Leak Berpendidikan ala PHDI Bangli

TOTAL : 384 ( TODAY : 2)

PHDI Bangli melakukan terobosan yang menurut saya sangat unik kalau dilihat dari dunia modern saat ini, dimana ilmu berbau mistis sudah semakin ditinggalkan oleh masyarakat Bali dan beralih pada ilmu modern yang berbasis pada penjelasan logis dan fakta yang bisa dijelaskan dengan akal sehat. Hal ini bisa kita lihat dari semakin banyaknya masyarakat Bali yang beralih pada pilihan berobat ke rumah sakit daripada ke dukun atau balian. Data ini bisa dilihat pada angka hunian rumah sakit di seluruh Bali, dan angka pertambahan jumlah rumah sakit yang ada di Bali.

Untuk beberapa kalangan, pengobatan mistis memang masih tetap tumbuh dan berkembang, terbukti dengan banyaknya masyarakat yang berminat untuk datang pada pengobatan yang dilakukan oleh Bupati Tabanan, Eka Wiryastuti, entah minat masyarakat karena pengobatanannya atau karena Bupatinya, saya masih kurang paham, tapi saya anggap tingginya minat masyarakat karena pengobatannya.

Ada banyak analisis mengenai hal ini, salah satunya adalah karena kondisi ekonomi masyarakat yang tidak mampu menjangkau pengobatan di rumah sakit, tapi saya melihat dari sisi kultur masyarakat yang masih belum bisa lepas pada hal mistis yang telah mendarah daging selama ratusan tahun lamanya.

Menurut pendapat saya, ilmu leak merupakan salah satu bagian dari budaya Bali memang harus dilestarikan, tapi pelestarian disini bukanlah berarti mengembalikan semuanya pada kultur masa lalu, atau kultur kebudayaan dimana leak pernah mencapai puncak kejayaannya di masa lalu. Pelestariannya diarahkan pada penelitian sisi ilmiah dari ilmu leak itu sendiri. Ilmiah disini berarti menekankan pada pengujian dan pengukuran sehingga bisa ditemukan teori ilmiah baru yang didasarkan pada ilmu leak itu sendiri.

Diakui atau tidak, di jaman sekarang ini ilmu leak masih terkesan tabu. Tidak banyak orang yang mengenal, membaca, bahkan mengetahui secara pasti ilmu leak itu sendiri. Menurut yang pernah saya baca, dalam ilmu pengeleakan, ada ilmu mengenai pengobatan, ilmu mengenai racun, dan ilmu filsafat asli orang Bali. Satu yang sulit ditemukan pada Ilmu ini adalah sisi dokumentasi yang akurat dan pengujian dalam bentuk ilmiah.

Salah satu contoh yang bisa saya ungkapkan disini adalah rendaman plasenta atau tali pusar bayi yang bisa digunakan untuk obat bagi bayi itu sendiri. Saya belum menemukan sumber yang akurat mengenai darimana pengobatan tradisional Bali ini berasal, mungkin juga merupakan salah satu ilmu pengobatan yang ada dalam ilmu leak. Sekarang telah ada dokumentasi dan bukti ilmiah mengenai manfaat dari plasenta yang ditemukan sejak 1960, bahkah sejak tahun 1990 telah ada bank plasenta di New York, Amerika Serikat. Plasenta sekarang ini telah dikembangkan bukan hanya untuk mengobati bayi saja, tapi mengobati berbagai macam penyakit karena manfaat yang ada di dalamnya.

Yang sering muncul dalam benak saya adalah, orang Bali menggunakan ilmu pengobatan plasenta ini sudah ratusan tahun yang lalu, tapi yang melakukan penelitian orang luar dan bahkan sekarang sudah dikembangkan jadi lebih maju daripada yang diketahui oleh orang Bali itu sendiri.

Dasar kultur dan pemikiran kebanyakan masyarakat Bali yang sering menabukan banyak sisi ilmu dengan dalih “aja wera” menurut saya menjadi salah satu sebab kurang berkembangnya ilmu tradisional Bali. Karena tidak boleh dipelajari oleh sembarang orang, berarti tidak boleh juga diteliti oleh sembarang orang, padahal, secara dunia yang modern seperti sekarang ini, segala ilmu telah ada metode penelitian dan pengujiannya secara ilmiah. Dengan dihadirkannya bukti secara ilmiah, maka dengan sendirinya penelitian akan bergulir dan berkembang menjadi ilmu – ilmu baru.

Jalan satu – satunya untuk mengembangkan dan menggiring ilmu leak ini ke arah yang lebih ilmiah adalah dengan membuka akses seluas – luasnya pada siapapun yang berminat untuk mempelajari dan meneliti ilmu leak itu sendiri. Ada banyak perguruan tradisional Bali yang mengajarkan ilmu leak secara keilmuan tapi beberapa memang belum bisa mempertanggung jawabkan secara ilmiah karena keterbatasan ilmu dan sumber daya untuk meneliti tentang segala aspek yang menyangkut ilmu leak itu sendiri.

Ketika nanti terjadi sebuah keselarasan antara ilmu leak dan bukti – bukti ilmiah, disinilah akan terlahir satu generasi baru yang saya istilahkan dengan leak terdidik atau leak berpendidikan. Karena darah bali tidak bisa lepas dari ilmu leak, dan untuk tetap melestarikannya dalam dunia modern ini kita sebaiknya membawa ilmu ini kedalam ranah ilmiah agar dasar – dasar kearifan lokal yang telah ada dalam falsafah hidup orang Bali bisa dikembangkan untuk manfaat yang lebih banyak kepada umat manusia.

Satu tambahan terakhir, dari sumber yang bisa dipercaya saya mendapatkan penjelasan kalau pengetahuan orang tentang yoga di dunia ini, yang terlengkap adalah yoga yang ada di Bali, bahkan mahaguru yoga yang ada di india melengkapi pengetahuannya tentang yoga di Bali. Tapi justru yang terkenal yoga itu berasal dari india. Kenapa bisa demikian? kita tanya seberapa perduli masing – masing dari kita terhadap kebudayaan Bali.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Mari Berbagi :