Pendidikan Tanggung Jawab Kaum Terdidik

320 total, 1 today

Pendidikan di negeri ini tidak hanya masalah buta aksara dan buta angka, tapi lebih kompleks dari itu. Buta aksara dan buta angka lebih mudah untuk kita atasi, dan saya rasa angka buta aksara dan buta angka di negeri ini makin hari makin menurun. Tapi ketika pendidikan itu menyentuh kesehatan nalar, disini kita menghadapi satu kompleksitas masalah yang saya rasa belum ada formula untuk mengatasinya. Sekarang ini, makin banyak saya saksikan justru orang – orang terdidik yang tidak sehat nalarnya. Gelar akademis bukanlah patokan yang bisa dijadikan acuan untuk kesehatan nalar.

Nalar adalah proses berpikir, nalar bekerja dengan menghubungkan data dan fakta untuk menjadikannya sebuah kesimpulan. Ketidaksehatan nalar adalah ketidaksehatan proses berpikir, atau secara sederhananya tidak mau berpikir, tinggal ambil apa yang sudah ada tanpa mau kritis atau bertanya. Kebanyakan yang saya lihat, ketidaksehatan nalar terjadi karena tidak tahu cara mencari data dan mencari faktanya, bahkan lebih lagi, tidak tahu cara bertanya untuk kritis. Pada beberapa kondisi saya menemukan ada beberapa orang yang bahkan tidak berani mempertanyakan sebuah kesimpulan hanya karena merasa diri tidak pantas untuk bertanya.

Sejauh yang saya tahu, cara yang paling efektif untuk mencegah ketidaksehatan nalar adalah dengan diskusi. Dengan membuka diskusi seluas – luasnya, sedikit demi sedikit akan memunculkan keberanian untuk mempertanyakan segala sesuatunya, dari sinilah akan muncul pemikiran kritis yang tidak mudah menerima tapi memilih untuk mencerna sebelum menerima. Diskusi akan memunculkan perspektif dari berbagai sudut pandang yang mungkin belum kita ketahui, dengan diskusi kita jadi lebih mengerti banyak hal dan banyak pertimbangan sebelum mengambil sebuah kesimpulan.

Orang dengan nalar tidak sehat bukanlah orang bodoh, mereka kebanyakan salah mencerna data dan fakta yang mereka terima. Mereka kebanyakan salah dalam proses berpikir hingga kesimpulan yang diambil jadi berbeda. Orang dengan nalar tidak sehat kebanyakan karena bersikap fanatik pada satu informasi yang disampaikan oleh satu orang dan tidak mau menerima sudut pandang lain. Sekali lagi, orang dengan nalar tidak sehat bukanlah orang bodoh, hanya salah mencerna informasi.

Dalam forum dan diskusi inilah peran kaum terdidik untuk turut serta membangun kesehatan nalar masyarakat. Bentuk diskusi paling sederhana yang biasanya saya lakoni adalah melalui warung kopi. Ada banyak yang bisa saya dapatkan hanya dengan duduk di warung kopi dan berdiskusi dengan berbagai macam orang dengan berbagai macam sudut pandang. Diskusi ini gratis, modalnya hanya satu hal yaitu kepedulian.

Saya sering bertanya pada diri saya sendiri, kenapa Ki Hadjar Dewantara yang notabene berasal dari keluarga kaya dan terdidik mau untuk bersusah payah menentang penjajah dan mendirikan Taman Siswa untuk anak Indonesia. Beliau harus menghadapi banyak rintangan hanya agar anak Indonesia bisa mengenyam bangku pendidikan. Jawaban yang muncul dibenak saya hanya satu yaitu kepedulian. Beliau tergerak karena peduli.

Sekarang-pun keadaan kita sama, ditengah maraknya ketidaksehatan nalar di masyarakat, kita sebaiknya lebih peduli dengan ikut dalam diskusi – diskusi yang diselenggarakan, baik itu dalam skala warung kopi, maupun dalam skala pembicara tingkat daerah maupun nasional. Hanya dengan kepedulian kita akan tergerak. Seorang teman saya bilang, nalar yang sehat akan menular ke sekitar kita kalau kita membagikannya. Terlalu naif kalau saya bilang kita bisa merubah seluruh Indonesia, tapi paling tidak, kita bisa memulai untuk menyehatkan nalar kita sendiri dulu, kemudian kita tularkan ke keluarga dan lingkungan sekitar kita.

Pendidikan di masyarakat adalah tanggung jawab kaum terdidik, sebagaimana pahlawan pendidikan kita di masa lalu, mereka adalah orang terdidik yang peduli dan merasa bertanggung jawab atas keadaan masyarakat kita. Tidak semua orang bisa mendapatkan gelar yang bagus dalam institusi pendidikan, ditengah keterbatasan biaya yang dimiliki, tapi semua orang bisa mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama ditengah – tengah masyarakat kalau kaum terdidiknya peduli dan mau berbagi. Pendidikan tidak hanya mengenai membaca, menulis dan berhitung, pendidikan juga menyangkut penyehatan nalar masyarakat. Sekali lagi pendidikan adalah tanggung jawab kaum pelajar, jadi maukah kita peduli dan memikul tanggung jawab ini?

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

four × 4 =