Keluhuran budaya Bali justru punah termakan kaumnya sendiri

9,675 total, 1 today

Dalam cerita Sejarah, Babad, maupun Lontar yang beredar di Bali, ada banyak ajaran yang hendaknya kita kaji lebih dalam. Budaya Bali banyak mengajarkan kebaikan dan kebajikan yang berujung pada kebijakan cara berfikir.

Setiap Lontar atau Babad selalu didahului dengan penghormatan kepada Tuhan dan diiringi dengan permintaan maaf karena telah lancang menuliskan kalimat dalam sebuah lontar. Falsafah ini berdasar pada prinsip yang selalu di dengung – dengungkan oleh tetua Bali semenjak dahulu, “eda ngaden awak bise” kata lainnya adalah, jangan sekali – sekali pernah menganggap dirimu pintar. tapi kok saya menulis tanpa melakukan itu ya? Apa saya menganggap diri saya pintar?. Atau saya bukan orang Bali?. Saya jelaskan.

Sebenarnya berat untuk saya menuliskan materi yang seperti ini, karena ini sudah menyentuh ranah pribadi yang tidak bisa dinilai dari sudut pandang saya sendiri. Berapa banyak pun buku yang saya baca mengenai permasalah ini, tetap tidak ada dasar untuk saya bisa mencari mana yang benar dan yang salah, dalam hal ini, saya berbicara tentang budaya. Yang secara garis besarnya merupakan buah dari perkembangan prilaku manusia. Apapun yang tumbuh sekarang bukanlah merusak atau memperbaiki budaya, tapi itulah hal yang nyata dari budaya itu sendiri.

Budaya tentunya berkembang, termasuk dengan budaya tulis menulis, dari jaman prasasti hingga babad, dari jaman pergerakan hingga tulisan modern saat ini, semua telah mengalami perkembangan. Tapi satu yang tidak hilang, nilai dari budaya itu sendiri. Falsafah dasar dari budaya itu sendiri.

Lalu kenapa saya tidak menuliskan penghormatan kepada Tuhan dan tidak meminta maaf karena telah lancang menulis. Karena menurut saya falsafah tersebut mengajarkan kita untuk menulis yang baik dan benar. Dasar dan buktinya ada, dan kata – kata yang digunakan juga baik. Itulah wujud dari falsafah tersebut. Saya tidak mungkin bertahan dengan gaya tulis menulis jaman babad di jaman modern ini, karena yang saya tahu, yang membaca gaya menulis seperti itu kalangannya terbatas atau mungkin sudah meninggal.

Menulis di masa sekarang, mengikuti perkembangan jaman sekarang, tapi tidak meninggalkan nilai – nilai masa lalu yang ditanamkan oleh tetua kita. Saya tidak bermaksud menggurui, karena saya tahu kalau Lautan adalah ukuran pengetahuan, maka saya hanya cangkir kecil yang mungkin belum terisi penuh. Itulah kenapa saya mencoba untuk tidak menggurui tapi lebih mengutamakan kritik dengan dasar – dasar yang baik dan kata – kata yang baik, tanpa menghujat atau merasa paling benar.

“eda ngaden awak bise” dalam dunia tulis menulis modern ini, memiliki nilai menulis apa yang kamu tahu, tidak dilebih – lebihkan, dan tidak menggunakan dasar – dasar kebohongan, atau hoax. Melebih – lebihkan berarti “sok tau” atau “sok bise”. Apalagi kebohongan atau hoax, itu lebih parah lagi kondisinya.

Sampai disini paham ya kira – kira dengan maksud saya.

Budaya Bali adalah budaya yang luhur. Budaya yang selalu bertahan meskipun telah melewati banyak jaman. Kenapa bisa bertahan, karena tetua kita sangat cerdas mencerna inti dari budaya itu sendiri dan mengimplementasikanya dengan cara yang ada pada jaman itu sendiri.

Saya punya sedikit cerita mengenai ini.

Setiap hari saya melihat semakin banyak orang memakai gelang Tridatu, gelang dengan 3 warna, merah, hitam dan putih. Ada yang menggunakannya dengan berbagai bentuk, hingga yang terbaru, yang sudah dibentuk sebagai aksesoris dengan kemudahan pemasangannya. Saya sempat bertanya kepada beberapa orang, apa sih gelang Tridatu, dan kenapa harus pakai gelang itu. Jawaban umum yang saya terima bahwa itu adalah budaya Bali dan memang harus dilestarikan. Saya perjelas pertanyaan saya, Dalam setiap budaya Bali terkandung nilai yang ingin diajarkan oleh tetua kita, lalu apa nilai atau makna dari gelang Tridatu itu. Hampir semua menjawab sebagai perlindungan dari Ilmu Hitam. Sekarang saya geleng – geleng dengan diakhiri dengan tepok jidat.

