Pokemon Go, Bukan Soal Konspirasi Intelijen, Tapi Soal Data Rahasia yang Bisa Tersebar

534 total, 1 today

Menanggapi ramainya pembicaraan mengenai permainan Pokemon Go, yang menurut saya sudah terlalu melenceng dari konteks yang sebenarnya. Bahkan para pejabat sekelas Kepala BIN, Menkopolhukam, Kapolri, dan Politisi, hampir semua rata – rata mengeluarkan statement yang sama, melarang permainan ini di lingkungan instansi mereka.

Alasan pelarangan permainan ini, karena takut membocorkan dokumen negara, atau takut membocorkan titik – titik lokasi fasilitas dan markas komando negara, atau alasan keamanan negara yang lain, saya rasa terlalu berlebihan. Karena menurut saya, permainan ini tidak lebih dari pengembangan penggunanan dari google map. Karena titik – titik lokasi penyebaran dari monster – monster yang ada di pokemon itu sendiri menggunakan titik yang memang sudah ada di google map.

Titik – titik lokasi yang dimaksud, sama saja dengan check in ala facebook atau four square atau aplikasi media sosial lainnya dengan fitur serupa. Semua memanfaatkan koordinat dari aplikasi pemetaan yang serupa dengan google map. Kalau sekarang aplikasi ini menjadi ancaman keamaanan negara, sebaiknya semua aplikasi pemetaan seperti ini di larang juga, toh kalau sekarang di larang, aplikasi ini sudah tumbuh semenjak jaman blackberry bold mendunia, atau sekitar tahun 2009 lalu.

Mengenai masalah kebocoran dokumen atau pembocoran titik – titik fasilitas negara, yang lebih berbahaya dari Pokemon Go adalah aplikasi media sosial seperti facebook, foursquare atau path dan yang sejenisnya, karena banyak yang sering kali chek in, atau mempublikasikan koordinat ke publik tanpa berfikir panjang. contohnya, seorang tentara chek in di markas militernya sambil mengambil foto markas, dan di publikasikan di path atau media sosial sejenis.

Pokemon Go tidak memungkinkan aplikasi untuk mengambil gambar secara otomatis, harus ada interaksi pengguna untuk bisa mengambil gambar. Saya rasa penghubungan aplikasi ini dengan teori intelijen, sama sekali tidak masuk di akal.

Sasaran utama dari pelarangan penggunaan aplikasi ini adalah tipikal kebanyakan pengguna smartphone di Indonesia yang kurang bertanggung jawab. Pemahaman pengguna di Indonesia mengenai mana yang bisa di publikasikan dan mana yang tidak, masih sangat rendah.

Contohnya begini, ketika ada pokemon yang muncul di atas meja, dan di meja tersebut ada selembar surat penting. Kita pasti berusaha menangkap pokemon tersebut. Pengguna di Indonesia tidak akan merasa cukup degan hanya menangkap, yang mereka lakukan adalah mengambil screenshot atau mengambil photo dan mempublikasikan di media sosial sebagai wujud kebanggaan. Pada mata orang tertentu, bukan pokemonnya yang diperhatikan, tapi isi dokumen yang terpublikasi tersebut. inilah yang berbahaya dan inilah yang dimaksud dengan mempublikasikan dokumen rahasia.

Kita tentu ingat beberapa waktu lalu, ada yang begitu diangkat sebagai anggota Badan Intelejen Negara (BIN), langsung mempublikasikan surat pengangkatannya di media sosial sebagai bukti kebanggaannya, padahal itu adalah dokumen negara yang sangat rahasia, yang bahkan istri atau anak sendiri pun tidak boleh mengetahui.

Poin pokok pelarangan ini kalau saya lihat adalah masalah pengguna, itulah kenapa instansi penting di negara ini memberikan himbauan untuk tidak bermain Pokemon Go. Bukan karena aplikasinya yang berbahaya dan dibuat untuk urusan intelijen, tapi karena tipikal pengguna di Indonesia yang tanggung jawabnya masih rendah, dan memungkinkan untuk membocorkan dokumen penting atau rahasia negara melalui publikasi yang berlebihan di media sosial ketika menggunakan aplikasi ini.

