SBY Balas Buku Dengan Buku Jokowi Balas Buku Dengan Polisi

TOTAL : 655 ( TODAY : 1)

Ada yang masih percaya dengan kalimat seperti judul yang saya tuliskan diatas. Keriuhan di media sosial yang menyebarkan kalimat diatas karena banyak orang yang tidak sadar kalau kalimat tersebut mengandung kesalahan logika atau logically falacy. Saya akan coba bedah dimana letak kesalahan logikanya.

Buku Gurita Cikeas yang dituliskan oleh George Junus Aditjondro adalah buku dengan metode penulisan yang sah. Kredibilitas George juga sudah tidak diragukan lagi dalam dunia akademi dan tulis menulis.

Kenapa George Junus Aditjondro tidak dipolisikan ketika itu? Karena memang tidak bisa dipolisikan. Metode penulisan yang digunakan oleh buku Gurita Cikeas adalah metode menggunakan data – data sekunder atau metode dengan data yang bersumber dari kutipan artikel, berita, ataupun wawancara yang ada baik di media cetak maupun elektronik. Data dari sumber yang kredibel seperti media mainstream atau media televisi memang merupakan data resmi yang sudah tidak mungkin untuk dibantah.

Ingat, mempolisikan seorang George Junus Aditjondro dengan data yang kredibel, justru akan membantu penulisnya membongkar data yang lebih besar lagi. Karena proses penyelidikan yang akan dilakukan oleh pihak kepolisian justru akan membongkar lebih dalam lagi. Itulah kenapa George tidak dipolisikan.

Kita juga harus ingat, buku Gurita Cikeas pada awal peredarannya sempat dicekal dan ditarik dari peredarannya, bahkan sempat hilang dari toko buku di Indonesia. Bahkan ada pihak – pihak yang menilai kalau pencekalan dan penarikan tersebut berhubungan dengan pihak Cikeas meskipun tanpa bukti yang jelas.

Kemunculan buku Cikeas Menjawab yang ditulis oleh Garda Maeswara sebenarnya bukanlah buku bantahan resmi dari pihak Cikeas atas buku Gurita Cikeas, melainkan buku tersebut adalah sudut pandang yang berbeda atas buku Gurita Cikeas seperti yang di klaim oleh penulisnya. Buku Cikeas Menjawab menggunakan metode pengumpulan data yang sama yaitu menggunakan data sekunder seperti yang digunakan oleh buku Gurita Cikeas. Bahkan penulisnya sendiri membantah kalau buku Cikeas Menjawab berhubungan dengan pihak Cikeas.

Menganalogikan saling bantah membantah antara buku Gurita Cikeas dengan buku Cikeas Menjawab adalah sebuah kesalahan logika. Hingga saat ini, belum ada bantahan terhadap buku Gurita Cikeas, yang ada hanya buku dengan sudut pandang berbeda mengenai George Junus Aditjondro sebagai penulis, bukan buku bantahan atas data yang disodorkan oleh buku Gurita Cikeas. Menghubung – hubungkan buku Cikeas Menjawab dengan pihak Cikeas adalah kesalah logika yang lebih fatal lagi, karena pihak penulisnya sudah membantah adanya hubungan buku tersebut dengan pihak Cikeas.

Buku Jokowi Undercover yang ditulis oleh Bambang Tri memuat fitnah. Dikatakan memuat fitnah karena buku tersebut tidak didukung oleh data primer, sekunder atau data pendukung lainnya yang kredibel.

Dalam bedah buku yang dilakukan oleh pihak Bareskrim Polri terungkap kalau isi dari buku Jokowi Undercover adalah analisis dari foto yang dilakukan oleh Bambang Tri tanpa adanya dukungan dari data sekunder atau data pendukung lainnya. Terungkap juga kalau Bambang Tri bukanlah seorang penulis yang kredibel alias tanpa track record sebagai seorang penulis yang bisa dipercaya, melainkan Bambang Tri adalah seorang peternak.

Tindakan polisi untuk mempidanakan penulis buku Jokowi Undercover menurut saya memang tindakan yang sangat tepat. Berbeda dengan buku Gurita Cikeas yang memuat data dan metode penulisan yang sah, buku Jokowi Undercover merupakan buku fitnah dan memang layak untuk mendapatkan tidakan tegas di depan Hukum, sehingga kedepannya tidak ada lagi yang bisa seenaknya menulis dan menerbitkan buku dengan tuduhan terhadap seseorang tanpa data yang jelas yang berujung pada fitnah.

Saya jelaskan sekali lagi, Menghubung – hubungkan SBY yang membantah buku dengan buku  adalah sebuah kesalahan logika yang fatal, karena pihak Cikeas sendiri tidak pernah membantah buku Gurita Cikeas melalui buku, pihak Cikeas banyak membantah melalui media massa kala itu. Menyalahkan Jokowi yang mempolisikan penulis buku Jokowi Undercover juga merupakan kesalahan logika, karena buku Jokowi Udercover adalah sebuah buku fitnah.

Membiarkan masyarakat menilai isi buku Jokowi Undercover tersebut juga adalah sebuah kesalahan yang fatal karena buku tersebut bukanlah buku dengan metode penulisan yang sah, melainkan buku yang hanya memuat fitnah. Oleh karena itu membiarkan buku tersebut beredar justru sama seperti membiarkan fitnah beredar di masyarakat.

Apa tujuan penyebaran isu ini? dalam pandangan saya di tengah semua yang dihadapi oleh pemerintah saat ini, hal – hal salah logika seperti ini justru banyak beredar dengan tujuan hanya satu yaitu pelemahan kredibilitas terhadap pemerintah. Ketika kredibilitas terhadap pemerintah melemah, maka dukungan terhadap program pemerintah juga melemah, dan yang kembali jadi sasaran adalah terhambatnya pembangunan, karena pemerintah akan selalu disibukkan oleh hal – hal seperti ini.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :