Pengabdian itu Pengorbanan – Catatan Wawancara Prabowo – Rosi (Bagian 3)

TOTAL : 233 ( TODAY : 1)

Tulisan ini adalah bagian ketiga atau bagian akhir dari pembahasan mengenai wawancara yang dilakukan oleh Rosiana Silalahi dan Prabowo yang videonya bisa ditonton di : https://www.youtube.com/watch?v=v3gD4mmG108

Bagian kedua bisa dilihat di link berikut : http://bungloen.com/kepiting-melayu-catatan-wawancara-prabowo-rosi-bagian-2/

Pada bagian ini saya menekankan pada pernyataan Prabowo yang mengatakan mau jadi presiden, bupati, gubernur itukan pengabdian. mengabdi, kalau mau jadi bupati gubernur untuk meperkaya diri, itu tanggung jawab masing – masing, berhadapan dengan rakyat,  berhadapan dengan sejarah. Tapi kalau benar – benar mau mengabdi, kenapa sih orang harus cero sum game, harus benci, harus dendam. Kalau demokrasi kita berjalan dengan baik, kalau saluran berjalan baik, rakyat tidak mau turun ke jalan, tidak perlu ada tekanan – tekanan. Prabowo juga sependapat kalau pemerintah tidak boleh selalu ditekan oleh massa, itu juga tidak sehat.

Yang sering dilupakan oleh pejabat di negeri ini adalah, mereka bukan raja, mereka adalah pengabdi, mereka adalah pelayan rakyat. Mereka hanyalah manusia biasa, sama seperti kita, hanya bedanya, mereka memiliki tugas sebagai pejabat, yang mengurusi hajat hidup orang banyak. Kalau pejabat kita sungguh – sungguh mau mengabdi, harus siap berkorban, karena pengabdian itu pengorbanan. Korban waktu, tenaga, korban harta, korbanya nyawa, apalagi korban perasaan. Korban Perasaan pribadi itu maksudnya kita siap disakiti siap difitnah siap dihina. Penekanannya ada pada pengorbanan dan pengabdian untuk rakyat.

Mengabdi untuk rakyat dalam kehidupan demokrasi ada 2 sisi, satu yang melaksanakan kebijakan, satunya yang yang mengawasi kebijakan agar benar – benar sampai kepada rakyat dan tidak terjadi penyelewengan di lapangan.

Yang terjadi di lapangan sekarang menurut saya adalah salah konsepsi pemikiran generasi muda yang sekarang ini sedang marak untuk ikut perduli pada dunia politik. Dalam kehidupan demokrasi memang harus ada 2 pihak yaitu pihak pendukung dan pihak oposisi, bukan pihak pendukung dan penjegal, ini sangat – sangat salah. Pihak pendukung adalah pelaksana kebijakan, sedangkan pihak oposisi adalah pengawas kebijakan, Bukan penentang kebijakan. Kalau kebijakannya benar, saya rasa tidak perlu di tentang, tapi di awasi agar tidak terjadi penyimpangan di lapangan. Itulah yang dimaksud dengan check and balance. Agar pihak penguasa tidak semena – mena terhadap rakyat.

Pihak pendukung dan pihak oposisi, keduanya adalah pengabdi untuk rakyat, keduanya adalah pihak yang bekerja degan satu tujuan yaitu mensejahterakan rakyat. Tapi yang berkembang di masyarakat justru kebalikannya. Oposisi tidak selamanya menolak, oposisi bukan hater, oposisi adalah pengawas kebijakan. Masalahnya disini bukan hanya pada politisinya, juga pada masyarakat yang berpolitik, kurangnya pendidikan dan pemahaman politik yang benar yang membuat semua ini menjadi seperti sekarang ini.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memberi contoh kepada rakyat. Rakyat butuh kesejukan, rakyat ingin suasana damai. Tidak mungkin kita bernegara dalam keadaan pemimpin saling curiga, pemimpin saling jelek jelekin. Kalau ada kekurangan kita kritik dengan cara – cara yang baik. Masak pemimpinnya memberi contoh jegal menjegal, ini bukan contoh yang baik. Konsep politik di Indonesia seperti sebuah pendulum, ketika diatasnya goyang kecil, dibawahnya goyangnya besar. Itulah yang terjadi ketika pemimpinnya saling jegal. Yang menjadi korban adalah rakyat itu sendiri.

Satu konsep tentang pandawa dan kurawa yang diungkapkan oleh Prabowo pada wawancara ini saya rasa salah konsepsi. Dalam dunia politik benar dan salah ukurannya relatifitas tidak selamanya yang benar itu benar, tidak selamanya yang salah itu salah. Pihak kawan dan lawan bisa saling rangkul untuk sebuah kepentingan.

Tapi, kalau kita telaah lebih dalam, konsepsi pandawa dan kurawa implementasinya bukan pada dunia politik, tapi pada kepentingan dan tujuan itu sendiri. Ada pihak yang menginginkan kemajuan negara kita, pihak yang lain menginginkan kehancuran negara kita. Konsep pandawa dan kurawa saya rasa lebih tepat kalau diarahkan kesini.

Yang harus dipahami dari konsep pandawa dan kurawa ini adalah tujuannya, bukan di pihak mana dia bernaung. Pendukung pemerintah bisa saja menjadi pandawa kalau tujuannya untuk kemajuan rakyat, dan sebaliknya bisa menjadi kurawa ketika tujuannya adalah kehancuran bangsa. Begitu juga dengan pihak oposisi. Jadi saya tekankan kembali, pandawa dan kurawa ukurannya bukan pendukung dan oposisi, tapi lebih kepada tujuan yang ingin dicapai dari pihak – pihak tersebut.

Pesan untuk kita semua adalah marilah kita mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi kita masing – masing. Sejarah akan mencatat banyak hal yang terjadi di negeri kita ini, siapa yang berjuang untuk kepentingan rakyat, siapa yang tidak.

Akhir kata, Semua pesan – pesan kebangsaan yang disampaikan oleh Prabowo dalam sesi wawancara ini adalah pelajaran yang baik yang bisa kita petik untuk kita terapkan pada diri kita semua. Terlepas dari itu semua, Prabowo adalah seorang politisi yang tidak bisa lepas dari kepentingan politik. Dalam dunia politik selalu ada negosiasi, give and take. Bukan tidak mungkin semua bisa berubah ketika berhadapan dengan kepentingan lain, itulah politik.

Entah kenapa, ketika menyebut soal Gerindra, yang terbayang di benak saya adalah Fadli Zon, dengan segala kelucuan manuver politiknya. Mungkin Prabowo kalah branding oleh kadernya sendiri. Kalau refleksi Gerindra adalah Prabowo sendiri, saya rasa Gerindra akan menjadi partai yang hebat nantinya, partai yang memiliki jiwa kebangsaan yang sangat tinggi. Tapi belakangan, refleksi dari Gerindra bukanlah seorang Prabowo, tapi kader – kadernya yang justru bertolak belakang dari apa yang diungkapkannya.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :