Menguji Kebenaran Agama

499 total, 1 today

Pagi ini, seorang kakek yang tidak saya kenal mendatangi warung kopi tempat biasa. Kakek itu duduk di sebelah saya dan kami-pun mulai berbicang tentang banyak hal mulai dari pengalaman hidupnya hingga kisah – kisah lucu yang pernah dia jalani.

Pembicaraan kami sedikit terhenti ketika kakek ini bertanya, bagaimana menguji kebenaran sebuah agama?

Saya mengernyitkan dahi dan berpikir, bagaimana sebuah agama bisa diuji kebenarannya. Jika agama adalah wahyu yang bersumber dari Tuhan, apakah kita harus menguji kebenaran Tuhan juga?, saya mulai membolak balik pikiran dan semua yang saya tahu, sungguh saya tidak bisa menjawab pertanyaan kakek tadi.

Saya menyerah, itu kalimat yang saya ucapkan ke kakek tadi.

Kemudian kakek ini membenarkan posisi tempat duduknya dan mulai berbicara dengan tatapan yang agak serius ke saya.

Cara menguji kebenaran sebuah agama adalah melalui perwakilan dari agama – agama tersebut dalam wujud manusia.

Lalu siapakah perwakilan agama tersebut di dunia ini?.

Dialah guru – guru dalam setiap agama. Di keluarga kita mengenal orang tua kita sebagai guru agama pertama, di sekolah kita mengenal guru pelajaran agama. Di lingkungan masyarakat yang lebih luas kita mengenal guru agama atau sering disebut pemimpin keagamaan dalam sebutan yang berbeda, diantaranya, dalam Hindhu kita mengenal yang namanya Pedanda, dalam Kristen ada Pendeta, dalam Islam ada Ulama, dalam Budha kita mengenal Bhikhu.

Lalu bagaimana cara menguji kebenarannya, apakah dengan mempertanyakan dan mendebat ajaran agama terhadap guru – guru agama tadi?

Kakek itu tersenyum kemudian menjawab halus, tidak, bukan begitu caranya. Cara paling mudah untuk melihat kebenaran sebuah agama adalah dengan melihat kehidupan dan keseharian dari guru – guru tersebut.

Saya kembali mengernyitkan dahi dan berpikir.

Kakek itu mulai menjelaskan. Setiap agama tentu mengajarkan kebaikan, kedamaian dan cinta kasih antar sesama manusia. Kita hanya bisa mencontoh itu semua dari prilaku seorang guru, karena guru-lah yang bisa kita lihat secara langsung. Sangat sulit bagi kita untuk melihat apa yang diajarkan oleh sebuah agama melalui cerita masa lalu, imajinasi kita berbeda – beda menanggapi cerita tersebut. Tapi ketika kita melihat keseharian yang nampak dari seorang guru, kita bisa melihat dan merasakan langsung dampak dari ajaran agama pada kehidupannya.

Orang tua adalah cermin dari sebuah keluarga di mata umum, sekaligus juga cermin dari kehidupan beragama dalam keluarga tersebut. Begitu juga dengan seorang guru agama, publik akan melihat kesehariannya sebagai cermin dari agama yang diajarkan kepada anak didiknya. Pada sebatang pohon, daun dan buahnya-lah yang bisa dilihat publik sebagai cermin dari pohon tersebut. Jika daun dan buahnya buruk, otomatis publik akan menilai pohon tersebut buruk, begitu juga sebaliknya.

Disadari atau tidak, pemimpin keagamaan adalah citra yang dilihat publik untuk menilai ajaran sebuah agama. Seberapa keras-pun kita berteriak mengatakan agama kita adalah agama kedamaian, tidak akan ada yang percaya kalau tampilan agama yang ditunjukkan oleh pemimpinnya penuh permusuhan. Seberapa kuat-pun kita mengatakan agama kita adalah agama kebaikan dan penuh cinta kasih, tidak akan ada orang yang percaya kalau justru pemimpin keagamaannya setiap hari meneriakkan kebencian.

Seorang pemimpin keagamaan adalah buah dari agama yang dipelajarinya, persis seperti analogi pohon tadi, buah yang baik dihasilkan oleh pohon yang baik, dan buah yang buruk akan dihasilkan oleh pohon yang buruk pula. Begitulah ajaran sebuah agama.

saya mengerti. Lalu dengan kondisi kehidupan beragama seperti sekarang, apa berarti semua agama tidak lulus uji kebenaran?. Dimana – mana agama dijadikan alasan untuk menindas, bermusuhan dan berperang.

Kakek itu mulai mengangkat gelas kopinya kemudian menghisap sebatang rokok yang baru dia nyalakan. Sambil menghela nafas, dia menjawab pelan.

Sekarang adalah waktumu untuk membuktikan bahwa agamamu benar dengan menunjukkan sikap yang baik, penuh kedamaian dan cinta kasih kepada sesamamu. Bukankah kamu adalah orang tua dari anakmu kelak? Bukannya tidak mungkin, kamu akan menjadi pemimpin agamamu kelak.

Mulailah dari dirimu untuk dijadikan cermin dari agamamu agar masyarakat umum tahu bahwa agamamu benar. Sekarang bukan waktumu untuk menguji kebenaran agamamu, melainkan, sekarang adalah waktumu untuk membuktikan kebenaran agamamu. Panggung pertunjukan para pemimpin agama yang ada sekarang ini adalah panggungmu kelak.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

18 COMMENTS

  1. Ini pengujian semu!! Kalau pingin lihat kitabnya pelajari isinya, lihat bahasa, sainnya, isinya tabrakan apa ndak, isinya tiap berubah ndak! Udah kelihatan itu!!

LEAVE A REPLY

18 − 1 =