Mengenai kemungkinan kecelakaan yang meningkat. Kita tentu masih ingat akan pelarangan penggunaan handphone ketika mengendarai kendaraan bermotor. Yang terjadi adalah, aturan ini tidak di hiraukan oleh pengguna kendaraan bermotor, dan banyak terjadi kecelakaan karena sms-an atau penggunaaan handphone di jalan. Bukan hanya untuk pengendara, pejalan kaki juga memiliki resiko kecelakaan jika menggunakan handphone tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Ini lah sebenarnya yang menyebabkan kecelakaan itu.

Pengunaan handphone di jalan dalam bentuk apapun, harus memperhatikan keadaan sekitar, bukan cuma ketika bermain Pokemon Go saja, aplikasi permainan, social media, atau apapun yang berhubungan dengan penggunaan handphone sebaikanya dilakukan dengan lebih bertanggung jawab, termasuk memperhatikan keadaan sekitar.

Penekanan saya, kembali kepada pengguna, karena permainan Pokemon Go, hanyalah sebuah aplikasi yang dibuat untuk hiburan semata. Kalau penggunanya tidak bertanggung jawab, ya kembali lagi, pengunanyalah yang salah, bukan aplikasinya.

Ada satu hal yang masih luput dari pengamatan kita, yaitu malware yang menyertai instalasi aplikasi tidak resmi. Bahaya dari malware adalah terkirimnya data – data pribadi kita kepada orang – orang tidak bertanggung jawab, yang memungkinkan untuk digunakan dengan tujuan tertentu. Bukan cuma untuk instalasi aplikasi Pokemon Go, tapi juga untuk aplikasi lainnya. Sebaiknya kita unduh aplikasi resmi yang telah ada di playstore, agar lebih aman, karena pihak google telah melakukan beberapa pengujian keamanan sebelum menempatkan sebuah aplikasi di playstore. Kalaupun aplikasi itu belum ada di playstore, lebih baik kita tunggu rilis resminya.

Persoalan penurunan produktifitas, bukan hanya Pokemon Go yang menurunkan produktifitas kita, aplikasi media sosial seperti Facebook, twitter, dan yang sejenisnya adalah aplikasi yang sangat – sangat bisa menurunkan produktifitas kita. Semuanya kembali kepada masing – masing pengguna.

Persoalan perusakan mental dan lain sebagainya yang dihembuskan oleh umat Salawi (Semua Salah Jokowi), saya rasa lebih baik kita abaikan saja, karena memang tidak ada kaitannya sama sekali. Perihal arti kata Pokemon yang diartikan sebagai “Aku Yahudi”, itu adalah urusan masing – masing, mau percaya silahkan, mau tidak juga silahkan, karena produsennya sendiri sudah mempublikasikan sejak awal bahwa Pokemon itu artinya Pocket Monster, atau Monster yang bisa di kantongi.

Kesimpulan saya begini, banyak dari kita yang cenderung berlebihan dalam menyikapi suatu hal, terutama hal baru yang berkembang di dunia digital. Bahkan dikalangan pejabat sekelas menteri pun seringkali berlebihan menanggapi hal seperti Pokemon Go. Sebaiknya kita telaah dulu duduk persoalannya, dan memberikan himbauan yang tepat, agar pencegahan bisa tepat sasaran pula. Teori konspirasi yang berlebihan justru akan membuat kita berfikir berlebihan dan cenderung tidak masuk diakal.

Semua aplikasi yang ada di handphone kita, bisa saja digunakan untuk informasi intelijen, atau hal – hal berbahaya lainnya. Sekarang kembali kepada kita sebagai pemilik, untuk lebih mengerti mana hal yang boleh kita publikasikan dan mana yang tidak. Apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya tidak.

Handphone kita akan semakin pintar seiring dengan berkembangnya waktu, maka dari itu, kita juga dituntut untuk semakin pintar dalam pemahaman dan penggunaannya.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

5 × three =