga terkejut terbuka lebar dan woooow… Satu orang anggota DPD telah membuat claim ini, dan sekarang seorang bupati ikut juga melakukan claim. Dalam hati saya berfikir kalau ini adalah sesuatu yang “Amazing” Majapahit memang sangat mengagumkan hingga tokoh seperti anggota DPD dan Bupati berebut untuk claim keturunan.

Mungkin anggota DPD adalah Raja Majapahit, dan Ibu Eka adalah Permaisuri Majapahit.

“Dengan adanya candi ini, besar harapan kami kepada pemimpin dan calon pemimpin masa depan Indonesia mendapatkan tuntunan ….

 Paragraf terakhir saya setuju, dan sekali lagi saya tekankan kalau yang diambil dari sejarah adalah nilai – nilai budaya dan ajaran yang diwariskan, tidak serta merta harus mewujudkan kembali kerajaan itu dimasa sekarang ini.

Mari kita bangun negeri kita bersama dengan nilai – nilai warisan leluhur tanpa harus menutup diri dari modernitas yang memang sedang manjangkit masyarakat kita. Kejayaan masa lalu bukan tidak mungkin untuk kita wujudkan bersama, sangat mungkin kalau kita semua bersama – sama bahu membahu membangun negeri ini dalam satu kesatuan Indonesia.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

four × three =