Kodrat Perempuan

TOTAL : 193 ( TODAY : 1)

Saya sering bertanya, siapa sih yang menentukan kalau kodrat perempuan itu hanya sebagai ibu rumah tangga dan bekerja di rumah mengurus keluarga? Apakah agama? Apakah budaya? Atau apakah insting alamiah dari setiap perempuan?.

Menurut saya, terjadi salah persepsi mengenai makna kodrat yang berhubungan dengan perempuan. Kodrat adalah sifat alamiah bawaan sejak lahir yang tidak mungkin dirubah. Lalu apa yang tidak bisa dirubah dari perempuan? Menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Itu saja kodrat sejatinya perempuan, tidak kurang, tidak lebih.

Banyak dari kita yang menyalah artikan antara kodrat dengan peran. Analogi berpikirnya seperti ini. Jika seorang perempuan dianalogikan pintar memasak, tapi kenapa chef terkenal justru di dominasi oleh laki – laki?. Jika perempuan dianalogikan lemah lembut dan cantik, tapi kenapa ada binaragawan perempuan, ada juga atlet MMA perempuan?. Jika perempuan dikatakan tidak bisa memimpin, tapi kenapa justru banyak perempuan yang sekarang memimpin perusahaan, bahkan counselor Jerman sendiri adalah seorang perempuan.

Peran bukanlah kodrat, peran pada awalnya hanyalah sebuah standar pembagian kerja menurut jenis kelamin, tanpa mengesampingkan atas hak masing – masing individu untuk diperlakukan sama dalam lingkungan sosialnya. Laki – laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk bersuara dan mengambil keputusan. Tapi seiring perkembangannya, peran justru melebar menuju pada dominasi satu jenis individu berdasarkan kelamin yang kemudian melahirkan budaya patriarki sekarang ini.

Dominasi laki – laki dalam budaya patriarki inilah yang melahirkan stigma perempuan menjadi masyarakat kelas dua, yang lebih kita kenal sebagai diskriminasi terhadap perempuan. Padahal kalau kita lihat lebih jauh, perempuan dan laki – laki tidaklah beda dalam hal peran. Apa yang bisa dilakukan oleh laki – laki, bisa juga dilakukan oleh perempuan, begitu juga sebaliknya. Justru menurut saya, perempuan yang bisa setara dengan laki – laki adalah perempuan yang hebat, karena perempuan dibatasi oleh kodrat yang tidak bisa mereka rubah sama sekali, sedangkan laki – laki tidak memiliki batasan kodrat apapun.

Budaya patriarki membentuk perempuan untuk tidak memiliki kemandirian hidup dan selalu bergantung terhadap laki – laki.  Hal ini terjadi secara turun temurun karena didukung tidak adanya kemampuan atau daya saing seorang perempuan untuk bisa menunjukkan eksistensi diri karena terbatasnya akses yang mereka miliki. Banyak perempuan justru hanya menerima keadaan ini. Tidak banyak dari perempuan yang mencoba mendobrak batasan ini. Dengung emansipasi justru hanya menjadi jargon semata, tanpa adanya tindakan nyata dari kaum perempuan.

Mungkin saya terlalu menggeneralisir, tapi dalam pengamatan saya, maraknya budaya cabe – cabean, prostitusi ABG, pernikahan dibawah umur, adalah bentuk ketidakperdulian perempuan atas perjuangan mereka terhadap emansipasi. Jika perempuan mau mendobrak dominasi laki – laki oleh budaya patriarki, jalan satu – satunya adalah perempuan harus bisa mandiri dan menunjukkan eksistensinya. Tanpa itu, perempuan akan selalu bergantung kepada laki – laki. Dan bait lagu “wanita dijajah pria sejak dulu” akan terus berlaku dalam lingkungan masyarakat kita.

Selamat Hari Kartini.

Ahh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :