Menyimak Pidato Khas SBY Dalam Dies Natalis PD ke-15

TOTAL : 264 ( TODAY : 1)

SBY sebagai tokoh politik memang selalu khas, terutama dengan apa yang disampaikannya ketika berkomunikasi di depan publik. Gayanya yang santun namun selalu ada kontradiksi apa yang disampaikannya dengan apa yang dilakukannya. Satu ciri khas yang sering disampaikannya dalam setiap pidatonya adalah pembandingan pemerintahannya dulu dengan apa yang terjadi sekarang ini. Hal ini bukanlah sesuatu yang salah, tapi menjadi sebuah kontradiksi ketika yang disampaikan SBY tidaklah sama dengan apa yang dilakukannya.

Pada pidatonya SBY menyatakan dukungannya terhadap kebijakan Tax Amnesty, tapi kontradiksi yang terjadi adalah SBY dan Keluarganya tidak ada yang ikut Tax Amnesty dengan alasan SBY sudah melaporkan seluruh asetnya. Tapi yang menarik dalam pidato SBY adalah kalimat berikut.

Menggeser sasaran kepada rakyat biasa disertai komunikasi yang tidak baik, membuat masyarakat takut, merasa dikejar-kejar dan tidak tenteram tinggal di negerinya sendiri 

Saya memiliki kecurigaan tersendiri dengan apa yang dimaksudkan oleh kalimat tersebut, terutama karena tidak ikutnya SBY dan keluarganya dalam program Tax Amnesty. Pertanyaan pertama yang muncul dibenak saya adalah, masyarakat mana yang takut dan merasa dikejar – kejar dan tidak tenteram tinggal di negerinya sendiri? apakah SBY sedang membicarakan dirinya sendiri, yang notabene sekarang adalah masyarakat?.

Saya menyimak kritik SBY terhadap pemerintah sekarang yang tebang pilih dalam penegakan hukum disamping itu SBY juga menyoroti masalah intervensi pihak – pihak yang tidak berhak atas penegakan hukum ditanah air.

Hal ini menjadi kontradiksi ketika SBY melalui press conference “lebaran kuda”-nya malah mendesak proses hukum Ahok, bukankah ini sebuah bentuk dari intervensi dari yang tidak berhak? Bahkan pernyataan Partai Demokrat yang meminta penangguhan kasus Sylviana Murni hingga selesai Pilkada, bukankah ini juga merupakan intervensi terhadap penegakan hukum?

Yang menarik ketika SBY membahas mengenai penegakan hukum adalah kalimat berikut

Sejumlah kasus besar berkategori terang, yang menurut rakyat pasti diproses secara hukum, nampaknya masih mengendap entah di mana. Sementara, kasus-kasus yang jauh lebih tidak signifikan menjadi prioritas. Terpulang siapa yang diperkarakan.

Membaca kalimat tersebut, kita tentu ingat beberapa kali nama Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) disebut dalam kasus korupsi yang dilakukan oleh petinggi Partai Demokrat, tapi hingga kini Ibas belum pernah sekalipun datang dalam persidangan.

Terkait dengan Kebhinekaan SBY dalam pidatonya berpendapat ada 2 kata kunci jika kita ingin sukses menjaga kebhinnekaan. Yang pertama adalah toleransi, dan yang kedua tenggang rasa. Ini menjadi kontradiksi dengan kalimat sebelumnya yang disampaikan oleh SBY bahwa Saat ini tidak ada ancaman yang serius terhadap kebhinnekaan kita. Kalau kunci menjaga kebhinekaan adalah toleransi, bukankan sikap intoleransi yang ditonjolkan oleh ormas – ormas ekstrimis belakangan ini merupakan ancaman untuk kebhinekaan?

Toleransi ini juga menjadi pertanyaan besar ketika jaman pemerintahan SBY terbit SKB No 9 tahun 2006 dan No 8 tahun 2006, yang dicurigai sebagai penyebab banyaknya masalah mengenai pendirian rumah ibadah dan muncul dugaan bahwa SKB tersebut sering digunakan sebagai alat intimidasi oleh mayoritas terhadap minoritas dalam pendirian rumah ibadah. Kita lihat sendiri aksi oleh PAS dan DDI di gedung Sabuga Bandung yang menggunakan SKB ini sebagai alasan untuk membubarkan kebaktian.

