Melawan Ketidakadilan

168 total, 1 today

Seorang teman saya tengah duduk dan melamun sendiri di warung kopi pagi ini. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Sepertinya sesuatu yang sangat serius sedang mengganggu pikirannya. Saking seriusnya, hingga segelas kopi yang ada dihadapannya dibiarkan dingin tanpa tersentuh. Kepulan demi kepulan asap rokok beruntun keluar dari mulutnya.

“Kamu mikirin apa bro? serius amat”. Sapaku sambil duduk di sebelahnya dan memesan segelas kopi pahit tanpa gula.

“Tau nggak, Mahabharata adalah perang segelintir elit politik jaman itu. Antara Pandawa dan Kurawa, antara Khrisna dan Sangkuni. Tapi kebanyakan korbannya adalah rakyat biasa”. Temanku membuka pembicaraan.

“Tunggu bro, kopi belum datang”. Kataku sambil membenarkan tempat duduk.

Tak lama setelah itu, datanglah segelas kopi yang saya pesan. Berbarengan dengan itu datang seorang kakek yang juga memesan kopi yang sama. Sambil meminjam korek untuk menyalakan rokoknya, kakek itu duduk di sebelah saya. Jadilah satu meja ini seperti meja diskusi 3 orang.

“Bukannya Mahabharata itu perang antara kebaikan dan kejahatan?”, saya membuka percakapan yang tadi saya potong.

“Iya, perang antara kebaikan dan kejahatan dalam versi masing – masing. Lihat saja tiap plot yang terjadi pada cerita itu. Pihak Kurawa memerangi Pandawa untuk mempertahankan kekuasannya atas kerajaannya. Sedangkan pihak Pandawa juga memerangi Kurawa untuk merebut kerajaan yang diambil oleh Kurawa. Yang mati dalam perang tersebut adalah ribuan rakyat dari kedua belah pihak”. kata temanku.

“Jika saja tidak ada saling mempertahankan kekuasaan antara kedua belah pihak, mungkin tidak akan pernah terjadi perang yang mengorbankan rakyat. Jadi siapa yang baik dan jahat disini? Keduanya adalah pihak yang mempertahankan kebenarannya masing – masing dengan mengorbankan rakyat”. Sambungnya.

Sampai disini saya hanya bisa mencoba berpikir dan mencerna omongan teman saya. Si kakek tadi mengangkat gelas dan meminum kopinya perlahan kemudian menghisap rokok yang ada di tangannya. Kakek tadi kemudian membuka pembicaraan.

“Yang berperang dalam cerita Mahabharata itu pasukan kedua belah pihak. Rakyat dari kedua belah pihak tidak ikut berperang. Jadi persepsi tentang rakyat yang jadi korban itu tidak benar”. Kata kakek itu.

“Tetap saja pasukan tadi kan juga adalah korban yang nggak ngerti apa – apa urusan elit politik kerajaan”. Bantah temanku.

“Begini, dalam hidup ini kita dilahirkan untuk menjalankan kewajiban kita sebagai manusia atau yang lazim disebut sebagai tugas. Seorang prajurit, bertugas untuk berperang dan membela kerajaannya. Begitu juga pihak – pihak yang lain yang bertugas menjalankan kewajibannya masing – masing”. Kata kakek tadi meluruskan argumentasinya.

“Tugas adalah sebuah pengabdian. Pengabdian seorang prajurit adalah untuk kerajaan atau kalau diistilahkan di jaman sekarang namanya negara. Mengabdi berarti rela berkorban bahkan kehilangan nyawa sekalipun. Karena seorang prajurit memang dilatih untuk membunuh atau dibunuh di medan perang”. Sambung kakek tadi.

“Disadari atau tidak, kita-pun sehari – hari berkorban untuk negara kita. Kita bekerja, menghasilkan gaji bulanan dan dengan sukarela sebagiannya kita korbankan untuk negara dalam bentuk pajak. Setiap orang yang ada di negara kita ini juga berkorban sesuai dengan kemampuannya masing – masing. Demi sebuah kehidupan bersama dalam satu wilayah yang kita sebut dengan Indonesia ini”. Sambung kakek itu lagi.

“Lalu kenapa mereka harus berperang? Apa yang mereka bela? Bukannya mereka semua adalah korban dari elite kerajaan yang bertikai ketika itu?”. Bantah temanku seolah tidak bisa menerima argumentasi dari kakek tadi.

Sejenak kakek tersebut terlihat berpikir sambil meminum kopinya dan menikmati kepulan demi kepulan asap rokok yang sedari tadi terjepit diantara telunjuk dan jari tengahnya.

