Perempuan dan Laki – Laki Bali, Siapa yang Pegang Kendali?

989 total, 3 today

Saya membaca 2 opini saling jawab antara 2 penulis yang menurut saya baik, yang satu membela kaum perempuan sebagai istri, dan yang satu lagi membela laki – laki yang membawa opini ke arah pilihan hidup perempuan Bali yang menjaga tradisi dan Budaya.

2 Artikel Opini tersebut ada di link yang saya sertakan berikut.
http://tatkala.co/2016/08/18/kemerdekaan-ala-perempuan-bali-keterikatan-abadi/
http://popbali.com/warning-jangan-menikahi-pria-bali-jika-ingin-kebebasan-dunia-akherat/

Saya tertarik untuk ikut memberikan opini, karena saya sendiri adalah Laki – Laki Bali, dan sekarang tengah menjalin sebuah hubungan yang serius dengan seorang perempuan Bali yang sejak awal memilih hidup sebagai perempuan pekerja atau dalam istilah kerennya, sebagai wanita karir dan pengusaha.

Dalam analisa saya, sistem Patrilineal adalah sistem Imajiner, atau sistem yang ada di pikiran anda sekalian. Yang nyata dari sistem patrilineal hanyalah garis keturunan. Artinya, anak ikut Purusa, jadi setiap kelahiran anak, secara adat adalah hak dari purusa. Perkara di pengadilan dan hukum positif negara lainnya tidak bisa mengalahkan ini, karena ini adalah hukum adat. Purusa itu tidak sama dengan laki – laki, bisa juga purusa adalah perempuan, wujudnya pada sistem pernikahan nyentana. Kemudian sistem ini menjadi dominan dan seolah – olah kendali dipegang oleh purusa, menurut saya itu hanya efek sosial yang bukan sebuah kitab suci yang tidak bisa dirubah, sangat bisa sekali dirubah.

Pengekangan yang dilakukan atas nama sistem partilineal hanyalah efek dari sifat laki – lakinya itu sendiri, mau sistemnya apapun, kalau memang laki – lakinya memang suka mengekang ya begitulah adanya. Tidak ada hubungan yang signifikan antara patrilineal dengan kekangan, karena kekangan adalah sifat, entah itu laki atau perempuan, kalau memang suka mengekang, ya mengekang aja, tidak ada sistem yang berpengaruh disini. Kekangan itu bukan hanya terjadi pada masa pernikahan, masa pacaran juga kita satu sama lain sering mengekang kok, kalau memang sifat dari masing – masing individu yang menjalani hubungan tersebut memang suka mengekang.

Mengenai adat dan budaya yang terbentuk dan tidak menguntungkan bagi pihak perempuan, sekali lagi saya tekankan, semua bisa disiasati dengan baik. Yang penting adalah kerjasama antara pihak laki – laki dan pihak perempuan. Karena pernikahan itu sebenarnya bukan siapa yang pegang kendali, tapi kemampuan bekerja sama diantara kedua belah pihak.

Yang sangat mengusik saya, dimana sih ada kata harus untuk ngayah, atau mebanjaran? Mungkin kalau pada daerah tertentu mebanjaran itu kondisinya sangat ketat hingga memberatkan bagi pihak yang berkeluarga, terutama yang baru berkeluarga. Bukankah dalam sistem adat di Bali ada pilihan untuk domisili dan kebakatan kalau tidak ngayah, yang hanya diwajibkan adalah menyama braya, dan itupun ketika ada acara seperti pernikahan, kematian atau karya suka duka yang sejenis, dan ini tidak terjadi tiap hari. Perihal mebanten saiban atau mebanten canang sari setiap hari dirumah, berapa menit sih waktu yang kalian habiskan per hari hingga harus dibesarkan menjadi seolah – olah itu sangat berat dan harus menjadi pilihan hidup?

Saya beberapa bulan lalu membicarakan dengan keluarga besar saya dan calon istri saya mengenai masalah ini, karena saya dan pacara sudah sepakat mau menikah dalam waktu dekat di tahun ini. Kebetulan saya dari trah pasek dan calon istri saya dari trah pande. Keluarga besar kami sudah bertemu dalam satu acara dan membicarakan hal ini.

Saya dan calon istri sudah sepakat untuk tetap berlanjut dalam hubungan pernikahan, dan tidak merubah suatu apapun yang kami jalani dalam hubungan pacaran. Termasuk calon istri saya tidak mau menjadi ibu rumah tangga, dia lebih memilih untuk tetap menjalani karir dan berjalan dengan segala cashflow yang ada di rumah tangga, sedangkan saya juga sudah menyepakati akan meninggalkan pekerjaan tetap saya, dan mencari alternatif bekerja di rumah saat nanti sudah menikah. Ini kesepakatan kami berdua.

Ketika kesepakatan kami berdua ini dibawa ke keluarga besar, di awal memang akan menimbulkan keterkejutan karena yang kami jalani memang tidak lazim adanya pada ranah hubungan pernikahan Bali. Setelah pembicaraan berlanjut dan membuka masalah satu per satu, tercapailah sebuah kesepakatan yang telah diketahui oleh keluarga besar masing – masing. Garis besarnya saya rinci dibawah.

Calon istri saya memang lebih baik dalam hal karir dari saya, jadi dia sudah memiliki sebuah rumah di daerah denpasar, kami akan tinggal disana berdua. Masalah rumah tangga dan keseharian keluarga termasuk anak dan urusan rumah tangga lainnya adalah urusan saya sebagai laki – laki, kekurangannya nanti akan ditambal oleh calon istri sebagai perempuan. Dan masalah keuangan keluarga adalah tanggung jawab calon istri, termasuk kalau ada kekurangan tetap nanti akan menjadi tugas saya untuk menambal.

Masalah menyaba braya dan mebanjaran. Dalam sistem adat di daerah saya, ada dikenal dengan krama domisili atau krama yang tinggal di luar daerah. Tidak ada keharusan untuk hadir dalam bentuk fisik dalam setiap ngayah di banjar, tapi ada penekanan kewajiban untuk sekali – sekali datang dan ikut membantu kalau sempat, dan ikut hadir dalam upacara yadnya maupun piodalan. Kata kalau sempat ini mengandung makna wajib, ketika ada upacara kematian dari salah satu warga banjar, paling tidak diantara rangkaian upacara kematian tersebut, ada terselip satu kehadiran kita. inilah bagian dari menyama braya yang dijalankan di daerah saya. Apakah setiap hari kita harus hadir? Terlalu naif rasanya kalau kita berpikiran terlalu jauh seperti itu.

Sebagai pihak perempuan, calon istri saya tentu harus berubah menjalani hidup sebagai trah pasek, karena sebelumnya adalah trah pande, disertai juga dengan beberapa upacara tambahan karena trah pande memiliki ritual yang berbeda. Kata – kata meninggalkan leluhur dan keluarga saya rasa terlalu berlebihan, karena kita tidak sama sekali meninggalkan keluarga, dia tetap boleh sembahyang pada leluhurnya juga ke leluhur saya, dan keluarga masih bisa kita kunjungi per minggu, per bulan atau waktu hari raya, begitu juga sebaliknya, kalau kita tidak sempat, ya keluarga yang mengunjungi kita. lalu apa ini sebuah keterbatasan? Coba tanya ke diri anda masing – masing.

Masalah tradisi dan budaya Bali, apakah kami melanggar tradisi dan budaya Bali dengan keputusan yang kami buat? Kembali lagi, kami berusaha mengkondisikan tradisi dan budaya Bali itu sendiri sebagai pedoman dan kami sesuaikan dengan keadaan kami. Dalam pemahaman kami, tradisi dan budaya Bali bukanlah hal yang seharusnya memberatkan, melainkan bisa disesuaikan dengan kesepakatan yang kami jalani bersama.

Masih ada banyak masalah lagi yang kami bicarakan dengan keluarga besar kami, dan semua memang ada jalan keluarnya, tergantung dari cara kita menyampaikan dan kesepakatan yang akan kita jalani setelah menikah nanti.

Masalah perceraian atau arwah tidak dapat tempat, saya tidak membicarakan masalah ini dengan keluarga besar, karena saya menyepakati menikah bukan untuk bercerai. Tapi dalam pengetahuan saya, masalah mulih ke umah bajang dalam tradisi Bali, masih belum ada yang tidak di terima oleh keluarga predana ketika kemudian bercerai. Kalau janda yang tidak di terima di keluarga purusa, sepertinya ini memang terjadi di mana saja, tapi tetap, pengabenan adalah tanggung jawab pihak purusa, selama tidak pernah ada kesepakatan untuk kembali ke umah bajang, atau bercerai.

Inti dari yang mau saya sampaikan adalah, untuk perempuan, utarakan apa yang kalian mau dalam hidup kalian, entah itu jadi ibu rumah tangga atau wanita karir. Masing – masing memiliki konsekuensi yang akan ditanggung salah satu pihak, bukankah laki – laki dan perempuan ada dalam pernikahan untuk saling melengkapi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama yaitu kebahagiaan.

Sudahlah, akhiri kata – kata perempuan harus ini, laki – laki harus ini. Tidak ada yang harus dalam sebuah keluarga, semua bisa dijalankan berdasarkan kesepakatan. Menikah itu menyatukan dua visi jadi satu dalam sebuah kesepakatan hidup bersama. Selama kedua belah pihak tidak mengerti apa yang mereka mau, dan tidak tahu apa yang mereka cari dalam pernikahan, saya rasa hal – hal seperti merasa di kekang dan yang sejenisnya akan terus terjadi, padahal pada intinya, berumah tangga adalah pembicaraan untuk bisa bekerja sama bersama.

Ahh.. nyiup kopi malu jak roko katih….

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

12 + 8 =