Narkoba, Sindikat Terselubung dan Kemudahan Peredarannya di Masyarakat

TOTAL : 430 ( TODAY : 1)

Berita mengenai penyalah gunaan Narkotika dan Obat – Obatan Terlarang (Narkoba) sudah menjadi masalah di masyarakat Bali sejak lama. Awal mula peredarannya, yang tergolong Narkoba adalah obat – obatan yang bermanfaat untuk pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Hanya saja disisi lain obat – obatan ini dapat menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila disalahgunakan atau tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan seksama. Peredaran secara gelap oleh oknum tertentu demi keuntungan pribadi yang menyebabkan Narkoba ini mejadi tidak terkendali. Data tahun 2013 menyebutkan kalau omset keuntungan dari peredaran Narkoba mencapai 1 trilyun lebih, yang juga merupakan salah satu penyebab maraknya peredaran Narkoba di Bali.

Baru – baru ini Bali dihebohkan dengan penangkapan 9 remaja yang sedang melakukan pesta narkoba di sebuah tempat kost di Jalan Gunung Tangkuban Perahu, Padang Sambian, Denpasar, Bali. Usia mereka rata – rata 15 – 17 tahun, masih dalam kelompok usia sekolah. Dalam umur yang masih ABG seperti ini, mereka bisa dengan mudah mendapatkan barang sejenis narkoba, dan kalau dilihat dari pengakuannya, mereka rata – rata masih baru mencoba. Yang aneh menurut saya adalah, dimana pengetahuan anak – anak ini mengenai Narkoba? Bukankah selama ini sudah sering di dengung – dengungkan masalah anti Narkoba dan betapa berbahayanya Narkoba apabila di gunakan oleh generasi muda. Setiap kabupaten di Bali saya lihat ada terpampang baliho anti narkoba, bahkan yang paling banyak ada di Denpasar. Tapi kenapa pengguna yang masih terbilang usia sekolah ini yang notabene dari Denpasar masih mencoba Narkoba?.

Menurut saya kesalahan bukan ada di tangan pemerintah, bukan juga kurangnya penyuluhan mengenai bahaya Narkoba ini terhadap generasi muda. Saya rasa ini lebih kepada pergaulan anak muda sekarang yang cenderung menganggap Narkoba itu adalah barang yang bisa menaikkan nilai “Keren” dari mereka. Satu saja anak yang terkena pergaulan yang berhubungan dengan Narkoba, maka yang lainnya akan otomatis terpengaruh. Anak – anak yang masih dalam usia belia tersebut cenderung sangat mudah untuk dipengaruhi atas nama “Gengsi” dan “Gaol” dan istilah “Keren”. Ketika ada bahasa kalau nggak mencoba Narkoba itu nggak keren, otomatis ego anak – anak ini akan muncul dan mau nggak mau ya harus mencoba. Ketika nasib buruk menimpa, dan terkena razia dari polisi, disinilah letak penyadarannya, bahwa Narkoba itu Buruk, titik. Tidak ada yang keren dari istilah pecandu Narkoba.

Kalau analisa pengguna narkoba adalah kaum yang termarjinalkan atau kaum tersisih, teori ini dengan mudah saya bantah karena sebagian besar dari 9 anak ini adalah anak yang masih tinggal dengan orang tuanya. Hanya beberapa yang memang kost di daerah tersebut. Kenapa saya sebut mereka masih diperhatikan oleh orang tuanya, karena untuk membeli Narkoba merka patungan antara 100 – 150 ribu. Dan itu adalah uang saku mereka yang diberikan oleh orang tuanya. Ada 2 orang dari anak ini yang memang sering melakukan tindakan kriminal, dan saya rasa kedua anak inilah yang mempengaruhi teman – temannya yang lain untuk mengkonsumsi Narkoba.

Perekrutan para pengedar narkoba sudah lebih terstruktur mulai dari kalangan pejabat hingga ke pelosok desa, yang bahkan namanya masih asing terdengar di telinga kita. Ini yang menurut saya sudah sangat mengkhawatirkan untuk seluruh masyarakat Bali. Di belakang layar, istilah “Tukar Kepala” yang banyak beredar dikalangan pengguna juga sangat berpengaruh kepada makin maraknya peredaran Narkoba. Sejenis multilevel marketing, kalau tidak bisa menambah kaki – kaki di bawahnya maka pengedar Narkoba ini menjadi tidak berproduksi dan tidak akan mampu membiayai kecanduannya akan Narkoba. Secara otomatis ini akan memacu para pengedar untuk terus merekrut pengguna bahkan pengedar untuk terus bisa menikmati candu dan menguasai peredaran di masing – masing daerah.

Kenapa saya bilang peredaran Narkoba sudah sangat terstruktur. Analisa sederhananya, Masih ada yang ingat dengan penangkapan gembong narkoba terbesar di Denpasar dengan nama Putu Leon bulan maret lalu?. Secara sederhana, Putu Leon adalah supplier terbesar narkoba dan menurut beritanya dia yang menguasai pasar peredaran Narkoba di Denpasar. Kalau sudah suppliernya tertangkap, otomatis pasokan barang akan berhenti kan? Nah kenapa justru sekarang perederan Narkoba bahkan semakin marak dan sudah menyentuh usia belasan?. Pertanyaannya disini. Dan penjelasan yang paling masuk akal menurut saya adalah Supplier besar tertangkap, masih ada supplier kecil – kecil yang pegang kendali di lapangan. Saya juga masih belum bisa menyimpulkan kalau supplier itu kecil karena yang menjadi pelanggannya mulai dari Oknum Anggota Dewan, Oknum PNS,  Dosen Pengajar, bahkan Oknum masyarakat petani di pedesaan.

Satu contoh peredaran terselubung dengan hitungan supplier skala kecil menurut saya adalah terbongkarnya kasus Jro Kresi yang merupakan pengedar narkoba dengan kedok pemangku dan sedang mengobati pasien. Barang bukti yang ditemukan berupa puluhan paket sabu yang dikemas dalam sabuk dan kotak, dan yang menjadi pelanggan adalah kalangan terbatas. mereka menikmati Narkoba jenis sabu di tempat yang telah disediakan oleh Jro Kresi. Kasus penangkapan ini terjadi bulan April. Pertanyaannya adalah, jika bulan maret gembong besarnya sudah tertangkap, kok bulan april masih ada stock yang cukup banyak di supplier kecilnya? Dimanakan Jro Kresi ini mendapatkan supply Narkobanya? Ini salah satu contoh, dan masih ada beberapa kasus lain yang terbongkar setelahnya.

Kalau kata mantan capres, ini adalah peredaran yang terstruktur dan massif. Narkoba merupakan ancaman bagi kita semua masyarakat terutama generasi muda. Negara telah mengancam hukuman mati untuk para pegedar Narkoba, toh ini juga masih belum membuat efek jera bagi para pelakunya. Dan peredaran Narkoba cenderung menjadi lebih marak belakangan ini.

Narkoba sekarang ini tidak hanya menjadi masalah BNN dan Kepolisian, Narkoba telah berkembang disekitar kita dan menjadi masalah kita bersama untuk terus memberantas peredarannya. Marilah kita awasi keluarga kita agar tidak mencoba bahkan tersentuh oleh pergaulan Narkoba. Jagalah anak – anak kita, generasi muda kita dari bahaya Narkoba. Untuk para orang tua, saya sarankan, mulailah memperhatikan dan membatasi pergaulan putra – putri kalian, jangan sampai terjerumus kedalam pergaulan yang justru membahayakan mereka.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :