Karangan Bunga untuk Ahok

433 total, 1 today

Ada hal aneh yang terjadi di Jakarta belakangan ini, fenomena kiriman karangan bunga ke balai kota. Iya, banyak pendukung Ahok yang mengirim karangan bunga ke balai kota. Karangan bunga dengan pesan – pesan seksi dan lucu kepada pihak yang kalah dalam Pilgub Jakarta kemarin. Sebaliknya, pihak Anies sebagai pemenang Pilgub malah sepi. Jangankan kiriman karangan bunga, ucapan selamat pun minim pemberitaan, euphoria yang nyata dari pihak anies hanyalah nyinyir tentang karangan bunga yang dikirimkan pendukung Ahok.

Secara sederhana, kiriman karangan bunga adalah wujud kepedulian seseorang pada suatu hal, contohnya ketika peresmian kantor teman, ketika berduka cita, pernikahan teman dan lain lain. Kita merasa terpanggil untuk mengirimkan karangan bunga karena kita peduli. Kepedulian adalah salah satu bentuk kasih sayang terhadap sesama manusia yang secara langsung bisa dilihat melalui tindakan kita.

Lalu kenapa pihak Anies justru tidak karangan bunga sebagai wujud kepedulian pemilihnya?

Sejak awal, Pilgub Jakarta telah mengibarkan pesan “asal bukan Ahok” yang dibawa oleh politikus yang berseberangan dengan Ahok. Mulai dari gerakan “orang kita” yang digawangi oleh Ahmad Dhani, hingga “koalisi kekeluargaan” yang dibawa oleh 7 partai politik yang sejak awal berseberangan dengan Ahok. Bahkan pernah juga terselenggara konvensi gubernur muslim jakarta yang tujuannya memilih bakal calon gubernur yang beragama islam, yang kalau saya simpulkan sebagai bahasa politis dari pesan “asal bukan Ahok”.

Gerakan – gerakan tersebut telah banyak menelurkan nama bakal calon yang gagal menjadi calon gubernur, sebut saja Ahmad Dhani, Yursril Ihza Mahendra dan lain – lain. Sejak awal gerakan – gerakan ini sering berpindah – pindah dukungan, mulai dari mendukung Ahmad Dhani, ketika gagal, berubah menjadi mendukung Yusril, gagal lagi, berubah mendukung yang lainnya. Tidak ada konsistensi dari pihak mereka untuk mendukung satu nama, yang konsisten dari mereka hanyalah pesan “asal bukan Ahok”.

Pada putaran pertama Pilgub Jakarta, mereka mendukung Agus Harimurti Yudhoyono, ketika Agus tidak bisa melaju ke putaran ke-dua, mereka kemudian berubah dukungan ke pihak Anies Baswedan. Lagi – lagi dukungan mereka tidak pernah konsisten terhadap satu tokoh, mereka sepertinya tidak pernah perduli siapapun orangnya dan apapun programnya, yang penting dukungan mereka hanya untuk selain Ahok.

Pesan “asal bukan Ahok” yang dibawakan oleh mereka yang berseberangan dengan Ahok sejak awal, tidak membawa perhatian mereka menuju lawan – lawan politik Ahok, justru membuat perhatian mereka tetap tertuju pada Ahok. Pusat perhatian dari pendukung maupun lawan Ahok adalah Ahok sendiri. Tidak ada yang berubah, bahkan sejak awal diangkatnya Ahok menjadi Gubernur Jakarta menggantikan Jokowi.

Anies Baswedan mendapatkan dukungan bukan karena ketokohannya, melainkan hanya karena dia “bukan Ahok”. Berbeda dengan Ahok yang didukung karena ketokohannya. Inilah kenapa justru Ahok sebagai pihak yang kalah yang menerima banyak karangan bunga dibandingkan dengan Anies Baswedan sebagai pihak yang menang dalam Pilgub Jakarta.

Sekarang-pun ketika banjir karangan bunga memenuhi Balai Kota, mereka tidak mencoba untuk menandingi dengan membanjiri Anies dengan karangan bunga atau membanjiri Anies dengan ucapan selamat, atau aksi – aksi tandingan yang lain sebagai ekspresi kemenangan atas Anies yang mereka dukung pada Pilgub Jakarta. Mereka malah kembali ke tabiat awalnya, membawa Ahok tetap menjadi pusat perhatian dengan nyinyir terhadap karangan bunga dan mencoba menyebarkan berita hoax tentang karangan bunga tersebut.

Dari situasi ini saya berkesimpulan kalau pendukung Anies sebenarnya bukanlah pendukung Anies, mereka hanyalah pendukung yang “bukan Ahok”. Kreatifitas mereka hanya terbatas pada Ahok, artinya apapun yang dilakukan oleh Ahok, mereka haruslah berseberangan. Terlepas itu baik atau tidak, bermanfaat atau tidak.

Kondisi ini tidaklah baik untuk masuk dalam situasi politik yang sehat. Kondisi ini hanya akan melahirkan diehard fans dan diehard hatter. Tanpa perduli akan tujuan dari politik itu sendiri. Politik yang sehat seharusnya mengarah pada kemajuan, perbaikan dan pelayanan yang baik terhadap masyarakat, karena masyarakat-lah yang berkepentingan akan perbaikan yang dihasilkan oleh politik tersebut.

Kita semua adalah masyarakat yang memiliki kepentingan atas kemajuan yang dihasilkan oleh politik, sebaiknya kita tidak terjebak untuk masuk dalam lingkaran diehard fans dan diehard hatter yang hanya akan menghasilkan ketidaksehatan kondisi politik. Mari kita tetap menjaga kewarasan berpikir dengan memperhatikan kinerja, visi, misi dan hal – hal masuk akal lainnya, daripada kita berkiblat hanya sekedar pada penokohan semata.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

24 COMMENTS

  1. Hehehe lu siapa….kami warga Jakarta td suka dipimpin oleh gub non muslim apalagi non pribumi ditambah mulut jamban…..kami ikhlas memilih Anies sebab dia pandai berprestasi dan Islam sebab di DKI mayoritas Islam
    G usah bikin2 tulisan yg menghasut ….kami warga DKI bersyukur akhirnya kembali memiliki gub Muslim yg santun

  2. Made Bungloen…
    Lihat cm karangan bunga…
    Dimasjid2 dimasyarakat…pd hiporia takbiir kliling….potong kambing bareng dll.yg nggak diliput Media.
    Karangsn bungga yg pasti sandiwara belaka…pencitraan…seolah2….heedeh hati Gini msh percaya yg ky Gini toloool….amat.
    Yg ke balaikota ..ente lihat 99% etnis Ahok….buka matam loee…lebar2. Ini jg panggung sandiwara…Seolah..2.

  3. Kami umat muslim memang tidak memberi karangan bunga sebagai hadiah/ucapan selamat kepada Mas Anies dan Bang Sandi…
    Hadiah yg kami berikan kepada Mas Anies Sandi adalah Do’a tulus tanpa sembako…
    Karena Do’a jauh lebih berguna dari sekedar karangan bunga…

    Semoga Mas Anies Sandi senantiasa Sehat dalam lindungan Allah Swt… Aamiin

  4. Nek kalah wi yo ws ojo bengkel Wong seng legowo mbiyen jagoku bpk prabowo kalah q yo nrimo komen ngeneki seng marai Indonesia pecah opo Indonesia kowe opo q tok indonesia wi yo kabeh

LEAVE A REPLY

eight − 6 =