Ada banyak fungsi benang Tridatu dalam setiap prosesi upacara Hindhu di Bali. Tapi pada umumnya Gelang Tridatu yang di gunakan oleh masyarakat memiliki makna sebagai simbol Trimurti yaitu Brahma, Wisnu. Siwa dalam konteks kebaikan dan kesadaran umat manusia. Dalam Lontar Agastya Parwa disebutkan, benang Tri Datu untuk manusia yakni Umat Hindu Bali digunakan sebagai sarana perlindungan dari kekuatan negatif. Sehingga manusia bisa terhindar dari hal-hal negatif dan bisa berfikir lebih bijaksana. Makna yang ingin disampaikan oleh leluhur kita mengenai gelang Tridatu ini adalah berfikir lebih positif dan bijaksana. Apakah tanpa gelang ini kita tidak bisa berfikir positif? Silahkan tanya ke diri anda masing – masing.

Mungkin makna supranatural terkandung dalam gelang Tridatu, tapi tidak serta merta sembarang gelang bisa memiliki kekuatan supranatural. Tentu ada prosesi upacara yang mendahului dan kalaupun ketika itu dilarang dipakai karena aturan bekerja, ya tinggal di lepas saja, sepulang kerja kan bisa dipakai lagi. Tidak usah terlalu kaku mengenai hal ini.

Waktu bekerja pada sebuah perusahaan di Bali, saya masih memakai gelang Genitri, dan menurut aturan perusahaan saya tidak diijinkan menggunakan aksesoris ketika bekerja. Pilihannya cuma dua, pertama lepas gelang, kedua lepas kantor. Karena saya masih memerlukan untuk bekerja disana, saya memilih untuk lepas gelang ketika bekerja, sepulang kerja ya saya kenakan kembali. Tidak ada masalah kan.

Saya mencoba berfikir positif disini. Ada aturan kantor yang harus saya patuhi dan saya memilih bekerja disana, ini bukan berarti kantor tidak menghormati budaya saya, tapi itulah aturan yang mereka terapkan secara menyeluruh untuk yang bekerja disana. Tidak terima diperlakukan seperti itu ya tinggal keluar aja dari kantor tersebut. kalaupun saya teriak – teriak untuk menutup kantor tersebut, untuk apa.

Gelang genitri hanyalah aksesoris dan simbol dari Siwa, tanpa gelang itu apakah Siwa nggak ada, rasanya terlalu dangkal memaknai ajaran hanya dari sebatas aksesoris. Begitu pula dengan gelang Tridatu, maknanya jadi semakin rendah ketika kita semua ribut hanya karena aturan perusahaan yang melarang penggunaannya, justru maknanya akan semakin baik ketika gelang itu bisa dipakai atau disimpan dalam dompet ketika bekerja dan dipakai lagi selepas bekerja. Semua masih bisa dilakukan dan dimaknai kalau kita berfikiran positif. Justru akan lebih banyak orang yang menggunakannya karena nilai positif dari gelang itu tercermin dari sikap anda sendiri.

Analogi berfikir saya sederhana, kita punya 24 jam dalam 1 hari, dan 168 jam dalam seminggu. Kalau gelang tersebut tidak diijinkan digunakan pada jam kantor, ini berarti 6 x 8 jam kantor, 48 jam. Jadi kalau disederhanakan, 168 – 48 = 120 jam untuk bisa saya menggunakan gelang tersebut. hampir 2/3 dari waktu yang saya punya untuk tetap menggunakannya. Jadi tidak masalah kan.

Sekali lagi saya tekankan, budaya Bali tidak hanya sebatas aksesoris atau yang terlihat, tapi ada makna yang terkandung didalamnya.  Budaya Bali bukanlah budaya yang fanatis. Lebih luas lagi, budaya Bali bukanlah budaya yang mempertahankan feodalisme, tapi budaya Bali adalah budaya yang menyesuaikan dengan kondisi jaman. Cara – cara kaku untuk menerapkan budaya itu sendiri akan menyebabkan kepunahan dari nilai – nilai budaya itu sendiri.

Ahhh.. nyiup kopi malu jak roko katih….

LEAVE A REPLY

twelve + four =