Melihat Lebih Luas dalam Ketidakberpihakkan

576 total, 1 today

Saya salut dengan teman – teman yang senang menunjukkan eksistensi perjuangannya entah dalam bentuk apapun yang diperjuangkan. Ada yang getol memperjuangkan tokoh, hal, perihal dan bentuk – bentuk yang mungkin untuk satu  atau sekelompok orang memang layak untuk diperjuangkan. Untuk perlu diingat bahwa di dunia ini ada banyak hal dan sudut pandang yang bertebaran dan ada banyak bentuk dan jenis perjuangan. Kita semua mungkin pernah mendengar pepatah mengatakan “Ada banyak jalan menuju Roma”. Jadi teman – teman sekalian harus paham kalau menuju satu wujud yang diperjuangkan ada berbagai macam cara yang saya definisikan dengan jenis perjuangan.

Seorang wartawan akan berjuang menggaungkan fakta melalui medianya masing – masing, penulis akan menuliskan sudut pandangnya untuk bisa turut mengimbangi opini yang beredar, seorang pedagang akan berjuang dengan apa? Atau seorang petani akan berjuang dengan cara apa? Dengan mencangkul yang dalam untuk menanam jagung di kebun kita?.

Disinilah kita semua mesti memahami bahwa berjuang untuk satu tujuan itu bukan dengan satu cara, melainkan dengan berbagai macam cara. Seorang pedagang atau petani tidak akan bisa disamakan dengan penulis, karena kemampuan mereka menyampaikan pendapat tidak sebanding. Disamping karena masalah pendidikan, masalah bahasa dan kedalaman pemahaman juga berperan di dalamnya. Saya tidak berbicara untuk petani atau pedagang golongan khusus atau petani dan pedagang yang telah meraih gelar sarjana dan kembali ke desa untuk mengelola pertanian atau pedesaan dengan cara yang lebih modern. Saya sedang membicarakan kondisi petani atau pedagang pada umumnya ,yang berada di desa dengan pendidikan semaksimal sekolah dasar.

Jika kemudian sebuah perjuangan di definisikan sebagai satu dan hanya satu – satunya cara, saya rasa anda perlu sedikit memahami tentang sisi fanatisme yang sekarang justru merambah segala bidang dan sedang menggerogoti persatuan dan kesatuan bangsa kita. Ini adalah salah satu sisi negatif dari keberpihakan. Contoh, ketika kita berpihak pada satu agama tertentu dan menyatakan diri sebagai pejuang agama. Hal yang pertama muncul adalah fanatisme kita yang membuat agama lain rendah di mata kita tanpa mau mendengarkan penjelasan apapun. Dari sini akan muncul ejekan, hinaan, bahkan perendahan nilai – nilai agama itu sendiri. Pejuang lingkungan yang fanatis akan merendahkan semua orang yang tidak sevisi dengannya, pejuang – pejuang yang lain juga akan seperti itu adanya. Disinilah sisi dimana fanatisme itu harus dikurangi karena dimanapun fanatisme itu berkembang, bukan kebaikan yang muncul, hanya kehancuran dan kecenderungan untuk penghancuran.

Ketidakberpihakkan tidaklah sama dengan “abu – abu” seperti yang sekelompok orang pahami selama ini. “abu – abu” memiliki makna antara setuju atau tidak setuju, tapi tidak memunculkan sikapnya. Penganut paham “abu – abu” ini cenderung ikut kemanapun arah dukungan, ungkapan yang bisa saya samakan dengan kondisi ini adalah plin-plan atau tidak tentu arah. Ketidakberpihakkan lebih kepada tidak diantara kedua pihak, atau tidak memihak pada sisi manapun. Kalau dipahami secara betul, ketidakberpihakkan adalah sebuah pihak yang tidak diantara 2 atau lebih pihak. Secara lebih luasnya, ketidakberpihakkan adalah penengah dari 2 atau lebih pihak yang ada, dan cenderung melihat dan mengamati dan menjadi pihak yang mengkoreksi kalau ada salah satu pihak yang keluar daripada jalur yang ditentukan. Ketidakberpihakkan sangatlah perlu ada dalam setiap perjuangan, tanpa counter atau penengah dari beberapa pihak, maka perjuangan itu cenderung akan membabi buta dan menghalalkan segala cara untuk kemenangan salah satu pihak. Ketidakberpihakkan adalah jalan tengah dari semua fanatisme yang muncul dari berbagai macam pihak dan menjadi solusi untuk perdamaian dari semua pihak.

Di indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan ras telah sering mengalami konflik karena fanatisme dari mereka yang mengaku dirinya pejuang dari masing – masing kelompok. Sebagai penengah dari semua itu muncullah yang namanya gerakan Nasionalis atau gerakan yang tidak memihak kepada suku atau agama manapun, tapi berpihak kepada kepentingan yang lebih besar yaitu Indonesia. Ketika isu S.A.R.A sudah terlalu jauh dari batas maka gerakan Nasionalis ini menjadi penengah.

Seperti halnya setiap perjuangan yang diwujudkan dalam pergerakan, ada banyak pihak yang bekepentingan yang turut berjuang disana, diperlukan orang – orang yang tidak berpihak untuk mengamati dan mengkoreksi ketika pergerakan tersebut sudah melewati batas. Tidaklah mudah untuk menjalani ketidakberpihakkan karena dituntut untuk memahami dan mengerti setiap pihak yang ada. Lebih mudah untuk berpihak karena yang harus dipahami dan diperjuangkan hanyalah satu kemenangan untuk pihak masing masing. Ada banyak cerita orang – orang yang menjalani ketidakberpihakkan justru menjadi bulan – bulanan dan penghinaan karena ketidakpahaman kebanyakan orang. Contoh kongkritnya sangat susah untuk saya buktikan karena mereka semua cenderung tidak muncul ke permukaan dan menjadi fakta tak terungkap dalam sejarah. Membaca sejarah dari berbagai sudut akan membuat anda mengerti akan arti ketidakberpihakkan yang banyak digaungkan secara terselubung oleh tokoh – tokoh pergerakan nasional yang dimulai dari tahun 1928 dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Munculnya Pancasila sebagai dasar negara adalah buah dari ketidakberpihakkan yang memunculkan jalan tengah untuk persatuan dan kesatuan Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama.

Saya tidak berbicara dalam ranah untuk menyalahkan atau membenarkan setiap pihak yang berjuang akan apa yang menurut mereka pantas diperjuangkan. Saya disini berbicara untuk kita semua sedikit mengerti dan memahami kalau fanatisme akan menghancurkan, dan pergerakan yang baik adalah pergerakan yang membangun provokasi yang lebih konstruktif sehingga muncul dukungan dari hati karena kesatuan visi dan misi. Ketika pergerakan didasari atas fanatisme apalagi dilakukan dengan cara penghinaan dan perendahan saya rasa dukungan yang muncul hanyalah ikut – ikutan semata dan akan cepat sirna seiring dengan waktu. Saya menghormati yang berjuang, sama menghormati yang memilih salah satu pihak yang berjuang, saya juga menghormati yang memilih untuk tidak berpihak. Dunia ini tidak akan seimbang tanpa salah satu pihak.

Ahhh… nyiup kopi malu ajak roko katih.

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

two × four =