SBY Dalam Pusaran Sadap Menyadap

TOTAL : 537 ( TODAY : 1)

Kita semua kenal dengan sosok SBY dan segala baper yang dia bawa setelah tidak lagi berada pada tampu kekuasaan. Apapun yang sedang dibawa SBY dan segala kepentingan politiknya sekarang melalui Partai Demokrat tidak akan bisa melepaskan statusnya sebagai seorang Mantan Presiden. Sadar atau tidak, status mantan yang melekat pada dirinya tidak akan bisa melepaskan penilaian orang terhadap apa yang pernah dilakukannya pada negeri ini ketika dia berkuasa.

Ada satu teori unik dari seorang teman mengenai mantan.  Setiap mantan akan selalu baper melihat keadaan kita lebih baik daripada ketika bersamanya. Teori ini berlaku pada semua sisi kemantanan,  baik itu hubungan asmara, pekerjaan, jabatan dan sebagainya. Kadar kebaperan dari mantan bisa kita ukur, takarannya menggunakan reaksi dari mantan atas apa yang kita lakukan.

Seorang mantan yang sehat akan bersikap biasa dan menganggap kita sebagai teman, meskipun menyembunyikan bapernya. Sedangkan mantan yang sakit jiwa akan mencoba untuk masuk kembali dalam kehidupan kita dengan berbagai cara. Biasanya dimulai dengan cari perhatian, mencoba bijak dengan pura – pura menasehati, terakhir biasanya memaksa untuk bertemu dan kalau tidak dituruti pasti ngambek dan menciptakan konflik yang bisa menggangu kita. Inilah teori dasar kemantanan.

Berpegang pada teori ini, saya mencoba menelaah apa yang sedang terjadi dengan bapernya SBY sekarang ini. Menurut saya, sekarang SBY tidak sedang baper, tapi sudah dalam fase ngambek dan karena ngambeknya tidak digubris, maka dimunculkanlah konflik yang seolah – olah memposisikannya sebagai mantan yang tersakiti.

Kata sadap menyadap sebenarnya dimulai dari press conference yang diadakan oleh SBY sendiri. Kata sadap menyadap tidak pernah ada dalam persidangan Ahok. Kata – kata yang jelas dikeluarkan oleh tim pengacara Ahok adalah “kami mempunyai bukti” bukan rekaman atau hasil sadap dan yang sejenisnya. Tidak ada satupun hasil rekaman persidangan yang ada menyebutkan sadap menyadap selama proses persidangan tersebut.

SBY menyimpulkan sendiri bahwa dirinya disadap, hanya agar menemukan dasar hukum  untuk menarik pihak Polri bahkan Presiden agar ikut dalam pusaran ini. Tapi sayangnya Jokowi memang Presiden yang asyik, dan hanya merespon dengan “itu kan isu pengadilan, itu kan isunya di pengadilan lho, dan yang bicara itu kan pengacara, pengacaranya pak Ahok dan pak Ahok, ya ndak? ya kan? lah kok barangnya digiring ke saya? kan ndak ada hubungannya.”.

Ini mirip dengan mantan yang curhat tentang pacarnya dan meminta kita untuk terlibat dan menyelesaikan masalahnya, sedangkan kita hanya merespon dengan “itu kan masalah lu, ngapain gue dibawa – bawa”.

Tapi begini, kalau kita mengamati press conference yang dilakukan oleh SBY, saya melihat teori cocoklogi tingkat tinggi yang dilakukan untuk menggiring opini seolah – olah Jokowi berada pada pihak Ahok dalam kasus ini. Padahal Jokowi sendiri sudah dengan tegas mengatakan tidak akan melakukan intervensi dalam bentuk apapun.

Dalam press conference tersebut, SBY mengatakan “berangkat dari pernyataan pihak pak Ahok yang memegang bukti atau transkrip atau apapun yang menyangkut percakapan saya dengan pak Ma’ruf Amin, saya nilai itu adalah sebuah kejahatan karena itu adalah penyadapan illegal”. Kata kuncinya adalah BUKTI dan PENYADAPAN ILLEGAL.

Dari hasil penelusuran saya, yang dimaksudkan dengan “bukti” yang digunakan oleh pihak Ahok adalah berita dari situs online liputan6, tidak ada satupun pengacara maupun Ahok yang menyebutkan bukti berbentuk rekaman atau transkrip atau hasil penyadapan dan yang lainnya seperti yang dikatakan oleh SBY. Yang menjadi menarik disini adalah darimana datangnya kesimpulan SBY yang mengatakan Penyadapan Illegal?

Tiap kalimat SBY dalam press conference tersebut menjadi sangat lucu kalau pada pembukaannya saja cocokloginya sudah runtuh, apalagi kalau membahas soal watergate dan lain – lain.

Yang menarik disini menurut saya adalah kenapa SBY justru membawa Jokowi dalam pusaran ini? karena seperti yang telah saya bahas diatas isu penyadapan illegal hanyalah isu sepihak yang dihembuskan oleh pihak SBY atas kesimpulannya sendiri, bukan atas ungkapan pihak lain baik itu Ahok maupun tim pengacaranya. Saya menduga SBY hanya mencari cara agar bisa menemukan dasar hukum untuk mengaitkan kasus Ahok dengan Jokowi. Isu penyadapan illegal hanyalah cara untuk menghembuskan opini bahwa Jokowi menggunakan instansinya untuk membantu Ahok.

Dari isu ini kemudian SBY menggunakan Partai Demokrat yang menjadi satu – satunya alat untuk mengusahakan hak angket terkait dengan penyadapan tersebut.  Hak angket bisa saja menjadi awal konflik yang panjang dan menggangu pemerintahan Jokowi ditengah pemberantasan mafia dan korupsi yang tengah digenjot selama ini.

Mirip seperti teori kemantanan, semua usaha ini hanya agar kita bisa menerima mantan kembali dalam kehidupan kita, tapi sebagai orang yang baik, hendaknya kita memberi nasehat kepada mantan bahwa semua sudah berakhir dan berharap mantan bisa menerima kenyataan kalau hidup kita justru lebih baik tanpa dia.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :
  • Nggak nyangka…. Mantan presiden ke enam kayak gitu……. Prihatin….. Nggak salah kok anaknya maju pilgub…. Tapi memang strategi sby luar biasa bisa mempengaruhi tokoh tokoh muslim… Entah gimana jadinya negara ini… Hanya Waktu yang bisa menjawabnya….. Sutradara yang luar biasa….!!!!

  • Mantan yg sangat maruuk

  • Bukannya justru kebalikan nya, sangmantan di pancing buat keluar sarang. ..hihihi