Kalender Sejuta Umat Karya Ketut Bangbang Gde Rawi

TOTAL : 1,717 ( TODAY : 1)

Ketut Bangbang Gde Rawi adalah penyusun kalender bali yang sekarang beredar luas di kalangan masyarakat Bali, baik yang tinggal di Bali maupun yang tinggal di luar Bali bahkan di luar negeri. Saya bisa membayangkan, tanpa kalender susunan beliau, masyarakat Bali akan kesulitan menentukan hari baik dan penanggalan untuk upacara keagamaan. Kalender Bali terbilang cukup rumit karena sistem penanggalannya menggunakan banyak konsep yang disatukan mulai dari ihwal wariga hingga ilmu filsafat Hindu.

Ketut Bangbang Gde Rawi lahir di Desa Celuk, Sukawati, Sabtu Pon Sinta 17 September 1910 sebagai anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan Jro Mangku Wayan Bangbang Mulat dan Jro Mangku Nyoman Rasmi.

Semenjak tahun 1929, Ketut Bangbang Gde Rawi sudah mulai tekun mempelajari ihwal wariga, adat, dan filsafat agama Hindu. Proses pembelajaran ini dilakukan dengan cara bertandang ke griya – griya, mencari lontar dan berdiskusi dengan peranda – peranda. Proses ini Beliau tekuni setelah berhasil menamatkan diri dari sekolah Goebernemen Negeri di Sukawati, dalam usia 19 tahun.  Di samping menekuni ilmu wariga, Beliau juga tertarik pada bidang seni tari dan seni rupa, seperti memahat dan melukis.

Beliau pernah menjadi perbekel di desa kelahirannya, Celuk pada awal 1940-an. Saat itulah, beliau sering dimintai untuk mencari hari baik untuk pelaksanaan upacara atau kegiatan adat lainnya. Lama-kelamaan, bakat beliau di bidang menentukan hari baik (padewasaan) mulai tumbuh dan tersiar di kalangan masyarakat luas sehingga beliau didesak oleh para tokoh adat dan agama se-Kabupaten Gianyar untuk menyusun kalender. Desakan itu ditolak dengan rasa rendah hati.

Atas dorongan Ida Pedanda Made Kemenuh, Ketua Paruman Pandita Bali-Lombok, dan hasil keputusan rapat – rapat sulinggih Bali Lombok antara 1948 – 1949 yang memberikan kepercayaan kepada beliau untuk membuat kalender Bali, akhirnya beliau mulai menyusun kalender Bali. Hasil karya beliau yang pertama dicetak penerbit Pustaka Balimas. Inilah kalender yang sekarang banyak beredar di masyarakat Bali. Banyak intelektual Bali mencoba menyusun kalender, tetapi sampai tahun 1980-an, kalender susunan Ketut Bangbang Gde Rawi yang populer dan banyak dijadikan pegangan oleh masyarakat karena isinya yang diyakini ketepatannya.

Yang khas dalam kalendernya adalah pemasangan foto diri yang mengenakan dasi dan kacamata. Foto berdasi itu adalah potret beliau sebagai anggota DPRD Propinsi Bali. Semula foto itu dipasang di kalender sebagai tanda pengenal semata, tetapi lama-lama menjadi merk dagang (trade mark). Kalender beliau tampil khas, pinggirannnya dihiasi dengan pepatran ukiran dedaunan, di atasnya tercetak gambar swastika simbol agama Hindu. Menurut Jro Mangku Nyoman Bambang Bayu Rahayu, cucu Ketut Bangbang Gde Rawi yang kini menjadi penerus penyusunan kalender, bentuk, bingkai, ilustrasi, susunan hari, potret diri dan nama penyusun kalender itu sudah dipatenkan sejak April 2002.

Pada tahun 1954, Ketut Bangbang Gde Rawi dilantik menjadi anggota DPRD Bali berkat keahliannya di bidang adat dan agama. Kecemerlangan beliau di bidang adat, wariga, dan agama Hindu juga membawanya menjadi dosen untuk mata kuliah “wariga” di Institut Hindu Dharma (IHD, kini Unhi) pada tahun 1972.  Tahun 1976, beliau juga mengabdikan diri di Parisadha Hindhu Dharma Pusat yang berkedudukan di Denpasar sebagai anggota komisi penelitian. Beliau juga menerbitkan beberapa buku, seperti Kunci Wariga (dua jilid, 1967) dan Buku Suci Prama Tatwa Suksma Agama Hindu Bali (1962). Ketut Bambang Gde Rawi meninggal 18 April 1989 dengan mewariskan pengetahuan tentang cara menyusun kalender Bali.

Bagi masyarakat Bali di Bali, dan mereka yang ada di daerah transmigran, termasuk yang menetap di luar negeri, kalender Bali sudah menjadi kebutuhan. Dengan menggantung kalender Bali di rumah, mereka dengan mudah bisa mengetahui hari khusus agama Hindu seperti purnama tilem, Galungan Kuningan, Nyepi dan sebagainya.

Mari Berbagi :