Yang menarik dari masalah toleransi yang disampaikan oleh SBY dalam pidatonya adalah kalimat berikut.

Jangan dibiarkan kaum radikal dan ekstrim tampil karena merasa terpanggil, dan kemudian mengambil alih keadaan. Dari kelompok manapun.

Kita semua tentunya tahu kalau yang dimaksudkan dengan kaum radikal ekstrim adalah FPI, HTI, FUI dan yang lainnya. Kita juga tahu kalau petinggi – petinggi organisasi tersebut tergabung dalam GNPF MUI, lalu kenapa SBY malah menemui mereka? bukankah ini namanya memberi ruang kepada kaum radikal dan ekstrim tersebut untuk tampil?

Satu lagi kalimat yang menjadi lucu dan kontradiktif yang disampaikan SBY dalam pidatonya.

Sambil menyalahkan saya karena sebagai Presiden saya dianggap ‘terlalu demokratis’ dan ‘terlalu baik’, sejumlah pihak menyarankan agar saya lebih tegas dan bertindak keras. Kata mereka, demokrasi tak cocok untuk Indonesia. Rakyat tak boleh diberi ruang politik terlalu lebar, karena politik akan gaduh dan negara tidak stabil.

SBY lupa kalau pada jamannya dulu justru ada beberapa orang yang berujung penjara karena mengkritiknya dengan keras. Salah satunya adalah dua aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera), Ferdi Semaun dan Mustar Bonaventura divonis tujuh bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena terbukti melakukan tindak pidana pencemaran nama baik, terhadap beberapa petinggi negara dan individu yang salah satunya Presiden SBY. Ada juga Monang J Tambunan yang menjabat Presidium GMNI ditangkap aparat saat melakukan aksi turun ke jalan memperingati 100 hari masa pemerintahan SBY-Kalla.

Apakah SBY masih mengkategorikan dirinya sebagai Presiden yang ‘terlalu demokratis’ dan ‘terlalu baik’?

Kalimat SBY yang mengutip John Steinbeck  yang pernah mengatakan bahwa:

‘Power does not corrupt. Fear corrupt, perhaps the fear of a loss of power’. Terjemahan bebasnya adalah, ‘Sebenarnya kekuasaan itu tidak korup. Ketakutanlah yang membuat penguasa korup. Barangkali karena ia takut akan kehilangan kekuasaannya’.

Kalimat ini Sangat kontradiktif dengan perilaku SBY di twitter belakangan ini yang mengisyaratkan adanya ketakutan, termasuk penyadapan, di ‘gerudug’ mass dan lainnya, entah apa yang ditakutkan oleh SBY. Apakah SBY sedang ketakutan akan kehilangan kekuasaannya?.

Terakhir, kalimat berikut yang menurut saya memang sangat – sangat lucu yang diungkapkan SBY dalam pidatonya.

Karenanya, para petinggi TNI, Polri dan BIN, janganlah tergoda oleh kekuasaan sesaat. Jangan merusak sendi-sendi keprajuritan dan kepolisian yang luhur. 

SBY lupa dengan Agus Harimurti Yudhoyono yang sekarang sedang tergoda atau didorong untuk tergoda dengan kekuasaan sesaat dengan mencalonkan diri sebagai Cagub Jakarta. Atau jangan – jangan SBY tidak sadar mengucapkan kalimat ini?

SBY adalah tokoh yang santun namun selalu ada kontradiksi dalam apa yang disampaikannya dengan apa yang dilakukannya, dalam bahasa sederhananya apa yang dia katakan maka yang dilakukannya adalah yang sebaliknya. Entah ini disengaja atau tidak, tapi kita tahu politisi memang cenderung menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi agar selalu terlihat baik di depan publik. Begitulah politisi, beda yang dikatakannya dengan yang dilakukannya. Pertanyaan saya adalah, masihkah kita percaya pada politisi seperti ini?

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

 

NB: Transkrip lengkap pidato SBY pada dies natalis PD ke-15 dapat anda lihat pada tautan berikut: https://news.detik.com/berita/d-3416372/ini-pidato-politik-lengkap-sby-di-dies-natalis-partai-demokrat?single=1

Mari Berbagi :