Ormas dan Program Bela Negara, Hal – hal yang perlu dipahami

840 total, 1 today

Program bela negara yang belakangan menguat di kalangan masyarakat setelah di cetuskan pertama kali oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Banyak yang beropini kalau program ini identik dengan program pelatihan militer untuk kalangan sipil, tapi hal ini sudah dibantah oleh Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Kementerian Pertahanan, Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin. Beliau menolak anggapan bahwa bela negara sama dengan wajib militer. “Pendek kata, kurikulum pelatihan bela negara tiada materi militernya sama sekali, yang ada baris berbaris. Inti dari kurikulum ialah lima nilai dasar, yakni cinta Tanah Air, rela berkorban, sadar berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi negara, serat memiliki kemampuan awal dalam bela negara baik fisik maupun nonfisik,” papar Hartind. Menurutnya, beragam problem bangsa Indonesia, seperti bentrokan antaragama, berawal dari pemahaman Pancasila yang minim. “Yang di Tolikara, kemudian di Aceh Singkil, itu kan terjadi awalnya dari bagaimana mereka menghayati Pancasila,” kata Hartind.

Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana Kolonel Inf J. Hotman Hutahaean mengatakan program Bela Negara yang akan dilakukan di Bali menyasar organisasi kemasyarakatan (ormas). Tujuannya, ucap Hotman, untuk meningkatkan kesadaran, hak, dan kewajiban warga negara. Hotman menjelaskan, pada dasarnya, anggota ormas membutuhkan pembinaan untuk memiliki kesadaran bela negara sesuai dengan Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945. “Ormas yang akan diikutsertakan dalam kegiatan Bela Negara itu seperti Pemuda Bali Bersatu (PBB), Laskar Bali, dan Baladika,” ujar Hotman saat jumpa media di Kodam IX/Udayana, Denpasar, Rabu, 15 Juni 2016. “Tidak ada materi pelatihan untuk penggunaan senjata api.”

Itu penjelasan singkat dari beberapa media online nasional yang saya rangkum. Dari sini saya bisa berkesimpulan kalau program pelatihan bela negara yang dicanangkan sama ibaratnya dengan pelatihan pramuka untuk anak sekolah, dan sekarang hanya diperuntukkan untuk kalangan dewasa yang dulu tidak mengenyam pendidikan pramuka dan pelatihannya dilakukan oleh kalangan militer/sipil.

Jika kemudian ini dibesar – besarkan hingga kepada pelatihan menggunakan senjata, mungkin akan jadi mengkhawatirkan karena kita tidak pernah benar – benar tahu secara pasti seberapa dalam peredaran senjata di Bali. Entah dari mana ada ungkapan akan adanya pelatihan menggunakan senjata api ini, dari media atau pihak tertentu dengan tujuan tertentu. Sejauh yang saya pahami yang diucapkan oleh Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana Kolonel Inf J. Hotman Hutahaean bahwa tidak ada materi pelatihan menggunakan senjata api ya berarti tidak akan ada senjata api di dalamnya. Kalau hanya pelatihan baris – berbaris, cinta Tanah Air, rela berkorban, sadar berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi negara, saya rasa program ini baik dan wajib diikuti.

Mungkin yang perlu saya jelaskan disini adalah contoh yang diberikan sebagai awal berjalannya program ini adalah 3 ormas yang memang sedang terkenal sering membuat rusuh atau perkelahian sehingga terjadi korban jiwa. Saya tekankan disini itu hanya sebagai contoh, yang disasar dari program ini adalah semua warga negara, termasuk seluruh ormas yang ada di Bali. Kita tahu ada banyak sekali ormas yang ada di Bali baik yang terdaftar maupun yang belum terdaftar, 104 Organisasi Kemasyarakatan (Ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terdaftar di Kesbangpol Provinsi Bali. Semua boleh mengikuti program ini, termasuk dengan kalangan non ormas yang berminat juga dipersilahkan mengikuti program ini tanpa terkecuali. Program ini sudah berjalan di pulau jawa dan persertanya banyak yang dari kalangan mahasiswa, pemuda yang belum bekerja, bukan hanya dari kalangan ormas saja.

Ada yang masih ingat dengan istilah “Hansip”? kalau ada, mungkin analogi yang paling mudah yang bisa saya jelaskan kalau program ini layaknya “Hansip” atau pertahanan sipil pada jaman dulu, mungkin sekarang sudah tidak ada lagi. Seingat saya, dulu setiap desa di Bali menunjuk 4-5 orang pemuda untuk diberikan pelatihan pertahanan sipil, setelah pelatihan kemudian diberikan seragam sebagai bagian dari penjaga keamanan di lingkungan desa. Kalaupun sekarang namanya beda, tapi selama materinya sama saya rasa tidak perlu dibesar – besarkan, toh dari dulu juga memang sudah ada program seperti ini.

Terlepas dari semua pro dan kontra dari program ini, akan terlihat sungguh menarik ketika anggota ormas yang berbadan kekar, penuh dengan tattoo dan belajar baris berbaris seperti adik – adik kita yang masih sekolah dasar. Ini layak kita saksikan dan amati sebagai bagian dari pembenahan kondisi Bali yang sudah carut marut karena beberapa ormas besar yang sering rusuh.

Satu usulan yang kalau boleh saya ungkapkan disini, dimasukkan juga program perkemahan bersama atau penampungan para peserta di asrama layaknya pramuka jaman dulu untuk mempertebal rasa kebersamaan para anggota, dari sini saya rasa akan ada peningkatan kesadaran akan persatuan dan kesatuan dan disiplin diri untuk para pesertanya.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

nineteen − three =