Kriminalisasi Gendo, Jalan Menuju Panggung Politik ala Pospera Bali?

TOTAL : 994 ( TODAY : 1)

Telah saya bahas sebelumnya kalau popularitas entah itu baik atau buruk adalah modal awal untuk bisa terjun dalam dunia politik. Ini sah dalam dunia politik. Tujuan mendapatkan popularitas untuk mempermudah pengenalan kepada masyarakat jika nanti bisa dipilih. Contohnya ada banyak sekali, sebut saja artis sinetron kita yang sekarang duduk sebagai anggota dewan, bahkan dengan minimnya kapabilitas yang dimiliki, masih juga bisa duduk sebagai anggota dewan. Ini berlaku untuk perorangan ataupun organisasi.

Hal yang sama dilakukan oleh Pospera Bali dengan mengangkat isu sara dengan dasar twit yang dituliskan oleh Wayan Gendo hanyalah jalan mencari polularitas. Sudut pandangnya bisa dibentuk seperti ini, Pospera bukanlah ormas terkenal di Indonesia, nama ormas ini hanya diketahui oleh kalangan tertentu. Kemudian ketika terlibat masalah dengan Teman Ahok, barulah nama Pospera mulai dikenal karena pemberitaan yang beredar di masyarakat. Artinya apa, Pospera sedang mencoba terkenal dengan mendompleng popularitas dari Teman Ahok.

Di Bali, Pospera mencoba untuk melakukan hal yang sama, dengan mendompleng popularitas ForBali. Semenjak kasus isu sara dihembuskan, masyarakat Bali mulai mengenal yang namanya Pospera Bali, berikut dengan orang – orang yang ada dibalik organisasi ini. Saya bahkan baru tahu kalau di Bali ada yang namanya Pospera, saya berfikir itu hanya ada di Jakarta saja, bahkan setelah kasus ini, saya jadi tahu kalau Pospera ada juga di beberapa daerah lain di Indonesia. Skandal bisa membuat terkenal, terlepas itu baik atau buruk, yang penting terkenal. Banyak artis menggunakan cara yang sama, dan memang terbukti ampuh untuk membuat sebuah nama yang populer di masyarakat.

Dalam pandangan saya, alasan diangkatnya isu sara ini kepermukaan adalah jalan strategis Pospera Bali untuk tetap eksis dalam panggung politik. Ada beberapa hal yang mendasari diangkatnya isu sara ini hingga ranah pengadilan, bahkan dengan menggunakan pasal karet yang ada di UU ITE.

Pertama, untuk mengejar popularitas. Seperti yang telah saya jelaskan diatas, popularitas yang mencuat bisa diawali dengan kontroversi atau skandal. Untuk saat ini, apapun yang bertentangan dengan gerakan Bali Tolak Reklamasi adalah batu loncatan yang sangat bagus untuk membangun popularitas, lihat saja Lanang Sudira, saya rasa seluruh Bali sudah mengenal dia. Pospera juga sudah membuktikan kalau popularitasnya memang meningkat secara signifikan semenjak bertentangan dengan gerakan Bali Tolak Reklamasi.

Apa tujuan Pospera Bali membangun popularitas sama seperti artis sinetron, tujuannya agar dikenal luas di masyarakat. Setelah terkenal, akan dilanjutkan dengan langkah – langkah politik selanjutnya, Silahkan dipersepsikan sendiri. Yang pasti, untuk saat ini Pospera Bali telah mendapatkan panggung dengan mendompleng popularitas gerakan Bali Tolak Reklamasi.

Kedua, Provokasi ForBali. Selama ini gerakan Bali Tolak Reklamasi telah 4 tahun lebih berjalan dengan aksi damai, aksi berkesenian, tanpa ada unsur kekerasan sedikitpun. Diperlakukan seperti apapun, gerakan Bali Tolak Reklamasi masih berjalan dengan baik dan damai. Tapi kita lihat, setelah langkah Pospera yang mengkriminalisasi Wayan Gendo, gerakan ini berubah. Mulai ada pembakaran ban dan unsur lain yang sebelumnya tidak pernah di lakukan oleh teman – teman gerakan Bali Tolak Reklamasi. Provokasi ini memang berhasil membuat gerakan ini berubah haluan.

Apa keuntungan bagi Pospera Bali ketika gerakan ini terprovokasi? Upaya untuk menambatkan stigma negatif untuk gerakan ini menjadi lebih leluasa. Beberapa hari setelah aksi bakar ban yang dilakukan oleh teman – teman penolak reklamasi, mulai bermunculan berita mengenai ancaman demo bagi pariwisata dan ekonomi Bali. Inilah sasaran yang hendak dituju, stigma negatif ini sangat berguna untuk menghancurkan image sebuah gerakan di mata masyarakat umum.

Situasi ini sangat – sangat tidak menguntungkan untuk sebuah gerakan, karena ada indikasi pembenturan antara masyarakat dengan pemerintah. Masyarakat yang berbenturan dengan pemerintah, sudah pasti tidak akan pernah baik untuk kedua belah pihak. Inilah salah satu tujuan dari sebuah provokasi. Saya berharap ini tidak benar – benar seperti yang saya bayangkan, dan semoga semua keadaan masih bisa dikendalikan dengan baik.

Ketiga, Affiliasi Politik. Popularitas yang saya jelaskan diatas ujungnya hanya satu yaitu panggung politik, untuk kemudian menjadi affiliasi politik. Awalnya mungkin sebuah affiliasi atau kerjasama saling menguntungkan dalam dunia politik, tapi setelah membesar dan memiliki kekuatan cukup, akan berujung satu yaitu pendirian partai politik itu sendiri.

Keempat, dana atau uang itu sendiri. Hal ini tidak akan bisa lepas dari sebuah ormas, karena dalam operasinya ormas memerlukan uang. Sangat berbeda dengan ForBali, dimana anggotanya membiayai pergerakan, sedangkan Pospera memerlukan pihak lain untuk membiayai pergerakan anggotanya. Tudingan – tudingan yang mengatas namakan pengusutan dana yang selama ini dihembuskan seperti telunjuk yang menunjuk, tapi lupa kalau tiga jari menunjuk ke diri sendiri.

Dalam pandangan saya, Pospera Bali hanya akan memanfaatkan ajang Tolak Reklamasi untuk keuntungannya sendiri baik dari segi popularitas maupun dana, hingga nanti tercapainya sebuah tujuan yaitu kekuatan politik. Sekali mengayuh dayung, dua tiga bahkan empat pulau terlampaui.

Masihkan ada yang berpandangan anggota pospera Bali sedang berusaha menyelamatkan pariwisata Bali? Silahkan ditarik kesimpulan ke diri masing – masing.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :