Peredaran Vaksin Palsu dan Hal – Hal yang perlu diperhatikan

751 total, 1 today

Belakangan beredar kabar tentang tertangkapnya sepasang suami istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina yang merupakan pelaku pembuat Vaksin Palsu yang hingga saat ini dikabarkan telah beredar di seluruh Indonesia. Mereka beroperasi semenjak tahun 2003, atau sudah sekitar 13 tahun. jika menggunakan data BPS yang menjelaskan kalau angka kelahiran Bayi di indonesia meningkat 1,49 persen tiap tahun atau menyentuh angka 4.880.951 orang, maka selama 10 tahun terakhir ada sekitar 40 juta kelahiran bayi yang mungkin terkena dampak dari vaksin palsu ini.

Saya katakan mungkin, karena tidak semua tempat tersentuh oleh peredaran vaksin palsu ini. Daerah yang sudah bisa dipastikan menjadi wilayah peredarannya adalah Bogor, Jakarta, Banten dan Jabar dan vaksin palsu yang beredar adalah vaksin wajib untuk bayi yakni hepatitis, campak dan vaksin untuk tuberkulosis, BCG.

Ada 5 merek dagang yang dipalsukan oleh oknum pemalsu vaksin menurut BPOM antara lain: Vaksin Tuberkulin, Pediacel, Tripacel, Havrix, dan Biocef. Silahkan di lihat kembali riwayat kesehatan anak anda jika salah satu dari merek dagang tersebut pernah di gunakan untuk imuniasi anak anda.

Berikut saya lampirkan release resmi dari twitter @KemenkesRI mengenai peredaran vaksin palsu.

  1. Jika anak Anda mendapatkan imunisasi di Posyandu, Puskesmas, dan Rumah Sakit Pemerintah, vaksin disediakan oleh pemerintah yang didapatkan langsung dari produsen dan distributor resmi. Jadi vaksin dijamin asli, manfaat dan keamanannya
  1. Jika anak Anda mengikuti program pemerintah yaitu imunisasi dasar lengkap di antaranya Hepatitis B, DPT, Polio, Campak, BCG, pengadaannya oleh pemerintah didistribusikan ke Dinas Kesehatan hingga fasyankes. Jadi dijamin asli, manfaat dan keamanannya.
  1. Jika peserta JKN dan melakukan imunisasi dasar misalnya vaksin BCG, Hepatitis B, DPT, Polio dan Campak, pengadaan vaksin didasarkan pada Fornas dan e-catalog dari produsen dan distributor resmi, jadi asli dan aman
  1. Ikuti program imunisasi ulang seperti DPT, Polio, Campak. Tanpa adanya vaksin palsu, imunisasi ini disarankan (harus) diulang. Jadi bagi yang khawatir, ikut saja imunisasi ini di posyandu dan puskesmas.
  1. Diduga peredaran vaksin palsu tidak lebih dari 1% wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Ini relatif kecil secara jumlah vaksin yang beredar dan wilayah sebarannya.
  1. Dikabarkan isi palsu itu campuran antara cairan infus dan gentacimin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 CC. Dilihat dari isi dan jumlah dosisnya, vaksin palsu ini dampaknya relatif tidak membahayakan.
  1. Karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan timbulkan infeksi. Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi bisa dipastikan aman. Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dengan vaksin palsu, tetapi memang dengan vaksin asli.

Untuk orang tua yang memberi anaknya vaksin melalui posyandu atau puskesmas dan rumah sakit pemerintah, saya rasa tidak perlu khawatir mengenai anaknya yang mungkin terkena dampak dari vaksin palsu ini. Sejauh ini memang masih di selidiki rumah sakit dan fasilitas kesehatan mana yang menggunakan vaksin palsu tersebut. Belum ada release resmi dari kepolisian atau kementrian kesehatan mengenai apakah Bali juga merupakan wilayah peredaran vaksin palsu tersebut. Saya lebih menganjurkan untuk para orang tua untuk tidak panik dan lebih memperhatikan gejala – gejala kesehatan anaknya. Segera periksakan jika ada tanda tidak lazim terhadap anak ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan pemerintah.

Saya belum menemukan data resmi mengenai hubungan vaksin palsu ini dengan angka kematian bayi, karena menurut yang saya baca, resiko terburuk dari vaksin palsu ini adalah tidak kebalnya bayi terhadap penyakit. Cara penanggulannya hanyalah melalui vaksin ulang agar bayi tersebut kebal terhadap penyakit.

Motif pelaku memproduksi vaksin palsu tersebut adalah motif ekonomi, dimana Untuk produsen mendapat keuntungan Rp 25 juta per minggu. Sementara penjual Rp 20 juta per minggu. Sungguh nilai yang fantastis untuk sebuah penghasilan yang justru mengorbankan kesehatan bayi kita dan ribuan bayi lainnya. Dalam pemahaman saya, hanya manusia yang sangat biadab yang melebihi dari setan laknat yang tega mengorbankan bayi dan anak – anak demi uang. Jika pelaku pemerkosa anak hukumannya di kebiri, saya rasa mereka lebih baik disuntik mati karena kejahatan yang dilakukan. Undang – undang untuk menghukum mati pelaku kejahatan seperti ini masih belum ada di Indonesia, sebaiknya memang Presiden harus mengeluarkan Perpres seperti halnya Perpres mengenai pelaku kejahatan terhadap anak.

Ancaman yang mereka terima saat ini menurut perundangan di Indonesia hanya Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan denda Rp 1,5 miliar dan Pasal 62 juncto Pasal 8 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Yang menurut saya masih terlalu enak buat mereka. Efek jera yang ditimbulkan masih sangat minim. Kalau dihitung dengan 100 juta per bulan penghasilan mereka, denda 1,5 miliar hanyalah uang receh yang tidak akan berdampak apa – apa kepada mereka. Bukannya tidak mungkin ini akan memancing pelaku yang lain melakukan kejahatan yang sama, karena hukuman dan hasil dari kejahatannya tidak seimbang.

Untuk diperhatikan bersama, kesehatan bayi dan anak – anak adalah hal yang sangat penting untuk kelangsungan masa depan kita bersama. Sebagai warga masyarakat hendaknya kita sedikit memperhatikan dan tanggap terhadap setiap informasi yang beredar di masyarakat. Fasilitas kesehatan yang di bangun oleh pemerintah hingga ke desa – desa hendaknya bisa menunjang pebaikan kesehatan dan tumbuh kembang masyarakat. Dan kita sebagai warga masyarakat hendaknya ikut berpartisipasi untuk pengembangan apa yang diperlukan di tiap – tiap wilayah kita.

Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang tidak hanya menuntut tapi juga ikut berperan aktif dalam menanggapi setiap informasi yang beredar dan menggunakannya untuk pengembangan daerah masing – masing.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

5 − 1 =