“Cerita Mahabhrata adalah cerita tentang penindasan oleh satu kerajaan terhadap kerajaan lainnya yang dilakukan secara licik. Masing – masing pihak, baik Kurawa maupun Pandawa telah memiliki kerajaannya masing – masing. Kurawa dengan Hastinapuranya, Pandawa dengan Kerajaan Amarta. Dengan licik pihak Kurawa menguasai kerajaan Amarta dan menyingkirkan Pandawa ke tengah hutan selama 13 tahun dengan janji akan mengembalikan kerajaan tersebut setelah pengasingannya selesai”. Terang kakek itu.

“Ibaratnya sebuah kontrak, ketika telah ada sebuah kontrak antara 2 pihak yang berkepentingan, kedua belah pihak wajib menaati kontrak tersebut. Ketika salah satu pihak melanggar isi kontrak tersebut bukannya wajar pihak yang dirugikan melakukan perlawanan?”.

“Dalam cerita Mahabharata tidak serta merta terjadi perang, ada proses negosiasi yang mendahului. Kedua belah pihak telah melakukan negosiasi yang berujung pada deadlock atau kegagalan mencapai kesepakatan. Pihak Kurawa tidak mau menaati kesepakatan yang telah dibuatnya dengan tidak mau mengembalikan kerajaan yang merupakan hak dari Pandawa. Istilahnya pihak Kurawa telah melanggar kontrak”.

“Coba kalian nilai, pihak mana yang benar dalam hal ini?”. Tanya kakek itu pada kami.

“Ya jelas pihak Pandawa. Tapi kenapa Pandawa tidak merelakan saja kerajaannya  untuk menghindari peperangan dan banyaknya korban? Bukankah lebih bersahaja ketika seseorang mengalah demi menghindari korban dalam peperangan?”. Tanya temanku.

“Dalam cerita Mahabharata ada ketidakadilan yang dialami oleh Pandawa. Disana ada koalisi berbagai macam kerajaan atas nama solidaritas untuk melawan ketidakadilan. Peperangan itu terjadi sebagai perlawanan atas ketidakadilan yang dialami oleh Pandawa. Perang tersebut sebenarnya bukan perang untuk memperebutkan kerajaan, tapi perang melawan ketidakadilan”. Kata kakek tadi meluruskan.

“Pandawa adalah pihak yang ditindas oleh penguasa yang menghalalkan segala cara untuk kekuasaannya yang dilakukan oleh Kurawa. Solidaritas pendukung Pandawa muncul dari sikap untuk melawan ketertindasan oleh penguasa licik seperti Kurawa”.

“Coba saja kita amati di sekitar kita, bukankan akan selalu ada yang melawan ketika melihat ketertindasan dan ketidakadilan? Begitu juga sebaliknya, akan selalu ada yang mendukung pihak penindas. Ini memang akan selalu terjadi selama peradaban manusia”.

“Sekarang kita hanya tinggal memilih dimana kita berpihak, apakah di pihak penindas yang menghalalkan segala cara atau pihak yang tertindas dan berjuang atas nama keadilan. Kuncinya cuma satu, yaitu keberpihakkan”.

“Sekarang kamu jawab sendiri, wajarkah ketika itu terjadi perang?”. Tanya kakek itu.

“Ya wajar sih, dimana – mana juga keadilan memang harus ditegakkan”. Jawab teman saya.

“Sekarang tinggal bagaimana sikap kamu atas ketidakadilan itu, mau ikut melawan atau hanya diam saja dan membiarkan ketidakadilan itu berjalan terus menerus. kalau saya dulu, saya ikut berperang melawan ketertindasan oleh penjajah”. Kata kakek tadi.

“Jaman dulu, perang dilakukan dengan angkat senjata untuk melawan penjajah. Jaman sekarang, perang melawan ketidakadilan bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, ada yang melakukan dengan edukasi, ada pula yang melakukan dengan advokasi, macam – macam tergantung kemampuan masing – masing”. Sambung kakek tadi.

“Ingat, dimana ada pihak yang tertindas dan diperlakukan tidak adil, disanalah ada Pandawa. Dimana ada penindas yang berlaku tidak adil dan menghalalkan segala cara disanalah ada Kurawa. sekarang kamu tinggal memilih, berada di pihak Pandawa atau Kurawa. Sejarah mencatat bahwa pihak Pandawa akan selalu menang melawan pihak Kurawa”. Tutup kakek tadi sambil beranjak pergi meninggalkan kami.

Teman saya masih memikirkan perkataan kakek tadi, tapi raut mukanya menyiratkan kepuasan karena telah mendapatkan jawaban atas kegelisannya selama ini. Sekarang dia hanya perlu memikirkan, di pihak manakah dia harus berpijak di negara ini dan dengan cara apa dia harus melawan. Teman saya menghabiskan segelas kopinya dalam sekali tenggak dan beranjak pergi. Saya-pun beranjak untuk pulang ke rumah dan menuliskan cerita ini.

Ahh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :