Semua Adalah Sumbu Pendek Pada Waktunya

462 total, 1 today

Bertamu atau berkunjung adalah hal yang wajar terjadi dalam interaksi sosial kita. Terutama kita yang memang dibentuk oleh budaya ketimuran. Siapapun yang kamu tidak senangi, bahkan musuhmu sekalipun layak disambut atau dijamu dengan baik ketika bertamu. Terkecuali orang – orang yang bertamu dengan niat tidak baik, semisal dengan membawa senjata, atau membuat keributan, dan yang sejenisnnya. Ketika kunjungan dilakukan dengan baik, sewajarnya kita sebagai tuan rumah juga menyambutnya dengan baik.

Kita seringkali jatuh pada sudut pandang hitam dan putih ketika melihat satu tokoh mengunjungi tokoh lainnya. Padahal, bertamu tidak bisa secara sederhana kita analisa sebagai hitam dan putih. Ada ruang abu – abu yang sangat besar yang tidak bisa kita perkirakan atas maksud dan tujuan seorang tokoh mengunjungi tokoh lainnya. Siapalah kita ini yang hanya bisa melihat dan memperkirakan dari luar, sedangkan yang benar – benar tahu apa yang terjadi ya mereka – mereka yang di lingkaran itu.

Tidak semua kunjungan adalah bukti kedekatan, tidak semua salaman adalah perdamaian. Tidak juga semua orang yang ada di lingkaran kita adalah kawan, dan tidak semua orang yang ada di lingkaran lawan adalah lawan. Bukankah konsep politik memang selalu abu – abu seperti ini. Lalu kenapa kita cendrung menjadi reaksioner atas sebuah kunjungan?

Tukang catur akan menganggap sebuah kunjungan adalah permainan catur. Tukang kuda akan menganggap sebagai langkah kuda. Tukang cukur akan menganalisa sebagai upaya pencukuran. Tukang kaca akan menganalisa sebagai upaya pecah belah. Kita lupa analisa yang paling sederhana. Budaya timur dimana kita memang dididik untuk menerima tamu sebaik – baiknya. Mencontohkan bahwa semua tamu layak dihormati.

Saya ingat dalam satu wawancara yang dilakukan oleh Gus Dur dalam acara Kick Andy. Beliau mengatakan bahwa yang layak menjadi musuhnya di Indonesia ini hanyalah satu orang yaitu Pak Harto. Tapi itupun ketika hari raya beliau masih mengunjungi Pak Harto. Jadi sebenarnya beliau ingin menyatakan bahwa tidak ada yang jadi musuhnya di negara ini. Bukankah pemahaman ini adalah pemahaman yang telah pudar selama ini? dan bukankah pemahaman ini adalah pemahaman yang layak untuk kita hidupkan kembali? Tentunya harus ada yang memberi contoh atas ini.

Terlepas dari ada ataupun tidak maksud dan tujuan dari kunjungan GNPF MUI ke istana baru – baru ini. Kita selayaknya memandang ini sebagai upaya memberi contoh atas budaya politik yang baik. Budaya politik yang sejuk dan penuh etika ketimuran. Kita tentu ingat bahwa Jokowi pernah mengunjungi Prabowo, lalu apakah mereka sejalan? Belum tentu. Kita juga pernah ingat SBY mengunjungi Jokowi, lalu apakah mereka sejalan? Belum tentu juga. Ketika semua belum tentu dan belum pasti, lalu kenapa kita mesti bertindak seolah – olah paham apa yang akan terjadi?

Dalam pandangan saya, kunjung mengunjungi adalah hal yang biasa, dan budaya ini adalah budaya yang baik dan sejuk dalam dunia perpolitikan yang sering sekali panas tanpa sebab yang jelas. Sisi positifnya adalah, elite politik sedang memberikan contoh yang baik dalam berpolitik. Jalan dialog yang lebih elegan daripada lari dan sembunyi tapi berterteriak dari kejauhan. Hasil dari dialog belum tentu menguntungkan. Tapi nalar kita tentu tahu maksud dan tujuannya. Nalar yang sehat tentu mengerti tujuan dari sebuah kebijakan diambil.

Menjadi reaksioner sangat melelahkan sekarang ini. Lihat saja, betapa melelahkannya ketika berusaha meyakinkan diri bahwa Jokowi tidak akan merangkul kelompok intoleran, tapi kenyataannya kelompok yang diberi label intoleran tersebut malah bertemu dengan Jokowi di istana. Tapi apakah kalian sudah yakin kalau Jokowi sedang berupaya merangkul mereka? yakin dari mana? Dari pemahaman nenek lu?

Sama juga dengan pendukung kelompok GNPF MUI, betapa lelahnya meyakinkan diri melihat mereka berjuang dengan idealisme dan selalu nyinyir atas kebijakan pemerintah. Tapi disaat yang sama petinggi mereka justru memuji – muji pemerintah setelah diterima di istana. Apakah kalian yakin mereka sedang berupaya merapat ke istana? Yakin darimana? Seyakin kalian bahwa bumi itu datar?

Kalau saya ibaratkan, orang – orang reaksioner adalah orang – orang yang berpesta ketika pertemuan pertama, bahkan belum ada kata deal, belum ada negosiasi, kesepakatan pun masih jauh. Ini baru pertemuan pertama, belum ada apa – apanya. Mereka mungkin hanya ingin bertemu, bersilaturahmi, kita ambil sisi positifnya saja. Nah, kalau mereka kembali melakukan pertemuan lain di luar petemuan di hari raya, baru layaknya kita curiga akan ada deal lain setelah ini. kita liat aja perkembangannya.

Seperti yang teman saya katakan, politik sekarang ini belum bisa mewaraskan, justru lebih banyak menjerumuskan orang menjadi reaksioner atau sumbu pendek. Bahkan yang waras-pun akan berubah menjadi sumbu pendek pada waktunya.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

two × 1 =