Pilkada Buleleng, PASS Masih Mungkin Dikalahkan

402 total, 1 today

Pilkada Buleleng yang hanya menghadirkan satu pasang calon yaitu Putu Agus Suradnyana dan Nyoman Sutjidra, tidak lantas membuat pasangan ini otomatis menang. Tidak juga lantas membuat pasangan ini bisa berleha – leha santai, karena sesuai dengan Undang – Undang No 10 Tahun 2016, Pasangan ini masih mungkin untuk dinyatakan kalah. Kenapa saya katakan demikian, masih kita bahas.

Syarat pemilihan satu pasang calon diatur dalam pasal 54C Ayat 1 Undang – Undang nomor 10 tahun 2016. Ada beberapa point syarat untuk bisa dilakukannya pemilihan dengan hanya satu pasang calon, diantaranya:

  1. Hanya terdapat satu pasang calon yang mendaftar sampai dengan batas akhir waktu atau perpanjangan waktu yang telah ditetapkan.
  2. Terdapat hanya satu pasang calon yang memenuhi syarat dari beberapa pasangan calon lain yang mendaftar.
  3. Sejak penetapan hingga masa kampanye terdapat pasangan calon yang berhalangan tetap, sedangkan partai politik tidak menetapkan pengganti atau pasangan calon pengganti yang diajukan partai politik tidak memenuhi syarat
  4. Sejak dimulainya kampanye hingga hari pemungutan suara terdapa pasangan calon yang berhalangan tetap, sedangkan partai politik tidak menetapkan pasangan pengganti atau pasangan pengganti yang diajukan tidak memenuhi syarat.
  5. Terdapat pasangan calon yang dikenakan sanksi pembatalan hingga menyebabkan hanya terdapat satu pasang calon.

Dari isi pasal tersebut diatas, yang terjadi di Buleleng adalah kondisi pada point b.

Selanjutnya, pada pasal 54C Ayat 2 dijelaskan kalau mekanisme pemilihan satu pasang calon menggunakan surat suara yang memuat 2 kolom yaitu kolom yang berisi gambar pasangan dan kolom kosong atau kolom tanpa gambar.

Pada pasal 54D ayat 1 diatur syarat penetapan pasangan terpilih yang mengharuskan pasangan calon tunggal memiliki lebih dari 50% suara sah. Kalau syarat 50% lebih ini tidak dipenuhi maka pasangan calon dinyatakan kalah dan boleh kembali bertarung pada Pilkada berikutnya atau sesuai dengan jadwal yang dimuat dalam peraturan perundang – undangan, sebagaimana diatur dalam pasal 54D ayat 2.

Dari sini kita bisa lihat kalau pasangan PASS tidak bisa hanya terlena karena menjadi calon tunggal pada pilkada Buleleng. PASS juga tidak bisa otomatis menyatakan diri menang karena hanya menjadi calon tunggal, tapi masih ada syarat untuk meraih suara lebih dari 50%. Kalau tidak maka sangat – sangat dimungkinkan Pasangan ini dinyatakan kalah. Kampanye dan sosialisasi tetap diperlukan kepada masyarakat tentang program yang akan dilaksanakan oleh pasangan PASS, atau kalau tidak maka kemungkinan besar pasangan ini akan bertarung kembali atau mengulang pertarungan di tahun 2018 atau 2019.

Mengulang yang dimaksudkan diatas bukan mengulang sebagai calon tunggal kembali, tapi akan bertarung lagi sesuai dengan prosedur yang ada. Kalau nanti ada pasangan calon lain yang memenuhi syarat, maka pertarungan akan dilaksanakan antara 2 pasang atau lebih calon, tapi kalau tidak, mungkin akan tetap bertarung sebagai pasangan calon tunggal kembali pada Pilkada berikutnya.

Jika Pasangan PASS dinyatakan kalah dalam Pilkada tahun 2017 maka Bupati Buleleng akan tetap dijabat oleh Ir. Made Gunaja, M.Si sebagai Pelaksana Tugas (Plt) hingga terdapat pasangan terpilih pada Pilkada berikutnya, seperti yang telah ditetapkan pada pasal 54D ayat 4 UU No 10 Tahun 2016.

Kalau melihat kondisi pilkada buleleng, saya rasa semua kemungkinan bisa terjadi. Meskipun hanya menjadi calon tunggal di pilkada Buleleng, saya rasa PASS memang tetap harus bekerja keras untuk meraup 50% lebih suara untuk bisa ditetapkan sebagai pasangan terpilih pada pilkada Buleleng 2018 nanti.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

20 + ten =