Ninja berawal di jepang dan sekarang muncul di bali

260 total, 2 today

Sebelum saya membahas apa yang terjadi, ijinkan saya untuk memberi ucapan bela sungkawa saya yang sedalam – dalamnya untuk korban pembunuhan yang terjadi di batubulan, semoga arwahnya tenang dan bisa kembali ke swargaloka.

Dalam pemberitaan di media cetak maupun media online saya membaca kalau yang terjadi di batubulan di asumsikan sebagai ulah ormas, sedangkan bukti – bukti dan rilis resmi dari kepolisian masih belum ada. Terlepas dari korban adalah anggota salah satu ormas yang desember lalu bertikai dengan ormas yang lain, kita hendaknya lebih melihat kepada kronologi kenapa itu semua terjadi dengan bukti – bukti yang ada di lapangan. Peristiwa kekerasan dan ketegangan antar ormas memang kerap terjadi di bali, mulai dari kekerasan dengan tangan kosong maupun dengan senjata, tapi tidak juga serta merta kita mengasumsikan itu adalah ulah dari ormas. Spekulasi yang terlalu dini dengan mengatakan korban atau pelaku adalah ormas hanya akan menambah gaduh suasana yang tidak perlu untuk kondisi sosial dan politik bali saat ini.

Mari kita telisik kronologi kejadian yang menjadi dasar saya berpandangan berpeda tentang kejadian di batubulan.

Korban bersama kelompok anggota ormas lainnya pulang dari melayat dan pelaku adalah 3 orang bercadar atau kalau boleh saya asumsikan sebagai 3 orang dengan pakaian ala ninja dan menghunus pedang dan korban berlari sendiri dikejar oleh 3 orang masuk ke gang – gang hingga ke rumah warga, pertanyaannya, kemanakah teman korban yang lainnya? Kenapa dia bisa kebetulan sendiri dan dikejar 3 orang ninja? Dari sini saya berasumsi kalau korban adalah target yang sudah diteliti keseharian dan kebiasaannya, dan korban memang direncanakan akan dibunuh ketika itu. 3 orang ninja ini sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi korban dan hari itulah saat yang tepat, ketika korban sedang sendiri. Terlepas dari kenapa korban menjadi target, mungkin disinilah peran dari tim penyidik dari kepolisian untuk meneliti lebih dalam dari latar belakang masalah yang pernah terkait dengan korban hingga ke hutang piutang atau kelakuan korban yang mungkin membuat orang lain tersinggung hingga itu terjadi.

Pelaku adalah 3 orang bercadar, ini artinya pelaku adalah profesional dan sudah mempersiapkan semua kemungkinan yang terjadi. Bukankah aneh kalau pelaku adalah orang yang berpakaian ala ninja siang hari dalam lingkungan masyarakat yang ramai. Asumsi saya mengenai pelaku yang bercadar lebih kepada pelaku yang profesional, entah itu bentuknya bayaran atau ada bentuk kepentingan lainnya. Dan pelaku sudah sering melakukan tindakan seperti itu karenanya sudah siap dengan kemungkinan yang terjadi, termasuk dengan resiko pengeroyokan kalau ada masyarakat yang membantu korban. Kalaupun pelakunya mengatas namakan ormas saya rasa kerugian ada di kedua belah pihak ormas yang desember lalu bertikai karena resiko pembubaran sudah ada di depan mata, dan dari asumsi saya mereka tidak akan melakukan perbuatan nekat dengan melakukan itu di depan umum yang resikonya terlalu besar untuk kepentingan kedua organisasi.

Apakah ada yang masih ingat dengan hebohnya head hunter beberapa tahun lalu? Dari sini saya bisa simpulkan kalau profesi pembunuh itu memang ada dan oknum – oknum yang memanfaatkan jasa mereka juga memang ada. Terlebih lagi kepemilikan senjata sejenis samurai atau pedang sudah tidak bisa dikontrol lagi karena kebanyakan orang telah memiliki senjata tersebut, terlepas untuk koleksi pribadi atau motif lainnya. Kondisi ini yang membuat pada pelaku profesional lebih mudah untuk menyembunyikan keberadaannya.

Menyinggung mengenai motif, menurut analisa saya ini lebih kepada motif kepentingan pribadi karena dari kondisi yang terjadi saya tidak melihat ada kepentingan organinasional didalamnya saya lebih melihat kepada kerugian secara organisasi dan keuntungan oknum pribadi. Satu isu buruk saja mengenai kekerasan akan berdampak besar kepada ormas yang ada saat ini, terlebih lagi setelah adanya perjanjian yang berujung pada pembubaran kedua ormas tersebut. Jangan lupa oknum pribadi yang saya singgung disini bisa menjadi sangat luas dan diperlukan penyidikan yang mendalam dari pihak kepolisian untuk bisa menentukan siapa pelaku dan motif dari pelaku.

Saya disini tidak berbicara sebagai pendukung ormas dan saya juga tidak berbicara sebagai penentang ormas karena keberadaan ormas terlepas dari semua kontroversinya selalu ada positif dan negatifnya terlepas dari mana kita memandang dan terlepas dari sisi apa yang ditonjolkan dari ormas masing masing. Saya disini lebih menekankan kepada marilah kita menilai sesuatu lebih dalam sebelum menyimpulkan dan menyebarkan isu – isu tidak perlu yang justru membuat situasi semakin tidak baik untuk kondisi bali saat ini. Lebih baik kita semua bersikap lebih tenang dan menunggu rilis resmi dari kepolisian dan menarik kesimpulan setelah itu daripada menyimpulkan sendiri – sendiri.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

LEAVE A REPLY

seventeen − 5 =