Kepiting Melayu – Catatan Wawancara Prabowo – Rosi (Bagian 2)

281 total, 1 today

Tulisan ini adalah bagian kedua dari pembahasan mengenai wawancara yang dilakukan oleh Rosiana Silalahi dan Prabowo yang videonya bisa ditonton di : https://www.youtube.com/watch?v=v3gD4mmG108

Bagian pertama bisa dilihat di link berikut : http://bungloen.com/etika-kepemimpinan-catatan-wawancara-prabowo-rosi-bagian-1/

Cerita kepiting melayu yang diceritakan oleh Prabowo pada wawancara ini yang menarik bagi saya. Prabowo mengatakan kalau rumpun melayu memang selalu suka menjegal kawan. Rumpun melayu sifatnya seperti kepiting. Diceritakan kalau kepiting bisa naik 90 derajat, tapi kalau ada kepiting yang mau lolos, malah ditarik kembali oleh temannya.

Kalau kita amati di sekitar kita, saling menjelekkan antar tetangga, perkelahian oleh pelajar perempuan yang memperbutkan laki – laki atau sebaliknya, hingga kepada yang lebih besar di skala pemilihan DPRD dan lainnya memang kerap diwarnai oleh jegal menjegal antar teman. Yang pernah saya ketahui, jegal menjegal antar teman dalam momen politik kondisinya lumayan parah. Apalagi jegal menjegal antar musuh, lebih parah lagi.

Sepertinya jegal menjegal memang telah membudaya pada keseharian kita. Konotasi negatif yang melekat pada kata jegal tidak membuatnya dilarang, malah semakin membudaya dan dipersepsikan seolah legal untuk menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sering kita lupa pada norma kesusilaan yang berlaku di tengah masyakarat kita. Norma yang lebih mengutamakan cara – cara yang baik. Sebuah kebaikan kalau dicapai dengan cara yang tidak baik, maka hasilnya juga tidak baik.

Seperti yang diungkapkan oleh Prabowo, kalau memang sama – sama cinta Indonesia berarti kita bukan musuh. Jadi menurut saya, proses jegal menjegal seharusnya sudah tidak relevan dengan kecintaan terhadap Indonesia. Kalau memang benar cinta Indonesia, seharusnya mengedepankan proses yang konstitusional dalam mencapai tujuan. Seharusnya kita semua bahu membahu menjalankan tugas dan kewajiban kita masing – masing demi bangsa dan negara kita.

Istilah lover dan hater dimana yang satu memuji yang satu lagi menjatuhkan sudah dalam batas yang berlebih. Istilah ini banyak yang berujung kepada dendam satu sama lain. Proses demokrasi tidak akan pernah bisa sehat kalau didasari oleh rasa dendam. Proses demokrasi yang baik adalah check and balance, dimana  satu pihak menjalankan kebijakan hingga ke akar rumput, pihak lainnya mengawasi dan mengoreksi jika ada kekeliruan. Hanya dengan proses seperti ini sebuah negara bisa sehat dalam menjalankan pemerintahan dan proses demokrasinya.

Belakangan di media sosial sedang banyak – banyaknya orang yang mencoba menempatkan dirinya sebagai perpanjangan tangan dari instansi pemerintah. Ada yang mencoba menjadi polisi dengan menggunakan massa dan menyerukan untuk memenjarakan seseorang yang belum tentu bersalah. Ada yang menjadi hakim yang memutuskan seseorang bersalah tanpa proses pengadilan. Ada banyak lagi orang – orang yang mencoba memposisikan dirinya dan massa nya sebagai pengganti instansi pemerintah.

Proses ini bukanlah proses yang benar, proses inilah yang sering kita sebut dengan proses yang tidak konsitusional. Dalam proses hukum, kita sebaiknya percaya kepada institusi hukum, yaitu polisi dan pengadilan. Bukan dengan menjadi pengadil sendiri, atau polisi sendiri. Semua yang tidak sesuai dengan konstitusi mengandung resiko yang sangat besar. Biaya politik yang di keluarkan bisa sangat – sangat mahal kalau negara kita ini tidak mampu menjaga konstitusi.

