Ria, Potret Prostitusi Terselubung di Bali

TOTAL : 1,450 ( TODAY : 17)

Ria adalah fakta bahwa di Bali memang ada praktek prostitusi terselubung yang masih belum tersentuh oleh aparat. Ria hanyalah satu dari banyak perempuan lainnya yang menekuni profesi ini. Kalau mau ditelusuri lebih jauh, ada banyak sekali perempuan seumuran dengan Ria yang menjalani profesi ini. Mulai dari umur 14 hingga 25 tahun-an. Mulai dari usia SMP hingga usia kuliah. Tarifnya pun beragam, Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan tergantung kepada siapa jasa tersebut ditawarkan.

Beberapa dari mereka pernah saya temukan sedang menawarkan jasanya sepulang sekolah dan masih mengenakan seragam, hanya atasannya yang diganti dengan baju kaos tapi masih mengenakan rok abu – abu. Mereka datang berdua, ada yang diantarkan oleh ibu – ibu setengah baya, ada juga oleh teman seumuran mereka.

Usia yang masih belasan justru menjadi nilai lebih bagi mereka yang menekuni profesi ini, pangsa pasar terbuka lebih luas dan lebih mudah untuk ditawarkan pada peminatnya. Mulai dari anak muda galau yang ingin coba – coba, hingga om – om yang kerap kali menjadikan mereka pelampiasan atas kejenuhan berhubungan dengan istrinya dirumah.

Ada beberapa jenis praktek penawaran jasa yang dilakukan, ada yang melalui mucikari, ada yang inhouse atau bisa langsung pilih di tempat, ada juga yang menawarkan jasa melalui penginapan – penginapan yang bertebaran di daerah Denpasar, Sanur, dan beberapa penginapan kecil lainnya. Biasanya mereka menitipkan nomor telepon mereka kepada penjaga masing – masing penginapan untuk dihubungi jika ada orang yang menginginkan jasa yang mereka tawarkan.

Belakangan saya amati, banyak yang menawarkan jasanya melalui media sosial. Beberapa group di Facebook sempat menjadi ajang berkumpulnya penjual dengan pembeli, lengkap dengan testimoni pengguna jasa bahkan ada kode penilaian tersendiri untuk masing – masing penyedia jasa.

Ada beragam motif yang melatar belakangi para perempuan ini menawarkan tubuh mereka, yang paling banyak saya ketahui mereka hanya mengejar uang. Ada beberapa yang memang menyukai hubungan yang berganti – ganti pasangan, daripada selingkuh dan di gratiskan, mending mereka menawarkan pelayanan yang berbayar, enaknya dapet, uangnya juga dapet, begitu pengakuan salah seorang yang saya temui.

Prilaku seks yang cenderung bebas di kalangan remaja jaman sekarang mungkin adalah salah satu faktor yang memicu semakin maraknya penyedia jasa tubuh di kalangan remaja. Kebanyakan dari mereka terlibat pada gaya hidup hedonis yang tidak mampu disediakan oleh orang tua mereka. Mereka memilih untuk memenuhi kebutuhan hidup hura – hura mereka dengan menjual tubuh sepulang sekolah, daripada mencari pacar yang hanya akan menghasilkan sakit hati, mending mereka cari uang ke om – om, begitu pengakuannya.

Jam kerja yang begitu singkat, kurang lebih satu jam, mereka bisa mendapatkan uang yang lumayan besar. Pada beberapa orang yang saya temui, per-hari mereka bisa menghasilkan uang antara 1-2 juta dengan melayani 5-8 orang. Pendapatan yang begitu besar dan menggiurkan kalau dibandingkan dengan kebanyakan orang yang bekerja pada perusahaan bahkan setara manager sekalipun.

Salah seorang penyedia jasa bahkan ada yang mengendarai kendaraan roda 4, kalau saya perkirakan cicilannya antara 3-4 juta per bulan, dengan lama cicilan 4 tahun. Bahkan tinggal di apartemen dengan sewa antara 2-3 juta per bulan. Bisa dibayangkan bertapa enaknya hidup yang ditawarkan oleh profesi ini.

Praktek prostitusi ini marak dalam kehidupan pariwisata di Bali. Ini adalah fakta. Bahkan semua orang tahu kawasan sanur yang sudah sejak lama menyediakan jasa ini. Kuta dengan gemerlap kehidupan malamnya juga samar – samar menyediakan praktek prostitusi. Kalau kita mau sedikit menyusuri, hampir setiap kabupaten di Bali ada praktek prostitusinya. Hanya saja ada yang terjamah dan ada yang tidak oleh aparat, ada yang terang – terangan, ada yang terselubung hanya melalui jaringan orang – orang tertentu saja.

Prositusi adalah masalah yang telah ada sejak lama, dan hingga kini tidak bisa dihapuskan. Bahkan pada buku karangan William Josephus Robinson berujul The Oldest Profession in the World: Prostitution yang terbit tahun 1929 dan The Story of the World’s Oldest Profession karangan Joseph McCabe yang terbit tahun 1932, menyebutkan bahwa prostitusi adalah pekerjaan tertua di dunia.

Surabaya mungkin bisa dibilang berhasil menutup Gang Dolly, Jakarta mungkin telah berhasil menutup Kalijodo, tapi dalam pandangan saya, penutupan ini tidak sepenuhnya bisa menghentikan masalah prostitusi yang terjadi di masyarakat. Bahkan cenderung menyuburkan praktek prostitusi liar. Masalah utama praktek prostitusi liar adalah penyakit kelamin termasuk penularan HIV/AIDS yang justru semakin susah dikendalikan.

Satu – satunya cara yang bisa dilakukan saat ini adalah mengendalikan prostitusi, atau istilah lainnya adalah melokalisasi prostitusi untuk mengendalikan penyebaran penyakit menular seksual. Ada banyak penelitian dan negara yang telah menerapkan cara ini dan memang berhasil mengatasi masalah prostitusi dan penyebaran penyakit menular.

Ria hanyalah satu pelaku prostitusi yang kebetulan digunakan jasanya oleh seorang penjual video porno. Dalam istilah lainnya, Ria hanyalah orang yang sedang sial bertemu orang yang salah sehingga videonya menjadi viral. Ria hanya sedang terjebak menjadi bintang film porno dadakan yang bisa saja terjadi pada perempuan lainnya yang tergiur akan uang yang ditawarkan oleh pembuat video porno tersebut.

Kita pernah tahu ada 2 orang model asal Bali yang pernah menjadi model telanjang sebuah majalah beberapa tahun silam. Apakah mereka pelaku prostitusi? Bukan, mereka hanya 2 model orang yang tertarik akan iming – iming bayaran yang lumayan besar untuk difoto dalam keadaan telanjang.

Yang harus dibidik untuk kasus video, photo berbau porno ini adalah pelaku perekam dan penyebar video atau photo tersebut. Menurut saya, Ria adalah korban yang bisa mengenai siapa saja yang tergiur akan besarnya bayaran yang diterima untuk berada dalam video atau photo tersebut. Pencegahan penyebaran hal – hal yang berbau pornografi memang seharusnya terletak pada pembuat konten yang berbau pornografi tersebut. Merekalah pelaku bisnis yang sebenarnya, merekalah yang mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan perempuan untuk berada pada konten yang mereka buat.

Sekali lagi, prostitusi hanyalah satu bagian dari kehidupan masyarakat kita yang telah ada sejak lama. Prostitusi tidak mengenal kalangan, dari kalangan bawah hingga atas ada banyak yang memanfaatkan jasa prostitusi dalam kehidupan mereka. Video porno adalah dampak lain dari adanya praktek prostitusi. Pelaku pembuat dan penyebar video porno inilah yang selayaknya ditangkap dan dikejar untuk mencegah penyebaran konten porno di masyarakat.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :