Jualan SARA Cara Termudah Merangkul Kaum Titik Titik

529 total, 1 today

Melihat kondisi yang terjadi di dalam negeri maupun situasi global yang terjadi termasuk yang terbesar adalah peristiwa kemenangan Trump dalam pemilihan Presiden US, saya menilai masyarakat dunia secara umum memang sedang terbagi menjadi 2 bagian.

Bagian pertama yang saya sebut dengan kaum moderat yang sedari dulu mencoba melepaskan identitas termasuk SARA dan menilai dari kemampuan seseorang dalam menjalankan kewajiban dari jabatan yang disandangnya, sedangkan bagian kedua adalah bagian yang memandang identitas adalah tolak ukur dari baik buruknya seseorang. Meskipun identitas yang sering kita pahami hanya sebatas kostum atau topeng, tapi ada banyak yang melihat identitas ini sebagai sesuatu yang berbeda, sebagai takaran kemampuan atau keahlian.

Mari kita bahas kenapa ini bisa terjadi.

Dalam pandangan saya, sejak awal kita semua mengenal istilah orang – orang yang berpegang teguh pada kebudayaan dan ajaran leluhurnya, dan cenderung ketakutan akan punahnya budaya warisan leluhur kalau ada kebudayaan lain yang masuk. Kebudayaan lain ini saya sederhakan dengan istilah budaya asing.

Kaum ini dalam pengamatan saya cenderung untuk anti pada perubahan, bahkan cenderung menolak adanya kebudayaan baru yang merupakan pengembangan atau kolaborasi atas budaya asli dengan budaya asing. Kalau saya istilahkan penolakan ini sebagai sebuah ketakutan, karena kaum ini tidak ingin terusik akan posisinya yang sudah nyaman dengan apa yang bertahun – tahun mereka jalankan.

Ketakutan kaum ini melingkupi banyak hal, mulai dari ekonomi, hingga keamanan, bahkan pada hal – hal yang berbau penguasaan atas sebuah bangsa oleh bangsa lain yang sudah sangat tidak dimungkinkan dalam dunia seperti sekarang ini. yang lebih lucu adalah masih banyak yang percaya akan ancaman seperti ini.

Sebagian dari masyarakat kita ada yang berjalan dengan lebih luwes, ada yang memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dari kaum yang lainnya. Kemampuan adaptasi yang saya maksudkan adalah kemampuan untuk menyesuaikan kebudayaan asli dengan apapun kemajuan yang ada. Dari sini muncullah pemikiran baru, untuk tetap menjaga inti dari budaya tersebut dan memasukkan kebudayaaan lain yang lebih sesuai dengan keadaan yang berlangsung saat ini.

Kaum ini memiliki pemikiran yang lebih logis, pemikiran yang berdasarkan realita yang terjadi. Semua berdasarkan fakta dan data yang bisa dijelaskan secara logika. Ada tolak ukur dari tiap – tiap kejadian yang ada dan ada standar keilmuan yang bisa menjelaskan ini semua.

Awal mulanya, kondisi atau keadaan ini tidak berimbang, kalau boleh saya sederhanakan, ada berat sebelah antara satu dan lainnya. Tapi kini, telah terjadi perimbangan satu sama lain. Saya asumsikan, jumlah masyarakat yang terikat akan identitas dengan masyarakat yang moderat cenderung seimbang, atau boleh dibilang sama.

Inilah keadaan yang sedang melanda indonesia, bahkan di dunia.

Tolak ukurnya adalah riuhnya masalah politik di negeri ini. Masih banyak berkeliaran jargon – jargon tentang antek asing, atau ketakutan akan cengkraman bangsa asing atas negara kita. Hingga politik yang menggunakan SARA sebagai bahan jualan. Di sisi lain, ada juga yang sedang mencoba mendobrak itu semua dengan menjual prestasi, menjual hasil kinerja.

Meskipun tidak secara langsung bertentangan, tapi yang tampak di permukaan adalah pertentangan akan keduanya. Yang jualan SARA selalu menggunakan SARA untuk memojokkan yang berjualan prestasi, sedangkan yang berprestasi mencoba berdiri tegak tanpa menyentuh SARA untuk membantah tapi, jalannya malah terganjal SARA.

Tolak ukur yang lebih besar adalah Brexit di Inggris dan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat. Komoditas yang dijual keduanya adalah SARA. Komoditas termudah dan laris untuk dijual saat ini dalam dunia perpolitikan dunia. Seminim minimnya prestasi seseorang, masih bisa menjadi politisi dengan kendaraan SARA. Tapi ingat, jalan ini adalah jalan yang berbahaya, karena dari dua peristiwa Brexit dan kemenangan Trump, justru kericuhan di tingkat masyarakat-lah yang ditimbulkan.

Bahasa sederhananya, politisi yang jualan SARA akan tidur nyenyak dan menikmati kemenangannya, sedangkan rakyatnya berdarah – darah saling memusuhi di bawah.

Jualan prestasi itu sangat sulit, karena harus bertentangan dengan banyak arus yang telah lama bercokol dalam dunia perpolitikan Indonesia, bahkan dunia. Untuk bisa berprestasi, politisi harus memiliki trobosan untuk bisa dibuktikan kepada masyarakat bahwa terobosan itu berhasil dan mensejahterakan masyarakat. Diperlukan kerja keras dan ketepatan pengetahuan untuk bisa berjalan pada jalur ini. Diperlukan kemampuan dan kekuatan mental seorang politisi untuk bisa bergulat pada kelompok ini, oleh karena itu, sedikit sekali kita lihat orang – orang yang bisa bertahan dengan berjualan prestasi.

Bagi masyarakat, orang – orang yang berprestasi ini-lah yang sedang banyak diperlukan untuk membenahi daerah mereka. Sayangnya orang – orang seperti ini sangat mudah dijegal oleh isu – isu SARA.

Sejarah di Indonesia baru akan dimulai ketika pemilihan gubernur Jakarta nanti, kita akan bisa menilai manakah yang lebih diminati oleh masyarakat, antara yang berjualan SARA atau yang berjualan kinerja dan prestasi.

Saya masih berharap dan masih optimis dengan masyarakat yang berbeda dari kecenderungan masyarakat dunia, saya masih berharap perubahan itu memang dimulai dari Indonesia, dimana kinerja dan prestasi berdasarkan kemampuan-lah yang dihargai daripada sekedar identitas dalam bentuk SARA.

Ahhh… nyiup kopi malu jak roko katih.

Please follow and like us:

LEAVE A REPLY

nine + 10 =