Pemerintah juga harus bisa menjaga legitimasi dengan tidak mudah ditekan oleh massa. Karena yang terpenting bagi pemegang kekuasaan adalah legitimasi atau kepercayaan rakyat. Kalau rakyat sudah tidak percaya, sekuat apapun pemerintahan tidak akan bisa berjalan. Kalau massa terus dibiarkan atau dituruti, akan sangat mudah sekali mengatur pemerintahan tersebut. Termasuk ketika ada yang mencoba makar atau melakukan kudeta sekalipun, ujungnya harus ada legitimasi. Tanpa adanya legitimasi, kudeta atau apapun tidak akan pernah berhasil, bahkan berujung pada kudeta – kudeta lainnya.

Masalah yang ada di Indonesia sekarang ini menurut Prabowo adalah adalah elite politik kadang – kadang terlalu seenaknya. Asik dengan intrik – intrik sendiri, budaya bohong, budaya tipu, semua mau ditipu, rakyat pun mau ditipu. Ternyata rakyatpun tidak bodoh, apalagi sekarang hampir semua punya iphone, handphone, internet dimana – mana, jadi janganlah anggap rakyat kecil itu bodoh.

Pada beberapa keadaan di negara kita, Elite politik merasa diri boleh seenaknya. Sudah dapat kekuasaan, korupsi, harta kekayaan negara dikasi ke orang asing, ini yang membuat rakyat ini dongkol, mangkel. Setiap ada upaya memanasi jadi mudah, karena rakyat memang sudah dongkol, sudah tertekan.

Jika kita cerminkan pada keadaan yang terjadi sekarang ini, tugas – tugas yang seharusnya dijalankan oleh wakil – wakil rakyat untuk menjadi penyalur aspirasi rakyat justru mampet. Yang mereka dengar hanyalah aspirasi dan kepentingan mereka sendiri, itulah yang disebut dengan kebuntuan demokrasi. Suara rakyat tidak disalurkan oleh wakilnya sendiri.

Kebuntuan proses demokrasi inilah yang sering membuat rakyat menyuarakan aspirasinya sendiri dengan turun ke jalan. Demokrasi yang sudah tidak terjaga, demokrasi yang sudah tidak murni lagi, demokrasi harus dijalankan dengan baik tidak boleh rekayasa. Celakanya elite politik Indonesia ini sudah biasa dengan budaya rekayasa.

Demokrasi kita sedang dirusak, nyogok ini nyogok itu beli suara, ketua partai disogok. Budaya merusak demokrasi ini akhirnya membuat rakyat turun kejalan. Kalau rakyat percaya dengan DPRnya, dengan fraksi – fraksinya, rakyat juga nggak mau capek – capek turun ke jalan.

Rakyat kadang hanya digunakan sebagai alat oleh elite politik untuk mencapai kepentingannya. Mobilisasi masa bayaran adalah salah satu bentuk rekayasa yang seolah – olah menyuarakan suara rakyat tapi sebenarnya suara yang dibawa adalah kepentingan golongan tertentu. Peristiwa seperti ini kerap terjadi, inilah yang membuat kepentingan murni dari rakyat tidak tersalurkan.

Propaganda media bayaran yang menuliskan bukan keadaan sebenarnya juga menambah kondisi manipulatif seperti ini lebih masif. Suara – suara murni rakyat dari akar rumput justru tidak tersalurkan dengan baik. Budaya manipulatif seperti ini tidak akan pernah bisa berjalan kalau tidak ada yang mau dibayar untuk kepentingan golongan tersebut. Celakanya, mulai dari pemangku kepentingan, hingga kepada massa nya sendiri malah mau dibayar. Jadilah keadaan yang seharusnya tidak terjadi.

Demokrasi yang baik adalah demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Marilah kita semua menjaga proses demokrasi ini agar berjalan dengan baik untuk kemudian hasilnya bisa dinikmati oleh rakyat sendiri.

Bersambung ke bag 3

 

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

twelve − two =