Sakit Mental Dan Jalan Pintas Spiritual

321 total, 1 today

Ada yang menarik ketika kita membahas mengenai kondisi yang memunculkan banyak orang yang mendadak menjadi orang suci atau kalau saya istilahkan dengan dengan bahasa sederhana mendadak agamais yang bermunculan belakangan ini. Dimulai dari cara berpakaian, kata – kata yang diucapkan, hingga petuah – petuah melalui ceramah dan tulisan status di media sosial yang mengutip kitab agama masing – masing.

Ada satu istilah yang menarik dari seorang psikolog bernama John Welwood di tahun 1984 yang dikenal dengan istilah “Spiritual Bypass”. Istilah ini digunakan untuk mendefiniskan kondisi orang yang memiliki kecenderungan untuk menggunakan penggunaan praktik dan keyakinan spiritual untuk menghindari berurusan dengan perasaan kita yang menyakitkan, luka yang belum terselesaikan, dan kebutuhan emosional dan psikologis yang mendasar.

Setiap orang tentu pernah mengalami hal – hal yang menyakitkan perasaannya selama hidup. Sebagian orang tersebut juga ada yang memiliki kecenderungan untuk menghindari rasa sakit yang ditimbulkan dari masalah tersebut, bukan malah menghadapinya dan mencoba menyembuhkan diri.

Mau tidak mau, suka tidak suka, secara psikologis, kita semua memerlukan rasa sakit dan melatih mental kita untuk bisa bertahan dari rasa sakit. Seperti halnya badan kita, sakit justru melatih kekebalan tubuh kita untuk bisa bertahan, mental atau jiwa kita juga memerlukan hal yang sama untuk bisa bertahan.

Ketidaknyamanan dari rasa sakit tersebut kadang membuahkan pelarian oleh sebagian orang, ada yang berlari menuju alkohol, narkotika, dan lain sebagainya. Jalur umum yang dipilih oleh sebagian orang adalah jalur spiritual. Kondisi ini banyak menjelaskan peristiwa beberapa tahun lalu dimana beberapa orang pesohor di negeri ini memilih untuk menemui guru spiritual ketika sedang terlibat pada satu masalah. Secara sederhana “spiritual bypass” ini bisa saya ibaratkan dengan “kalau sakit bukannya ke dokter malah memilih dukun”.

Belakangan, kecenderungan ini malah menjamur. Mulai dari masalah pribadi, hingga masalah negara sekalipun mereka anggap bisa diselesaikan dengan jalur spiritual. Mereka sulit untuk membedakan antara mana masalah yang menjadi urusan duniawi, dan mana masalah yang bisa diselesaikan dengan jalur spiritual. Semua dengan mudah dianggap bisa selesai melalui jalur spiritual. Singkatnya, apapun masalah yang anda hadapi, solusinya hanya ada pada guru spiritual atau agama terdekat.

Kondisi dimana logika akal dan spirit sudah menyatu seperti ini membuat mereka sering bias dalam menghadapi banyak hal. Pemahaman ini kemudian memunculkan anggapan kalau seorang guru spiritual atau pemimpin keagamaan bisa mengetahui bahkan menyelesaikan berbagai macam masalah yang terjadi, mulai dari masalah pribadi hingga masalah – masalah yang menyangkut negara. Kondisi ini yang memposisikan seorang guru spiritual atau keagamaan memiliki pemahaman absolut atas semua hal yang terjadi di dunia ini.

Kondisi yang mengabsolutkan guru spiritual atau pemimpin keagamaan seperti ini belakangan justru berubah menjadi pengkultusan terhadap orang – orang yang dianggap pemimpin keagamaan tersebut. Sederhananya, masyarakat kita berpikir kalau seorang pemimpin keagamaan tidak pernah salah, kecuali kalau dia memang sudah terbukti terlibat sebuah masalah. Bahkan ketika sudah terbukti terlibat dalam masalah sekalipun ada banyak yang memunculkan pembelaan yang tidak masuk akal hanya untuk membenarkan tindakan guru spiritual atau pemimpin keagamaan tersebut.

Pengkultusan terhadap pemimpin keagamaan seperti ini yang membuahkan anti-kritik terhadap pemimpin keagamaan. Sikap kritis terhadap para pemimpin keagamaan sering dipandang sebagai penistaan, dan setiap orang yang mengkultuskan pemimpin tersebut dengan tegas pasang badan untuk membela, bahkan bersedia untuk mengorbankan nyawanya demi sang pemimpin agama.

Mereka semua lupa kalau pemimpin kegamaan, pemeluk agama, atau siapapun adalah seorang manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan. Yang menjadi nilai kita sebagai manusia adalah cara kita menghadapi akibat dari kesalahan yang kita perbuat. Tidak ada manusia suci yang terbebas dari kesalahan, semua pasti pernah berbuat salah. Salah ucap dan dianggap menistakan agama hadapi dengan pengadilan, salah masuk lobang dan menyakiti perasaan perempuan ya dihadapi dengan titik… titik…

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

1 × 1 =