Laki – Laki Dalam Perjuangan Perempuan

327 total, 1 today

Perempuan sekarang ini sedang hidup dalam dunia laki – laki, iya, dunia laki – laki yang telah membajak kesetaraan peran dan membentuk prilaku budaya Patriarkhi. Budaya dimana perempuan ditempatkan sebagai warga kelas dua. Warga yang dibatasi perannya oleh laki – laki dengan mengatasnamakan kodrat. Kodrat yang justru mengebiri hak – hak perempuan untuk menjadi setara dalam masyarakat.  Banyak perempuan yang mencoba mendobrak ini, banyak organisasi yang didirikan dengan misi membela hak – hak perempuan, banyak juga yang justru tenggelam dalam perjuangannya.

Anda tau apa hak perempuan? Mereka berhak yang sama dengan semua laki – laki. Mereka berhak untuk memilih dan terpilih dalam berbagai peran yang mereka inginkan, termasuk berhak atas jabatan dan penghormatan dari lingkungan sosialnya.

Laki – laki adalah makhluk yang dibesarkan oleh tingginya kehormatan. Perkelahian jalanan antara dua orang hingga tawuran antar kampung banyak yang disebabkan oleh ketersinggungan karena merasa direndahkan kehormatannya.

Bagi kebanyakan laki – laki, perempuan dipandang seperti properti yang bisa dimiliki. Perempuan yang sudah menjadi miliknya tidak boleh dimiliki atau diambil orang lain. Ini pandangan lumrah dalam masyarakat. Bagi laki – laki, ketika orang lain mencoba merebut perempuan miliknya sama dengan merendahkan kehormatannya. Kita tentu  pernah mendengar perkelahian dua orang hingga mengorbankan nyawa karena memperebutkan perempuan. Iya, berkelahi sampai mati untuk memperebutkan seorang perempuan. Begitu besar arti kehormatan itu untuk seorang laki – laki.

Disaat yang sama, rasa kepemilikan ini membuat laki – laki merasa berhak atas segala keputusan yang diambil oleh perempuan. Siapa yang boleh dijadikan teman, boleh tidaknya bekerja, dimana boleh bekerja, dan banyak keputusan lain yang seharusnya menjadi hak perempuan bisa dibatalkan oleh laki – laki. Pada beberapa kejadian, perempuan diibaratkan tidak memiliki mulut dan pikiran untuk berpendapat. Seberapa jernih-pun sebuah pendapat, bisa dibatalkan oleh laki – laki. Ini adalah pandangan umum, bahkan telah menjadi pakem di masyarakat. Jika perempuan bersuara dan menentang dianggap sebagai pembangkangan.

Kebanyakan laki – laki bersikap keras dan intimidatif atas pembangkangan. Kekerasan verbal hingga kekerasan fisik adalah respon umum yang terjadi atas pembangkangan. Laki – laki yang merasa otoritasnya direndahkan oleh pembangkangan akan melakukan berbagai upaya untuk menegakkan kembali otoritasnya, termasuk dengan kekerasan. Anda tau kenapa istilah ISTI (Ikatan Suami Takut Istri) begitu menyentil laki – laki? Karena dalam pandangan laki – laki, membiarkan diri mereka diatur oleh perempuan adalah perendahan atas otoritasnya terhadap keluarga.

Sikap laki – laki seperti ini terbentuk oleh budaya sejak ratusan tahun lamanya. Banyak yang memandang ini sebagai hal yang biasa, tapi banyak pula yang mulai memahami sikap ini sebagai ketidakadilan yang harus dibenahi. Disadari atau tidak, sikap laki – laki seperti ini adalah bottleneck dari semua perjuangan perempuan.

Dalam pengamatan saya, kebanyakan perjuangan perempuan berdiri atas dasar perebutan kembali hak – hak atas perempuan melalui pemberdayaan. Perjuangan ini menggunakan pendekatan melemahkan dominasi laki – laki dengan menguatkan perempuan. Perjuangan dengan pendekatan hanya pada satu sisi saja, sisi perempuan. Perjuangan ini melupakan bahwa dalam struktur masyarakat kita ada dua pihak yang menjadi korban atas konsep gender yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural yaitu laki – laki dan perempuan. Kedua pihak ini adalah korban yang harus diberi pemahaman tentang kesamaan hak.

Laki – laki tidak akan bisa memberikan apa yang menjadi hak perempuan tanpa dia sendiri mengetahui apa saja hak – hak yang bisa dia berikan. Perempuan tidak akan bisa menuntut hak-nya tanpa dia sendiri memahami hak-nya. Dua sisi ini yang sering terlupakan pada perjuangan perempuan sekarang ini.

Contohnya begini, kebanyakan laki – laki tidak tahu bahwa mengganggu, menggoda, perempuan di pinggir jalan, bahkan hanya dengan siul – siulan sekalipun bisa dianggap sebuah pelecehan karena ketidaknyamanan perempuan atas sikap ini. Kebanyakan laki – laki menganggap semua sebagai hal yang biasa dan lumrah dilakukan oleh banyak orang. Kelakuan pelecehan ini muncul karena ketidaktahuan. Sikap lebih baik mungkin akan ditunjukkan oleh laki – laki seandainya mereka paham.

Di sisi inilah pemahaman laki – laki atas hak – hak perempuan diperlukan. Penghukuman atas ketidaktahuan laki – laki tentang hak perempuan menurut saya hanya efektif pada ukuran jangka pendek dan tidak menyelesaikan akar masalah sebenarnya yaitu edukasi dan pemahaman laki – laki terhadap hak – hak perempuan dalam masyarakat. Gerakan jangka panjang untuk perjuangan ini sebaiknya ditekankan pada edukasi dan pemahaman kedua belah pihak yaitu laki dan perempuan.

Terakhir, perjuangan perempuan tidak akan bisa lepas dari peranan laki – laki di dalamnya. Perjuangan ini seharusnya selaras dengan memberikan pemahaman pada kedua belah pihak yang terlibat sebagai korban dari konsep gender yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural. Perjuangan yang berjalan pada satu sisi akan membawa pada adu kuat antara pemegang otoritas dalam budaya itu sendiri. Saya lebih menekankan kesetaraan sebagai sikap yang diperjuangkan oleh kedua belah pihak, yaitu laki dan perempuan menuju setara. Tanpa kedua belah pihak, saya rasa perjuangan ini akan berjalan timpang dan sulit untuk mencapai tujuannya.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

LEAVE A REPLY

sixteen + ten =