Perayaan Saraswati, Banyu Pinaruh, dan Penyimpangan oleh Generasi Kini

TOTAL : 596 ( TODAY : 1)

Hari raya Saraswati adalah hari yang penting bagi umat hindu, khususnya bagi siswa sekolah dan penggelut dunia pendidikan karena Umat Hindu mempercayai hari Saraswati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia. Dalam penanggalan Bali Hari raya Saraswati datang setiap 210 hari sekali, tepatnya pada hari Saniscara Umanis wuku Watugunung.

Menurut tradisi umat Hindhu di Bali, pada hari ini semua yang berhubungan dengan pengetahuan, terutama buku, lontar, dan lain sebagainya, dikumpulkan di satu tempat untuk diupacarai, sebagai penghormatan akan pengetahuan itu sendiri. Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata Saraswati, pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau sebelum tengah hari. Dari pagi sampai tengah hari tidak diperkenankan membaca dan menulis terutama yang menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Bagi yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh, tidak membaca dan menulis itu dilakukan selama 24 jam.

Generasi muda sekarang sepertinya memang sudah acuh tak acuh dengan tradisi ini, ketika lontar menyebutkan untuk melakukan tapa brata Saraswati untuk tidak membaca dari pagi hingga tengah hari, adakah generasi muda kita yang lepas dari telepon genggam? Membuka dan mencari setiap menu di telepon gengggam adalah membaca, membuka social media juga membaca, melintas di jalan untuk mengamati nama jalan juga kita harus membaca, ke sekolah sembahyang, kita otomatis akan membaca. Intinya, sebagai rangkaian upacara Saraswati, hendaknya dari pagi hingga tengah hari kita duduk dengan mata terpejam dan memanjatkan doa sebagai perwujudan tapa Brata Saraswati. Mindset dan pikiran kita yang secara otomatis membaca sesuatu hendaknya dikendalikan hanya dari pagi hingga tengah hari saja sebagai bagian atau rangkaian dari tapa brata Saraswati, sebagai penghormatan kita terhadap ajaran leluhur.

Keesokan harinya adalah hari Banyu Pinaruh yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Menurut penanggalan Bali, hari Banyu Pinaruh jatuh pada hari Minggu Paing wuku Sinta. Banyu Pinaruh yang berasal kata dari Banyu berarti air,  Pinaruh atau Pengeruwuh berarti pengetahuan. Prosesi ini bermakna membersihkan kegelapan pikiran yang melakat pada tubuh manusia, dengan ilmu pengetahuan atau mandi dengan ilmu pengetahuan. Secara tradisi pada hari ini secara nyata umat membersihkan badan dan keramas pada sumber – sumber air atau di laut. Kebanyakan dari umat Hindhu di Bali melaksanakan rangkaian upacara Saraswati dan Banyu Pinaruh dengan melakukan Jagra atau bergadang semalam suntuk hingga setelah selesai Banyu Pinaruh barulah mereka tidur.

Dalam kamus beberapa anak muda Bali, rangkaian upacara Saraswati menyatu dengan rangkaian malam mingguan yang kebetulan kaum perempuan mendapat sedikit kelonggaran dari orang tuanya untuk berada di luar rumah dengan alasan melaksanakan upacara Banyu Pinaruh. Banyak dari anak muda Bali memanfaatkan situasi ini dengan melakukan tindakan yang lebih dari sekedar berpacaran atau malam mingguan. Saya beberapa kali pernah menemukan modus yang dilakukan untuk mengelabui orang tua mereka agar tidak curiga ketika melaksanakan niat mereka. Dari rumah biasanya perempuan akan dijemput teman perempuannya dan bilang kalau mereka akan Banyu Pinaruhan ke Pantai, begitu juga dengan yang laki akan dijemput yang laki dengan alasan yang sama. Setelah janjian di titik tertentu mereka bertemu dan saling bertukar boncengan, jadi tiap motor yang sedari rumah isinya laki sama laki dan perempuan sama perempuan, sekarang berubah menjadi saling berboncengan laki dan perempuan. Dan mereka berangkat masing – masing menuju ke tujuan masing – masing. Menurut investigasi dan penelusuran terselubung yang pernah saya lakukan, tujuan mereka bukan ke pantai, melainkan ke tempat kost atau penginapan untuk melakukan hal – hal yang kita semua sudah ketahui bersama. Mentok untuk yang tidak punya modal untuk sewa penginapan, atau tidak ada tempat kost, mereka menuju ke pantai dan mencari spot di semak – semak dan jauh dari keramaian orang – orang di pantai. Modus ini berlaku pada beberapa kali upacara Banyu Pinaruh yang saya amati. Setelah selesai melakukan itu, mereka akan kembali bertemu dan bertukar boncengan seperti sedia kala dan pulang ke tempat masing – masing.

Mungkin memang jaman yang sudah bergeser kearah penyimpangan itu. Saya hanya mau mengingatkan, ketika hendak melakukan hal – hal yang lebih setidaknya diimbangi mentalitas dan kesiapan akan resiko yang lebih. Setiap tidakan mengandung resiko yang harus siap kalian tanggung. Saya hanya bisa ingatkan untuk para orang tua untuk sedikit mengawasi dan mewaspadai tindak tanduk anaknya agar tidak terjerumus pada kegagalan proses pendidikannya. Karena pendidikan adalah satu – satunya bekal yang bisa diberikan orang tua untuk anaknya menghadapi masa depannya nanti.

Setiap upacara yang di wariskan dalam ajaran leluhur mengandung makna yang sangat luas baik dari kondisi mental maupun spiritual umat. Kita sebagai umat layaknya menghormati dan menjalankan ajaran leluhur sebagai bagian dari proses kehidupan kita. Jadilah umat yang baik, dengan menghormati dan meneruskan ajaran yang baik dari leluhur kita.

Ahhhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :