Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Panasnya kaum titik… titik…

496 total, 1 today

Beberapa kalangan tengah diramaikan dengan tanggapan nyinyir beberapa ahli terhadap isi pidato dari Megawati pada ulang tahun yang ke 44 PDI Perjuangan. Wajar saja mereka nyinyir dan seperti kebakaran jenggot, mereka adalah politisi yang merasa tersentil oleh pidato dari Megawati tersebut.

Berikut saya kutipkan isi pidato Megawati yang mereka permasalahkan.

Apa yang terjadi di penghujung tahun 2015, harus dimaknai sebagai cambuk yang mengingatkan kita terhadap pentingnya Pancasila sebagai “pendeteksi sekaligus tameng proteksi” terhadap tendensi hidupnya “ideologi tertutup”, yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Ideologi tertutup tersebut bersifat dogmatis. Ia tidak berasal dari cita-cita yang sudah hidup dari masyarakat. Ideologi tertutup tersebut hanya muncul dari suatu kelompok tertentu yang dipaksakan diterima oleh seluruh masyarakat. Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan.

Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak, dengan memaksakan kehendaknya. Oleh karenanya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan. Selain itu, demokrasi dan keberagaman  dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinekaaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini. Disisi lain, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup pun memosisikan dirinya sebagai pembawa “self fulfilling prophecy”, para peramal masa depan. Mereka dengan fasih meramalkan yang akan pasti terjadi di masa yang akan datang, termasuk dalam kehidupan setelah dunia fana, yang notabene mereka sendiri belum pernah melihatnya.

Rata – rata komentar nyinyir dari para politisi tersebut mempersoalkan mengenai Ideologi tertutup yang langsung dikaitkan dengan agama islam.  Untuk kita pahami bersama, ideologi dan agama adalah 2 hal yang berbeda. Orang bisa menganut agama apa saja dengan ideologi terbuka, orang juga bisa menganut agama apa saja dengan Ideologi tertutup. Untuk lebih jelasnya, contoh dari ideologi tertutup dalam sebuah negara dianut oleh Korea Utara, lalu agama apakah yang dianut oleh korea utara? Tentunya bukan Islam.

Ideologi tertutup kalau saya sederhanakan bisa didefinisikan sebagai Ideologi yang bersifat mutlak. Ideologi tertutup bukan merupakan cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat, melainkan cita-cita sebuah kelompok yang digunakan sebagai dasar untuk mengubah masyarakat. Apabila kelompok tersebut berhasil menguasai Negara, ideologinya itu akan dipaksakan pada masyarakat. Nilai-nilai, norma-norma, dan berbagai segi kehidupan masyarakat akan diubah sesuai dengan ideologi tersebut.

Ideologi tertutup bersifat totaliter, artinya mencakup/mengurusi semua bidang kehidupan. Karena itu, ideologi tertutup ini cenderung cepat-cepat berusaha menguasai bidang informasi dan pendidikan, sebab, kedua bidang tersebut merupakan sarana efektif untuk mempengaruhi perilaku masyarakat. Pluralisme pandangan dan kebudayaan ditiadakan, hak asasi tidak dihormati, menuntut masyarakat untuk memiliki kesetiaan total dan kesediaan untuk berkorban bagi ideologi tersebut. Isi ideologi tidak hanya nilai-nilai dan cita-cita, tetapi tuntutan-tuntutan konkret dan operasional yang keras, mutlak, dan total.

Kalau kita pahami, arti dan pengertian dari ideologi tertutup tersebut, coba saja hubungkan dengan Islam, apakah relevan kalau Islam di definisikan sebagai ideologi tertutup? Saya rasa umat Islam Indonesia sudah cukup cerdas untuk memahami bahwa Islam tidak relevan dengan Ideologi tertutup.

Dalam pandangan saya, Tujuan para politisi kebakaran jenggot tersebut langsung mengaitkan ideologi tertutup dengan Islam adalah untuk membenturkan Islam dengan Pancasila. Padahal yang dimaksudkan dalam pidato Megawati tersebut adalah orang atau sekelompok orang yang menganut ideologi tertutup dan belum tentu agamanya Islam. Para politisi tersebut hanya berusaha untuk membawa umat Islam masuk ke ranah politik dan seolah – olah mereka sedang membela Islam, padahal mereka sedang mempolitisir dan mencoba membenturkan Islam dengan Pancasila.

Pernyataan para politisi kebakaran jenggot tersebut hanyalah wujud dari ketakutan mereka akan kebangkitan Pancasila sebagai ideologi yang akan melibas ideologi tertutup yang sedang coba mereka terapkan di Indonesia. Kita semua hendaknya bersikap lebih cerdas dan tidak mudah terprovokasi oleh pernyataan para politisi kebakaran jenggot yang seolah – olah pahlawan padahal mereka bertujuan untuk merongrong persatuan dan kebhinekaan yang sudah kita pertahankan sejak awal bangsa ini berdiri.

Kita adalah masyarakat yang ber-Pancasila, UUD 1945, dan ber-Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih…

Mari Berbagi :

LEAVE A REPLY

12 + four =